Bibliotika

Pilihan Redaksi

Dampak Positif Rutin mengonsumsi Buah-buahan

Dampak Positif Rutin mengonsumsi Buah-buahan

BIBLIOTIKA - Buah adalah sumber gizi, vitamin, mineral, dan aneka nutrisi lain yang dihasilkan oleh alam. Karenanya, berbeda dengan makanan olahan pabrik, buah jauh lebih alami. Aneka nutrisi yang terkandung dalam buah memiliki banyak manfaat bagi tubuh, meliputi kesehatan, kebugaran, kecantikan, hingga meningkatkan mood dan kemampuan berpikir.

Dengan semua kandungan nutrisi yang dimilikinya, buah identik dengan orang sehat. Kebanyakan orang sehat dan bugar rata-rata penyuka buah. Kenyataannya, buah memang memberi dampak positif pada mereka, dan berikut ini di antaranya.

Tubuh lebih ramping

Penelitian menemukan bahwa mengonsumsi buah-buahan dapat membantu menjaga berat badan seseorang tetap seimbang atau ideal. Misalnya buah bluberi. Meski hanya dimakan seminggu sekali, mengonsumsi bluberi segar dapat menghilangkan 20 ribu kalori dalam setahun. 

Pencernaan lebih lancar

Buah-buahan mengandung air dan serat tinggi, yang merupakan mineral penting yang dibutuhkan tubuh. Di antara fungsi penting air dan serat dalam buah adalah menjaga kesehatan pencernaan. Karenanya, orang yang rutin mengonsumsi buah-buahan bisa dibilang tidak pernah mengalami masalah dengan pencernaan.

Untuk mendapat manfaat tersebut, sebaiknya konsumsilah buah dalam bentuk utuh sebagai buah segar, agar nutrisi di dalamnya tetap terjaga dan dapat diserap tubuh secara optimal.

Sistem imun lebih kuat

Sistem imun atau kekebalan tubuh adalah benteng yang dibutuhkan tubuh untuk menahan serangan penyakit, entah dari virus, bakteri, atau lainnya. Meski tubuh secara alami membangun sistem imun, namun pertahanan itu akan jauh lebih kuat jika ditunjang dengan rutin mengonsumsi buah-buahan.

Buah-buahan memiliki kandungan antioksidan yang berfungsi menjaga sistem kekebalan tubuh. Hasilnya, tubuh lebih mampu menahan serangan penyakit, yang artinya lebih sehat dan tidak mudah sakit. Selain itu, buah-buahan juga mengandung aneka senyawa penting yang juga mampu menangkal berbagai penyakit berat seperti jantung dan kanker.

Lebih bugar atau lebih cantik

Selain membantu meningkatkan dan memperkuat sistem kekebalan tubuh, antioksidan pada buah-buahan juga memberi manfaat kecantikan bagi tubuh. Antioksidan memiliki kemampuan melancarkan sirkulasi darah, sehingga aliran darah dalam tubuh lebih lancar di permukaan kulit. Hal itu menjadikan kulit tampak lebih sehat, lebih bugar, dan lebih cantik.

Lebih berenergi

Buah-buahan mampu memberi asupan energi instan untuk tubuh, dalam bentuk yang alami. Karenanya, jika Anda termasuk orang yang aktif sepanjang hari, mengonsumsi buah-buahan bisa dijadikan pilihan untuk menunjang tubuh Anda selalu berenergi. Mengonsumsi buah-buahan tentu jauh lebih baik daripada Anda mengonsumsi minuman penambah energi atau suplemen semacamnya.

Baca juga: Tips Memaksimalkan Manfaat Buah-buahan

Tips Memaksimalkan Manfaat Buah-buahan

Tips Memaksimalkan Manfaat Buah-buahan

BIBLIOTIKA - Buah adalah makanan alami yang telah lama diketahui sebagai nutrisi dan sumber gizi yang baik, yang dibutuhkan untuk tubuh sehat. Karenanya, kita pun disarankan untuk rutin mengonsumsi buah, setidaknya lima porsi atau sekitar setengah cangkir.

