Mencari Jejak Peradaban Kota Atlantis

Mencari Jejak Peradaban Kota Atlantis

BIBLIOTIKA - Plato, filsuf terkenal Yunani, menceritakan tentang sebuah kota yang luar biasa hebat bernama Atlantis. Ia mengisahkan, bahwa Critias—murid Socrates—pernah menyebut keberadaan Atlantis dalam dialognya dengan sang guru. Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe, moyang lelaki Critias, sedangkan Joepe mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama Solon (639-559 SM). Solon adalah salah satu filsuf bijak di antara 7 yang paling bijak di masa Yunani kuno.

Dalam kisah tentang Atlantis, digambarkan bahwa ada sebuah daratan raksasa di atas Samudera Atlantik arah barat Laut Tengah yang sangat jauh, yang memiliki peradaban tinggi dan menakjubkan. Kawasan yang disebut Atlantis itu menghasilkan emas dan perak dalam jumlah luar biasa, hingga istana dan bangunan-bangunan di sana dipagari emas dan berdinding perak.

Selain luar biasa kaya, peradaban Atlantis juga sangat maju. Mereka memiliki pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan sempurna, juga memiliki benda yang bisa membawa orang terbang ke angkasa.

Kekuasaan Atlantis di masa itu tidak hanya terbatas di wilayah Eropa, namun sampai jauh ke daratan Afrika. Namun, semua pencapaian dan peradaban tinggi itu musnah seketika, saat Atlantis dihantam gempa bumi luar biasa dahsyat. Gempa itu menenggelamkan Atlantis dan orang-orang di dalamnya ke dasar lautan.

Dari kisah itu, banyak orang bertanya-tanya, apakah Atlantis memang benar ada, ataukah hanya kisah rekaan Plato? Karena pertanyaan itu pula, banyak orang yang telah mencoba mencari dan meneliti kebenaran hingga kemungkinan keberadaan Atlantis. Ada cukup banyak catatan mengenai usaha para ilmuwan dan orang-orang lain dalam upaya pencarian demi membuktikan bahwa Atlantis benar-benar pernah ada.

Dalam hitungan versi Plato, waktu tenggelamnya Atlantis sekitar 11.150 tahun yang lalu. Plato menekankan bahwa kisah Atlantis telah diceritakan turun temurun, dalam arti bukan rekaannya. Plato bahkan pernah pergi ke Mesir, dan meminta petunjuk biksu serta rahib terkenal di sana waktu itu, demi bisa menemukan Atlantis. Sementara Socrates, guru Plato, juga menyatakan hal yang sama, bahwa Atlantis benar-benar ada, dan bukan sekadar kisah rekaan.

Kalau yang dinyatakan Plato dan Socrates memang benar, maka artinya ada sebuah peradaban tinggi yang pernah berdiri di muka bumi, pada 12.000 tahun yang lalu. Itu tentu sangat memukau untuk orang-orang yang hidup di masa kini, mengingat teknologi yang ada saat ini pun bisa dibilang masih kalah dengan peradaban Atlantis di masa lalu. Tapi di manakah sebenarnya Atlantis? Sejak ribuan tahun silam, tak terhitung banyaknya orang yang mempertanyakan hal itu.

Sampai kemudian, pada abad ke-20, orang-orang yang tertarik pada Atlantis mulai memusatkan perhatian pada Laut Bermuda yang terletak di bagian barat Samudera Atlantik, di kepulauan Bahama, dan laut di sekitar Florida. Pasalnya, di tempat itu terjadi sesuatu yang memukau sekaligus membingungkan, yang membuat banyak orang berpikir bahwa di situlah letak Atlantis tenggelam sebagaimana yang dikisahkan Plato.

Pada suatu hari di tahun 1968, terjadi suatu peristiwa di kepulauan Bimini, di sekitar Samudera Atlantik, yang ada di gugusan Pulau Bahama. Pada waktu itu, laut tampak tenang dengan air yang bening seperti kristal tembus pandang, hingga orang-orang bisa menatap ke kedalaman laut. Beberapa penyelam masuk ke dasar laut, dan mereka menemukan sesuatu yang memukau. Di dasar laut terdapat sebuah jalan besar!

