Ukuran Kekayaan Menurut Tiga Generasi Berbeda

Ukuran Kekayaan Menurut Tiga Generasi Berbeda

BIBLIOTIKA - Ternyata, ukuran kekayaan—dan bagaimana kita menilai sesuatu sebagai kekayaan—bisa berbeda antarorang, lebih khusus antargenerasi. Setidaknya, itulah yang dikemukakan pakar psikologi Dr. Thomas Armstrong. Dia menyatakan, ada tiga ukuran kekayaan yang berbeda, bagi tiga generasi berbeda. Ia menyebut, tiga generasi itu adalah generasi millenial, generasi dreamer, dan generasi legacy.

Bagi generasi millenial, yang saat ini rata-rata masih muda, ukuran kekayaan bisa disandarkan pada jumlah follower mereka di Instagram atau media sosial lain. Seperti kita tahu, generasi millenial akrab dengan internet, dan mereka menganggap eksistensi mereka di internet—serta pengakuan akan eksistensi yang mereka tunjukkan—adalah sebentuk kekayaan.

Karenanya, semakin banyak follower yang mereka miliki, artinya semakin diakui eksistensi mereka, dan itu menjadikan mereka merasa kaya.

Yang kedua adalah generasi dreamer, yang diisi orang-orang yang telah berkeluarga. Bagi generasi dreamer, kekayaan adalah kehidupan yang cukup, kebahagiaan dan kerukunan dalam keluarga, serta kemampuan dalam menjalani kehidupan tanpa kekurangan.

Selama mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan baik, berlibur sesekali, dan menjalani kehidupan tenang, itulah kekayaan. Bisa dibilang, generasi dreamer lebih dewasa dari generasi millenial yang rata-rata masih belia.

Kemudian, yang ketiga, adalah generasi legacy. Dibanding generasi millenial dan generasi dreamer, generasi legacy telah sampai pada kemantapan yang lebih dewasa. Mereka rata-rata adalah orang yang telah membina keluarga bertahun-tahun, dengan anak-anak yang dewasa atau mulai dewasa, serta memiliki tingkat ekonomi yang lumayan. Bagi generasi legacy, kekayaan adalah apa yang dapat mereka wariskan pada anak-anaknya, atau generasi selanjutnya.

Baca juga: Jika Dunia dan Manusia Tidak Mengenal Kaya Miskin