Penelitian menemukan, rutin mengonsumsi buah-buahan setiap hari dapat melindungi tubuh dari berbagai penyakit, dari yang ringan sampai yang berat, dari masalah jantung sampai penyakit kanker.

Pertanyaannya, bagaimana cara mengonsumsi buah yang baik? Selama ini, banyak orang biasa mengonsumsi buah sebagai “pencuci mulut”. Karenanya, kebanyakan orang pun makan buah setelah makan berat, semisal usai makan siang. Padahal, cara itu bisa dibilang justru tidak baik, karena manfaat buah jadi tidak maksimal.

Cara terbaik mengonsumsi buah adalah dengan memakan buah tanpa ditemani makanan lain. Karena buah akan membantu sistem pencernaan untuk berfungsi maksimal, jika dimakan tanpa tambahan asupan lain.

Buah mudah dicerna oleh tubuh, dan mudah dipecah untuk menjadi nutrisi oleh sistem pencernaan tubuh. Karena itu, Anda harus selalu makan buah di waktu yang tepat. Saran terbaik, makanlah buah sebelum Anda membutuhkan energi, semisal pada waktu pagi hari atau sebelum Anda makan siang.

Makan buah pada pagi hari dianggap tepat, sehingga Anda perlu mengonsumsi buah sebelum memulai aktivitas. Buah mengandung fruktosa yang tinggi, yang akan membantu tubuh Anda meningkatkan energi setelah tidur berjam-jam. Selain itu, buah juga membantu memberi energi yang dibutuhkan tubuh untuk beraktivitas. Untuk konsumsi pagi, Anda bisa memilih apel, jeruk, pisang, melon, atau buah beri, karena buah-buahan tersebut memiliki indeks glikemik yang sangat rendah.

Selain pagi hari, waktu yang juga tepat untuk mengonsumsi buah adalah sebelum makan siang, bukan setelah makan siang. Sekitar satu atau dua jam sebelum makan siang, Anda bisa makan buah terlebih dulu. Hal itu akan memberi waktu yang cukup bagi tubuh untuk bersiap mencerna makanan selanjutnya. Cara ini juga menghindarkan Anda dari masalah perut kembung atau semacamnya.

Pagi dan siang sebelum makan siang tampaknya waktu terbaik untuk mengonsumsi buah, sekaligus untuk memaksimalkan manfaat buah yang kita konsumsi. Di sela-sela waktu itu, Anda juga boleh rutin mengudap buah, karena buah adalah camilan yang sehat. Karenanya, Anda bisa mengganti keripik kentang dengan potongan buah segar.

Baca juga: Buah-buahan Paling Mahal di Dunia

10 Film Hollywood Terburuk, Gagal, dan Rugi Besar (Bagian 2)

10 Film Hollywood Terburuk, Gagal, dan Rugi Besar

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (10 Film Hollywood Terburuk, Gagal, dan Rugi Besar – Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan daftar lebih lengkap, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

5. Disaster Movie (2008)

Ketika IMDb menyusun daftar film terburuk pada 2009, Disaster Movie langsung menduduki peringkat satu.

Jason Friedberg dan Aaron Seltzer sepertinya belum juga kapok. Meskipun film-film parodi mereka selalu mendapat reviu jelek dari media dan kritikus film, duo sutradara itu tetap lanjut memproduksi film parodi lain. Bahkan setelah masuk nominasi Razzie Award (penghargaan setingkat Oscar untuk film-film terburuk) pun, Jason dan Aaron tetap cuek.

Ya, dua pria itu adalah sosok di balik film-film parodi Hollywood seperti Scary Movie 1-4, Date Movie, Epic Movie, dan Meet The Spartans.

Setelah Epic Movie, Disaster Movie yang kena batunya. Film yang dirilis di Amerika pada 29 Agustus 2008 itu langsung menduduki posisi 1 di IMDB Bottom 100, yaitu daftar film dengan rating terburuk berdasarkan reviu dan pilihan pembaca situs film terbesar di dunia tersebut.