Kenyataan itu mengundang banyak penyelam lain, yang lalu menyelam bersama ke dasar laut, dan mereka benar-benar menemukan sebuah jalan besar yang membentang tersusun dari batu-batu raksasa. Jalan besar di dasar laut itu tampak disusun dari batu persegi panjang, dengan ukuran dan ketebalan berbeda, namun penyusunannya sangat rapi, bahkan terkesan modern karena sangat halus. Orang-orang pun bertanya, apakah itu peninggalan Atlantis yang tenggelam?

Pada awal tahun 1970-an, ada kisah serupa di kepulauan Yasuel, Samudera Atlantik. Sekelompok peneliti yang sedang mempelajari inti karang melakukan pengeboran pada kedalaman 800 meter di dasar laut. Tanpa diduga, mereka menemukan sebuah “daratan” di sana, di kedalaman laut! Berdasarkan studi yang mereka lakukan, “daratan” yang tenggelam di laut itu diperkirakan berusia 12.000 tahun. Mereka pun bertanya-tanya, apakah itu sisa Atlantis yang dulu diceritakan Plato?

Empat tahun kemudian, pada 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet membuat 8 lembar foto, yang jika digabungkan akan membentuk sebuah bangunan kuno luar biasa menakjubkan. Lagi-lagi orang bertanya, apakah itu bangunan karya orang-orang Atlantis?

Pada tahun 1979, ilmuwan Amerika dan Prancis—dengan bantuan peranti canggih—menemukan piramida di dasar laut Bermuda. Piramida di dasar laut itu memiliki panjang sekitar 300 meter, tinggi 200 meter, dengan puncak piramida yang hanya 100 meter dari permukaan samudera. Piramida itu lebih besar dibanding piramida Mesir!

Di bagian bawah piramida di dasar laut itu terdapat dua lubang raksasa, tempat air laut mengalir dengan kecepatan menakjubkan. Mereka pun bertanya-tanya, apakah piramida itu dibangun orang-orang Atlantis? Pasukan Atlantis pernah menaklukkan Mesir. Apakah mereka membawa peradaban piramida ke Mesir? Selain itu, di Benua Amerika juga terdapat piramida. Apakah piramida itu berasal dari Mesir, ataukah dari Atlantis?

Pada tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah areal laut “Segitiga Maut”. Pada foto yang mereka buat, terlihat ada dataran, jalan besar vertikal dan horizontal serta lorong, rumah beratap kubah, gelanggang olahraga, kuil, bantaran sungai, dan lain-lain. Dua kelasi itu menyatakan mutlak percaya bahwa yang mereka temukan adalah sisa-sisa peninggalan Atlantis yang dikisahkan Plato.

Terakhir, dan mungkin yang paling menghebohkan, adalah penelitian yang dilakukan oleh seorang ilmuwan Brasil bernama Aryso Santos. Berbeda dengan yang lain-lain, Santos menegaskan bahwa Atlantis sebenarnya adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia.

Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, Aryso Santos melakukan penelitian hingga 30 tahun, yang lalu ia tuliskan dalam sebuah buku tebal berjudul “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization”. Dalam buku itu, dia menunjukkan 33 perbandingan antara Atlantis dengan Indonesia, di antaranya luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis adalah Indonesia.

Sistem terasiring sawah yang khas Indonesia, menurut Santos, adalah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Santos juga menyimpulkan, bahwa pada masa lalu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatera, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur, dengan Indonesia sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif, dan dikelilingi samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Dalam tuturan Plato, Atlantis adalah kawasan yang hilang akibat letusan gunung berapi yang meletus secara bersamaan. Pada masa itu, sebagian besar bagian dunia masih diliputi lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan, yang sebagian besar terletak di wilayah Atlantis, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliputi air yang berasal dari es yang mencair.

Menurut Santos, di antara gunung-gunung yang meletus pada masa itu adalah gunung Meru di India Selatan, dan gunung Semeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau, yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya, serta membentuk selat dataran Sunda.

Santos juga menyatakan, terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu menyebabkan lapisan es mencair, dan mengalir ke samudera, sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa pada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua.

Tekanan itu mengakibatkan gempa. Gempa itu diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang kemudian meletus secara beruntun, dan menimbulkan gelombang tsunami dahsyat. Santos menyebutnya “Heinrich Events”.

Jadi, secara konklusif, Santos menegaskan bahwa lokasi Atlantis berada di wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Sampai sekarang, itu merupakan kesimpulan terakhir yang didapat mengenai Atlantis, meski tetap saja keberadaannya masih membingungkan.