3 Langkah Bijak Menemukan Pasangan yang Tepat

3 Langkah Bijak Menemukan Pasangan yang Tepat

BIBLIOTIKA - Banyak pria maupun wanita lajang yang ingin menemukan pasangan. Meski di sekitar atau sekeliling kita ada banyak pria lajang dan ada banyak wanita lajang, namun yang masih sama-sama lajang itu belum tentu saling cocok untuk kemudian bersepakat menjalin hubungan. Artinya, mencari dan menemukan pasangan yang tepat memang bukan urusan mudah.

Selain itu, ada hal penting yang sebenarnya perlu dipikirkan sebelum bermaksud mencari pasangan untuk kemudian melakukan komitment bersama. Hal penting itu sering kali terlewat—tidak sempat dipikirkan banyak orang—karena mengira dan menganggap dirinya sudah mantap untuk berpasangan, padahal sebenarnya belum. Kenyataan itu sering tidak dipahami banyak orang.

Berikut ini adalah tiga hal yang perlu dipikirkan sebelum memutuskan untuk mencari pasangan. Tiga hal ini pada akhirnya akan menuntun langkah lebih bijak untuk bisa menemukan dan mendapatkan pasangan.

Pertama, mengenali diri sendiri

Sebelum yang lain-lain, kenali diri sendiri terlebih dulu. Kenali kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Sebagaimana orang-orang lain, kita memiliki kelebihan namun juga kekurangan. Dengan mengenali dan memahami kelebihan serta kekurangan yang dimiliki, kita akan lebih bisa memahami pula pasangan yang kita inginkan. Yaitu pasangan yang dapat saling melengkapi. Pemahaman atas hal tersebut akan menjadikan langkah kita lebih terarah.

Selain itu, mengenali diri sendiri dapat membuat kita lebih realistis dalam menatap hubungan dengan orang lain, yang akan kita jalani.

Kedua, memahami perbedaan antara keinginan dan kebutuhan

Jika di lingkungan kita banyak orang memiliki mobil, bukan berarti kita juga butuh mobil. Namun, karena di lingkungan kita banyak orang yang memiliki mobil, kita bisa terpengaruh ingin punya mobil juga. Dalam hal ini, ada batas tipis antara kebutuhan dan keinginan. Sebenarnya, kita tidak butuh mobil. Tetapi, karena ada banyak orang di lingkungan kita yang punya mobil, kita pun jadi ingin punya mobil.

Ilustrasi itu tidak jauh beda dengan pasangan. Fakta bahwa ada banyak orang di sekitar kita yang punya pasangan, tidak berarti bahwa kita juga butuh pasangan. Namun, karena ada banyak orang di sekitar yang punya pasangan, kita pun jadi ingin punya pasangan. Sayangnya, dalam hal ini, pasangan bukanlah mobil yang bisa dilepas kembali secara mudah ketika kita merasa tidak cocok.

Jika kita jarang bepergian, dan tempat kerja relatif dekat sehingga dapat dijangkau dengan sepeda motor atau bahkan jalan kaki, mobil jelas bukan kebutuhan. Jika kita memaksa diri untuk punya mobil—karena terpengaruh lingkungan—mobil itu hanya akan menjadi beban. Alih-alih bermanfaat, keberadaan mobil justru membawa dampak tidak menyenangkan. Dari kewajiban membayar pajak sampai keharusan merawatnya setiap saat. Dalam hal ini, kepemilikan mobil justru merugikan.

Begitu pula dengan pasangan. Jika kita sebenarnya tidak/belum membutuhkan pasangan, tapi sekadar ingin, kemungkinan besar yang terjadi tidak jauh beda dengan ilustrasi di atas. Keberadaan pasangan bukan memberikan kedamaian, tapi justru menjadikan kita terbebani.

Karena itulah, langkah pertama di atas adalah mengenali diri sendiri terlebih dulu. Setelah itu, pahami perbedaan antara keinginan dan kebutuhan.

Langkah ketiga, melangkah dan memutuskan

Jika kita telah mengenali diri sendiri dengan baik, dan bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan, kita bisa masuk pada langkah ketiga. Yaitu melangkah dan memutuskan.

Pada langkah ini, masing-masing orang bisa berbeda. Yang memang membutuhkan pasangan bisa mulai mencari pasangan, sesuai yang diharapkan, agar dapat saling melengkapi. Sementara yang belum membutuhkan pasangan bisa menahan diri, dan lebih fokus pada upaya mengembangkan kehidupan pribadi. Kelak, ketika memiliki pasangan sudah menjadi kebutuhan, kita pun akan lebih siap untuk menjalin dan membangun hubungan.

Baca juga: 5 Hal yang Perlu Dipahami Sebelum Memutuskan Hubungan Cinta