Sempat jadi nominasi Razzie Awards untuk Worst Screenplay, Disaster Movie berhasil menggeser The Hottie and The Nottie, film yang dibintangi oleh Paris Hilton, yang sempat menduduki posisi 1 di daftar ini sejak awal 2008. Setelah itu, The Hottie and The Nottie menempati urutan ke-14. Secara keseluruhan, cuma ada 2 film baru keluaran 2008 yang masuk daftar ini, selain Disaster Movie dan The Hottie and The Nottie.

6. Speed Racer (2008)

Wachowski Bersaudara mengeluarkan dana sangat besar untuk film live action adaptasi kartun Jepang ini, dan ternyata mereka tak mendapatkan keuntungan yang sebanding. Justru Kritikus menyorot hampir semua aspek dalam film, mulai dari penggunaan CGI yang berlebihan, soundtrack yang buruk, hingga adegan mengemudi yang tak penting.

Jadi, dalam aspek visualisasi, sungguh tidak jelas arah filmnya—entah dimaksudkan sebagai animasi, nyata, atau kartun. Film ini pun mengalami kerugian 75,8 juta poundsterling atau sekitar Rp 1,10 triliun.

7. The Last Airbender (2010)

Tak ada kata lain untuk film ini, selain kegagalan total. Sebuah pencapaian yang sangat menyedihkan untuk sineas sekelas Night Shyamalan, yang pernah memproduksi film-film berkualitas semacam The Sixth Sense dan Signs. Semua aspek dalam film ini sangat menyedihkan. Shyamalan, yang juga menulis naskahnya, tidak mampu mentranformasikan seri animasinya ke layar lebar.

Seri animasinya, yang memiliki kisah sederhana dan jelas, justru dibuat membingungkan dan serba tergesa-gesa. Alur plotnya yang sangat lemah “disempurnakan” oleh dialog-dialog buruk, seperti ditulis penulis amatir.

Kegagalan The Last Airbender membuktikan memang tidak mudah mentranformasi film animasi ke film live action. Sebelumnya, Dragon Evolution juga bernasib sama. Apa artinya setting yang megah serta efek visual yang mahal, jika tidak didukung cerita yang layak? Semuanya jadi tampak serba artifisial.

Dalam konteks pencapaian bahasa film untuk sineas sekelas Shyamalan, serta bujet produksi yang besar, film ini bisa dibilang film terburuk yang pernah diproduksi Hollywood sejauh ini.

8. Sucker Punch (2011)

Film ini bercerita tentang seorang gadis muda yang disia-siakan ayah tirinya. Kegagalan film ini terletak pada gaya penceritaan. Sang sutradara, Zack Snyders, sangat terobsesi dengan pengambilan gambar slow-motion. Pada cuplikan film, teknik slow-motion terlihat mengesankan. Tetapi, pada film, cara ini membuat penonton langsung bosan.

Alhasil, ketika Sucker Punch dirilis di Amerika, banyak yang kurang suka. Film ini pun mendapat respons negatif, khususnya dari para kritikus. Perolehan di tangga box office pun jeblok. Padahal, mengingat materi yang dibeberkan melalui trailer-nya, apa yang menjadi sajian dalam Sucker Punch sangat menjanjikan.

Premisnya cukup simpel; lima jagoan wanita yang siap menghajar musuh-musuhnya dengan gaya penuturan ala 300 dan Watchmen. Tapi kenyataan filmnya sungguh menyesakkan dada penonton.

Selain itu, eksekusi cerita juga rentan cercaan. Banyak yang mengkritik perkembangan karakter di film terasa dangkal. Belum lagi Snyder mengakhiri film ini dengan ending antiklimaks yang terkesan membohongi penonton, dan menambah poin untuk semakin tidak menyukai film ini. Tidak adanya batasan antara realita dan fantasi juga membuat hampir keseluruhan cerita menjadi absurd.

