Antraks: Dari Penemuan Ilmiah Hingga Senjata Biologi

Antraks: Dari Penemuan Ilmiah Hingga Senjata Biologi

BIBLIOTIKA - Salah satu senjata biologi yang sangat berbahaya di dunia adalah Antraks. Kasus penggunaan Antraks sebagai senjata biologi, setidaknya pernah tercatat terjadi dalam teror di Rusia pada 1979, di Tokyo pada 1995, dan di Amerika Serikat pada akhir 2001.

Secara garis besar ada beberapa agen yang bisa digunakan yaitu virus, protozoa, fungi, ricketsia, dan bakteri. Sekilas, virus seperti menduduki tahta tertinggi sebagai senjata biologi, namun ternyata semua agen tersebut sama-sama berpotensi bahaya.

Antraks sering kali dikelirukan sebagai penyakit yang disebabkan oleh virus, padahal sebenarnya Antraks disebabkan oleh bakteri bacillus anthracis. Bakteri yang bentuknya mirip rantai dengan ujung persegi ini adalah bakteri gram positif dengan ukuran 1-1,5 x 3-5 mikrometer, bersifat anaerob (tahan terhadap keadaan tanpa oksigen) dan memiliki spora.

Spora itulah yang membuat bakteri bisa bertahan dalam lingkungan yang ekstrem sekali pun. Spora itu tetap bertahan walau dalam kondisi yang kering, lembap, panas tinggi, maupun dingin yang rendah, bahkan di dalam tanah, spora Antraks akan bertahan hidup sampai 40 tahun lamanya.

Merunut sejarah, Antraks pertama kali diidentifikasi oleh Robert Koch pada tahun 1877 yang berhasil membiakkan kultur bakteri ini, dan membuktikannya pada hewan coba. Pada umumnya, Antraks menyerang hewan herbivora seperti sapi, kambing dan domba, sedangkan di Indonesia lebih sering berjangkit pada sapi.

Mekanisme penularan terjadi saat hewan memakan spora Antraks yang tertelan ketika sedang digembalakan. Spora yang masuk ke dalam tubuh hewan akan berubah menjadi bentuk vegetatif, kemudian memperbanyak diri dan menyerang hewan dari dalam, sampai hewan tersebut mati. Saat atau menjelang kematian terjadi, bentuk vegetatif keluar dan menyebar ke lingkungan, dan mengulang siklus yang sama.

Antraks pada hewan memiliki beberapa tipe, yaitu:

Sub-akut, ditandai dengan kematian mendadak yang didahului kejang, sesak napas, gemetar, atau bahkan tanpa gejala sama sekali.

Akut, ditandai demam tinggi. Pada sapi perah, produksi susu akan menurun drastis, pada hewan bunting akan terjadi abortus, depresi, susah bernapas, kejang, diikuti kematian yang ditandai keluarnya darah kental berwarna merah kehitaman dari lubang kumlah.

Kronis, lebih sering terjadi pada babi yang menyebabkan lepuh di sekitar lidah dan kerongkongan.

Penularan Antraks pada manusia

Perlu diketahui, Antraks adalah penyakit zoonosis (dapat menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya). Penularan pada manusia dapat terjadi melalui kulit, pernapasan, dan pencernaan, dengan mekanisme sebagai berikut:

Antraks kutaneus (Antraks kulit) terjadi jika bakteri atau spora terkena pada kulit yang memiliki lecet/luka terbuka. Dengan cepat luka akan berubah menjadi lepuh, dan menjadi bisul bernanah, hingga akhirnya menjadi koreng berwarna hitam. Antraks jenis ini biasa terjadi di tempat penjagalan hewan yang tidak menerapkan standar penyembelihan yang benar.

Antraks gastro-intestinal (Antraks pencernaan) terjadi jika bakteri atau spora tertelan lewat mulut melalui makanan atau minuman. Daging terinfeksi yang dimasak setengah matang menjadi faktor utama penyebabnya. Ciri daging yang terkena Antraks adalah berwarna kehitaman, berlendir, dan berbau busuk.

Antraks pulmonal (antraks pernapasan) terjadi karena menghirup spora. Inilah yang paling mungkin dilakukan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang berniat menjadikan bakteri ini sebagai senjata biologi. Tipe ini memang paling berdampak karena case fatality rate-nya mencapai 99,99%.

Baca juga: Bom Nuklir, dan Penyesalan Terbesar Albert Einstein