Film ini menghabiskan biaya 82 juta dolar, namun hanya memperoleh pendapatan kotor 89 juta dolar.

9. John Carter (2012) 

Disney hampir selalu sukses dalam membuat film. Tetapi, musibah mengejutkan menimpa raksasa perfilman Hollywood tersebut saat film John Carter garapan Andrew Stanton rugi besar saat dirilis.

Film aksi fiksi-ilmiah John Carter gagal total di mata kritikus dan penonton. Film tersebut hanya berhasil meraup 210 juta dolar dari peredaran di seluruh dunia. Jumlah tersebut jauh di bawah biaya pembuatan yang mencapai 250 juta dolar.

Tampaknya sudah ditakdirkan gagal dari awal, dengan anggaran membengkak selama syuting, John Carter adalah bencana yang sempurna. Awalnya, film ini berjudul “John Carter Of Mars”, namun Disney khawatir penonton mungkin tertukar dengan film mereka sebelumnya yang juga mengalami kegagalan, “Mars Needs Moms”. Maka judul pun diubah menjadi lebih pendek, hanya “John Carter”.

Perubahan nama itu ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Film John Carter tetap sangat buruk, dan Disney merilis pernyataan, "Kami memperkirakan film ini menghasilkan kerugian operasional sekitar 200 juta dolar (sekitar Rp1,9 triliun)."

John Carter adalah film petualangan yang diproduksi Disney bersama Illuminationa Entertainment. Film ini dibuat dengan bujet besar yang mencapai 250 juta dolar, lalu dipublikasikan dengan sangat baik melalui jaringan Walt Disney yang sangat besar. Sayang, John Carter dianggap sebagai salah satu produk gagal Disney.

Meski memiliki fans fanatik, tetap saja John Carter tak mampu naik ke puncak box office, meskipun ditayangkan di bulan-bulan ketika tak banyak pesaing. Bahkan untuk menyaingi film animasi The Lorax saja, John Carter tak sanggup.

10. Dredd (2012)

Film yang dibintangi Karl Urban sebagai penegak keadilan, Dredd, gagal di Amerika Serikat. Meskipun dibuat 10 kali lebih baik dari pendahulunya, film ini terhitung gagal secara pendapatan maupun kualitas.

Dengan bujet (uniknya) setengah dari versi 1995, Karl Urban mengemban tugas menjadi sosok Judge Dredd. Urban menjanjikan sosok Dredd yang lebih setia dengan versi komiknya.

Namun, film ini mengalami kerugian 45 juta dolar (sekitar Rp430 miliar), karena hanya mendapatkan 85 juta dolar (sekitar Rp820 miliar), lebih sedikit dari versi 1995 yang dibintangi Sylvester Stallone. Dredd seharusnya berhasil karena adaptasi dari komiknya yang bagus, dan karena akting Karl Urban. Sayang, kegagalan Dredd mengakhiri cerita karakter itu di layar lebar, mengecewakan penggemar setia yang ingin melihatnya.

Baca juga: The Viking, Film Paling Mematikan Dalam Sejarah

10 Film Hollywood Terburuk, Gagal, dan Rugi Besar (Bagian 1)

10 Film Hollywood Terburuk, Gagal, dan Rugi Besar

BIBLIOTIKA - Pembuatan film membutuhkan biaya besar, sekaligus waktu yang tidak sebentar. Sebagai proyek besar, ada banyak orang yang terlibat di dalamnya, dari aktor dan aktris yang terlihat di layar, sampai para pekerja dan orang-orang di balik layar. Karena melibatkan sumber daya dan biaya yang besar, film pun diharapkan bisa menghasilkan keuntungan yang sama besar.

Sayang, meski ada banyak film yang memang mampu mendatangkan pemasukan atau keuntungan sangat besar, nyatanya ada pula film-film yang hanya “impas” atau tidak memberi keuntungan apa pun. Lebih buruk, ada film-film yang justru rugi besar—pendapatan yang diperoleh lebih sedikit dari biaya yang telah dikeluarkan untuk memproduksinya.

Kerugian sebuah film bisa disebabkan banyak hal, namun faktanya film-film yang mengalami kerugian adalah film-film yang dicap buruk, baik oleh penonton film atau pun oleh para kritikus. Berikut ini adalah 10 film Hollywood yang dianggap buruk, gagal di pasaran, dan mendatangkan kerugian terbesar.

1. Batman & Robin (1997)

Batman and Robin dibintangi George Clooney, dan status Clooney sebagai aktor kelas Oscar ternyata tak membuat Batman and Robin jadi berkelas. Film yang terinspirasi komik petualangan manusia kelelawar, Batman, ini dirilis pada 1997. Film ini juga dibintangi Arnold Schwarzenegger, Chris O'Donnell, dan Uma Thurman.

Uang 140 juta dolar dihabiskan untuk membuat film ini, namun hasilnya bukan pujian, melainkan cercaan. Film ini disalahkan karena nyaris mematikan daya tarik waralaba film Batman yang melegenda.

Para peserta jajak pendapat di Empire US juga mencela kostum Batman yang dikenakan Clooney, dan kostum pemeran lain yang begitu ketat. Kostum itu dianggap terlalu menonjolkan anatomi tubuh.

Tak kalah memprihatinkan adalah skripnya yang dianggap berlebihan. Penambahan superhero baru, si Batgirl, yang terkesan dipaksakan keberadaannya, semakin menambah buruknya film. Sebegitu buruk, Warner Bros sampai tidak mau lagi meneruskan film ini. Karena hasilnya terlihat seperti dunia mainan berwarna-warni yang terlihat mahal sekaligus murahan.

2. Battlefield Earth (2000) 

Jika berbicara tentang film yang memiliki kualitas buruk, Battlefield Earth seakan-akan sudah menjadi 'ikon'. Saat perilisan perdana pada 12 Mei 2000, film ini bahkan langsung dicap buruk oleh para kritikus film.

Bahkan Roger Ebert, dari Chicago Sun-Times, mengibaratkan menonton Battlefield Earth seperti menaiki bus yang penuh orang yang tidak pernah mandi. Film ini juga mengalami Box Office Bomb, hanya mendapatkan 29 juta dolar dari anggaran produksinya yang sebanyak 73 juta dolar.

Saat ajang Golden Raspberry Award (penghargaan untuk film yang dianggap buruk), Battlefield Earth mampu mengalahkan rekor yang dipegang oleh Showgirls, dengan mendapat total delapan nominasi, dan menang tujuh, di antaranya Film Terburuk, Sutradara Terburuk, Naskah Terburuk, dan Aktor Terburuk.

Battlefield Earth memang pantas dimahkotai sebagai film terburuk sepanjang sejarah. Baik dari segi produksi, penyutradaraan, hingga hasil Box Office-nya betul-betul gagal total.

Salah satu yang paling banyak dikritik dari Battlefield Earth adalah segi sinematografinya. Giles Nuttgens, yang membuat film ini, mengaku menggunakan sisi kamera yang berlebihan dan miring dalam Battlefield Earth untuk membuat film terlihat 'mahal', karena Battlefield Earth adalah film termurah yang pernah dia kerjakan. Film Nuttgens rata-rata berbiaya di atas 50 juta dolar.

Juga tidak dilupakan akting para pemain yang sama mengerikan dengan sinematografinya. Jika pembuatan dan akting sudah sedemikian buruk, datanglah naskah dan dialog-dialog yang terkesan bodoh dan tak berguna.

Jika melihat tampilan efek visualnya, para penonton mungkin berpikir mereka sedang menonton film TV yang diputar di bioskop. Sebegitu buruk efek visual dalam film ini, hingga Roger Christian (sutradara) memilih malam hari untuk adegan pertempuran manusia dengan Psychlos, guna menyembunyikan efek visual yang buruk dalam kegelapan.

Yang lebih parah, film ini mendapat skor 2.4/10 di situs IMDb, dan masuk ke dalam list ''100 Film Terburuk IMDb''. Sungguh disayangkan, popularitas aktor sekelas John Travolta ternyata tak mampu mendongkrak film ini.

3. Final Fantasy: The Spirits Within (2001)

Para gamers sejati mungkin tidak tahu apa yang ada di kepala Square, ketika merilis film ini. Berani membawa nama Final Fantasy, berarti berani menghadirkan apa yang tergambar di semua kepala gamer.

Apa yang gamer pikirkan ketika mendengar nama Final Fantasy? Pasti sudah terbayang Bahamut berukuran besar, theme song, limit break, dan elemen RPG yang kental. Namun, apa yang gamer dapatkan ketika film ini dirilis? Sebuah tanda tanya terbesar di dunia. Tidak ada kaitan sama sekali dengan seri game Final Fantasy—tidak ada sedikit pun.

Sebagai film yang diadaptasi dari seri video game terkenal, Final Fantasy: The Spirits Within justru gagal membuat para penggemar game-nya terpesona.

Meski sudah memberikan spesial efek yang bagus, tetap saja alur cerita yang payah membuat film ini terpaksa dikerek turun dari bioskop dalam waktu kurang dari sebulan di Amerika Serikat. Selain itu, durasi film yang terlalu panjang membuat para penonton memilih untuk memainkan game aslinya daripada menonton filmnya yang berbelit-belit. Kerugian yang 'diraih' film ini mencapai Rp1,14 triliun.

4. Catwoman (2004)

Ketika Michelle Pfeiffer mencuri perhatian di film Batman Returns, banyak yang membayangkan jika Catwoman berlaga di filmnya sendiri. Dan hasilnya diwujudkan dalam Catwoman.

Namun, kali ini, dibintangi oleh Halle Berry yang beradu akting dengan Sharon Stone sebagai tokoh antagonis. Perpaduan yang dinilai sebagai duo terburuk yang pernah ada di layar lebar.

Bagi sutradaranya, inilah debut Amerika pertama setelah berjaya di negerinya sendiri, Prancis. Usai menggarap film ini, sang sutradara bahkan tak pernah lagi terdengar membuat film bioskop.

Untuk kasus Catwoman yang diperankan oleh Halle Berry, kehancuran film terletak pada tokoh protagonisnya yang cantik, gemulai, dan gemar berdandan superketat, sehingga tampak seksi, dan kelihatan sangat mahir menghajar lawan-lawannya, tapi—menurut penilaian para kritikus—payahnya cara mengalahkan para bandit lawannya justru menimbulkan tawa penonton.

Akhirnya, film ini pun menerima The Razzie Award atau penghargaan film-film terburuk untuk kategori gambar terburuk, sutradara terburuk, hingga skenario terburuk.

Halle Berry mendapat penghargaan aktris terburuk Razzie Awars pada 2005, usai membintangi Catwoman. Peraih Academy Award di tahun 2002 itu tak lagi terdengar namanya di layar lebar setelah menjadi Catwoman di film yang dirilis pada 2004. Dan film dengan bujet 100 juta dolar itu cuma menghasilkan pemasukan 40 juta dolar. Film ini adalah contoh bahwa perempuan dalam balutan baju seksi dan jago berkelahi tak selamanya mendatangkan keuntungan.

Halle Berry dan Sharon Stone telah membuktikannya. Cerita, juga penampilan Halle Berry sebagai Catwoman, dan Sharon Stone sebagai rivalnya, Poison Ivy, sama menyedihkan, hingga membuat film ini seperti mematikan bakat besar yang dimiliki keduanya.

Baca lanjutannya: 10 Film Hollywood Terburuk, Gagal, dan Rugi Besar (Bagian 2)

Buah-buahan Paling Mahal di Dunia

Buah-buahan Paling Mahal di Dunia

BIBLIOTIKA - Buah apa yang paling mahal di dunia? Durian? Mungkin durian terkenal sebagai buah dengan harga mahal. Tapi semahal-mahalnya durian, harganya tentu tidak sampai jutaan apalagi puluhan juta rupiah. Di dunia ini, ada buah-buahan yang harganya bisa dibilang “tidak masuk akal”, karena setara dengan harga mobil!

Jepang adalah negara yang terkenal sebagai penghasil buah-buahan termahal di dunia. Dengan rekayasa teknologi yang mereka miliki, Jepang bisa menghasilkan buah-buahan tertentu dengan aroma dan rasa yang berpuluh kali lebih enak dibanding buah aslinya. Tidak hanya dalam aroma dan rasa, Jepang bahkan bisa menghasilkan buah-buahan yang memiliki warna dan bentuk berbeda dengan buah aslinya.

Salah satu contoh kehebatan Jepang dalam melakukan rekayasa pada buah bisa dilihat pada semangka kotak yang mereka hasilkan. Umumnya, semangka memiliki bentuk bundar. Ditanam dan tumbuh di mana pun, semangka tetap berbentuk bundar dengan ukuran masing-masing.

Tetapi, Jepang bisa mengubah itu. Mereka bisa menghasilkan semangka berbentuk kotak atau persegi. Hasilnya, selain tampak unik dan menarik, semangka berbentuk persegi itu lebih mudah ditata dan ditumpuk.

Selain semangka, Jepang juga menghasilkan buah lain yang sama terkenal, yaitu melon. Disebut melon yubari, melon produksi Jepang itu memiliki harga ratusan juta rupiah. Lebih lengkap, berikut ini buah-buah paling mahal di dunia, yang mungkin belum pernah Anda bayangkan.

Melon 

Hingga saat ini, melon paling mahal di dunia adalah melon produksi Jepang, yang disebut yubari king. Harganya mencapai $26.000 USD, atau lebih dari 300 juta rupiah per buah! Sebegitu mahal, hingga buah ini sering dijadikan sebagai hadiah untuk rekanan, atau semacamnya.

Melon yubari memiliki rasa yang disebut sempurna, dengan gizi dan nutrisi yang sangat lengkap. Dari pemupukan sampai pembuahan, semuanya diperhatikan dengan cermat, sehingga melon yubari benar-benar menjadi buah hebat yang sangat mahal. Saat ini, dunia mengakui, melon yubari adalah melon terbaik sekaligus paling mahal di dunia.

Nanas 

Nanas termahal di dunia adalah nanas hasil produksi Inggris, yang memiliki harga di kisaran $16.500 USD atau sekitar 200 jutaan rupiah per buah.

Di Inggris, nanas telah ditanam sejak abad ke-19, atau sejak zaman Victoria. Pada masa lalu, teknologi pengembangan pohon nanas telah dilakukan, tapi tentu masih belum modern. Pada masa kini, Inggris menghasilkan teknologi yang jauh lebih hebat, yang mengadopsi cara budidaya nanas dari masa lalu. Pohon-pohon nanas itu kini tumbuh di rumah kaca, dengan pemanasan menggunakan reaksi kimia.

Teknologi rumah kaca itu mampu menghasilkan kualitas nanas yang sangat baik, hingga bisa dijual dengan harga sangat mahal. Biaya untuk menumbuhkan pohon-pohon nanas itu saja menghabiskan dana yang tidak sedikit, yaitu $2.000 USD atau sekitar 30 jutaan rupiah per pohon. Sementara waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan buah sekitar 2 tahun per pohon.

Nanas mahal produksi Inggris sangat terkenal di Amerika, dan di sana dijual dengan harga $16.500 USD atau sekitar 200 jutaan per buah.

Ceriman

Buah ceriman (Monstera deliciosa) mungkin jarang terdengar, karena nyatanya buah ini memang sangat langka. Lebih dikenal sebagai salad buah, ceriman hidup dan tumbuh di daerah hutan tropis seperti Amerika Serikat bagian timur. Dua wilayah yang diketahui membudidayakan buah ini adalah Meksiko dan Guatemala, dan di dua tempat itu pula nama ceriman lahir.

Buah ceriman sangat langka, karena setidaknya membutuhkan waktu satu tahun untuk tumbuh dan matang. Sebagai buah, ceriman bisa dibilang tidak terlalu istimewa. Namun, karena tempat tumbuhnya yang sangat langka, harga buah ini pun jadi mahal. Untuk mendapatkan satu buah ceriman, diperlukan uang setidaknya $50 USD atau sekitar 700 jutaan.

Anggur

Anggur paling mahal di dunia adalah anggur ruby roman, yang diproduksi di Jepang. Dijual per ikat, dengan harga mencapai $6.400 USD atau sekitar 80 jutaan rupiah. Anggur ruby roman adalah anggur paling langka di dunia, karena hanya ada di sebuah prefektur di Jepang, bernama Ishikawa.

Berbeda dengan anggur yang biasa kita lihat, anggur ruby roman memiliki ukuran sebesar bola tenis meja. Kadar gulanya diketahui sekitar 18%. Anggur ini dijual pertama kali pada tahun 2008.

Yang menjadikan buah ini mahal sebenarnya faktor kelangkaannya. Pada tahun 2010, Jepang hanya mampu menghasilkan 6 ikat buah anggur ruby roman. Sementara pada 2011, mereka hanya mampu menghasilkan 1 ikat anggur. Karena itulah, anggur merah ini kemudian mencapai harga yang sangat tinggi, hingga 80 jutaan rupiah per ikat.

Cupuaçu

Cupuaçu termasuk buah termahal di dunia, karena harganya berkisar $250 USD atau sekitar 3 jutaan per pon buah. Cupuaçu termahal dihasilkan di Amerika Selatan, termasuk di hutan Amazon.

Yang menjadikan buah ini sangat mahal tidak hanya karena faktor kelangkaannya, melainkan juga karena manfaatnya yang sangat besar untuk kesehatan. Kebanyakan orang membeli dan mendapatkan buah ini bukan melalui supermarket atau swalayan di tempat mereka tinggal, melainkan lewat internet.

Semangka hitam

Semangka yang biasa kita lihat tentu memiliki warna hijau dengan garis-garis pada kulitnya. Namun, di Jepang ada semangka dengan warna kulit hitam legam. Tidak ada garis atau warna lain apa pun, sehingga semangka itu tampak aneh, unik, dan sangat tidak biasa.

Semangka hitam hanya ada di Jepang, dan satu-satunya tempat di sana yang menumbuhkan buah ini hanya Hokkaido. Sebegitu langka, buah semangka hitam dijual dengan harga $ 6.300 USD atau sekitar 77 jutaan rupiah per buah.

Stroberi

Stroberi paling mahal di dunia adalah stroberi senbikiya, yang ada di daerah Senbikiya, Tokyo, Jepang. Berbeda dengan umumnya stroberi yang biasa kita lihat, stroberi senbikiya memiliki harga $83 USD, atau sekitar 1,3 juta rupiah per kotak. Satu kotak berisi 12 buah stroberi, dengan warna merona.

Semangka kotak

Selain semangka hitam, Jepang juga memproduksi semangka dalam bentuk kotak atau persegi. Dan sama seperti semangka hitam, semangka kotak juga memiliki harga sangat mahal. Satu buah semangka kotak rata-rata berharga $800 USD atau sekitar 11 jutaan rupiah per buah.

Sejak pertama kali diperkenalkan, semangka kotak produksi Jepang segera menarik perhatian dunia, karena bentuknya yang unik. Semangka kotak pun segera masuk negara-negara lain, meliputi Amerika hingga Rusia. Karena bentuknya yang unik pula, kadang orang membelinya bukan untuk dimakan, namun untuk dikoleksi atau untuk kesenangan pribadi.

Baca juga: Memahami Arti di Balik Stiker Kode Buah-buahan