Di Masa Depan, Bernapas pun Harus Membayar

Di Masa Depan, Bernapas pun Kita Harus Membayar

BIBLIOTIKA - Seratus tahun yang lalu, orang-orang tentu sulit membayangkan ada orang mau membeli air kemasan. Karena di masa lalu, air bersih bisa ditemukan dengan mudah, di mana pun, dan keberadaannya memang sangat berlimpah—di sumber atau mata air sampai di aliran sungai. Karenanya, jika di masa itu ada orang punya ide untuk mengemas air lalu dijual, hasilnya tidak akan laku. Siapa yang mau membeli sesuatu yang jelas-jelas mudah ditemukan di mana pun?

Tetapi, kini, bisnis air kemasan telah menjadi industri besar dengan omset sangat besar, dan menguasai hajat hidup orang banyak. Air kemasan bahkan telah menjadi barang kebutuhan sehari-hari yang diperjualbelikan di mana-mana, dan dibutuhkan orang di berbagai lapisan masyarakat. Keberadaan air kemasan, sebagaimana yang sekarang kita kenal, adalah bentuk solusi akibat makin langkanya air bersih di lingkungan yang kita tempati.

Di masa lalu, orang bisa membuat sumur di rumah, dan mendapatkan air bersih untuk berbagai keperluan, termasuk untuk minum. Sekarang, air sumur telah tercemar. Mungkin masih bisa digunakan untuk mandi dan mencuci. Tapi banyak orang yang menganggap sudah tidak layak untuk diminum. Solusinya, mereka terpaksa membeli air kemasan untuk kebutuhan memasak dan membuat air minum.

Sesuatu yang dulu gratis, karena berlimpah ruah—dan bisa ditemukan serta didapatkan di mana pun—kini harus dibeli.

Jika air, yang menjadi kebutuhan vital untuk hidup harus dibeli, tidak menutup kemungkinan hal yang sama juga terjadi pada kebutuhan vital lain. Misalnya udara.

Saat ini, mungkin masih terdengar konyol kalau ada orang yang berencana menjual udara dalam kemasan. Sebagian orang yang tinggal di desa atau di wilayah pegunungan—yang biasa menikmati udara bersih—mungkin akan tertawa dan menganggap ide itu sebagai lelucon. Tapi siapa yang menjamin bahwa di suatu hari kelak hal itu benar-benar tidak terjadi?

Pada masa sekarang saja, udara bersih sulit didapatkan, khususnya di wilayah perkotaan. Udara yang kita hirup sehari-hari telah bercampur polusi, asap pabrik dan knalpot kendaraan, sehingga udara yang masuk ke paru-paru kita sedemikian kotor. Kota-kota besar di seluruh dunia bahkan telah melakukan perlawanan terang-terangan dalam menghadapi polusi udara.

Diperkirakan, lima sampai tujuh juta orang meninggal dunia karena menghirup asap, gas berbahaya, dan jelaga yang dipompa ke atmosfer. Di Cina dan India, khususnya, jumlah korban udara beracun sangat memprihatinkan, dengan angka total mencapai tiga juta kematian. Dalam kenyataan yang mengerikan sekaligus mengkhawatirkan semacam itu, sebagian orang rela mengeluarkan uang untuk... membeli udara kemasan!

Inilah fakta menggelikan namun tragis saat ini, yang mungkin akan menjadi hal biasa di masa depan. Bahwa untuk mendapatkan udara bersih, sesuatu yang sangat vital untuk kebutuhan hidup, harus beli!

Kenyataannya, saat ini telah ada perusahaan-perusahaan yang telah memproduksi udara dalam kemasan. Vitality, sebuah perusahaan yang berbasis di Edmonton, Alberta, mengumpulkan udara dari rangkaian pegunungan Kanada, dan memampatkannya di dalam botol. Satu botol berisi delapan liter udara Kanada, dilengkapi tutup spray dan masker khusus, serta dapat digunakan untuk sekitar 160 kali bernapas. Udara dalam kemasan botol itu dijual dengan harga 32 dolar Kanada (sekitar Rp315.000).

Moses Lam, Direktur Vitality, menceritakan bahwa bisnisnya dimulai dari ide yang dianggapnya lucu. Ia membuat udara dalam kaleng sebagai hadiah lucu-lucuan. Tetapi, ternyata, permintaan atas produk tersebut ternyata melampaui khayalannya. Sejak itu, Cina, India, dan Korea Selatan, telah menjadi pasar utama perusahaannya.

Kepada media yang mewawancarainya, Moses Lam menyatakan, “Target pasar kami adalah kota-kota yang tersedak udara tercemar, dan tempat banyak orang meninggal dunia sebelum waktunya karena polusi. Udara kami adalah pengalaman yang tak akan pernah dialami orang-orang di Cina dan India.”

Dalam sebulan, perusahaan Moses Lam menjual 10.000 botol per bulan di Cina, dan berharap bisa menambah jumlahnya hingga 40.000 botol. Vitality baru mulai beroperasi di India, dan mereka berharap bisa menjual 10.000 botol per bulan di sana.

“Bagi kami, ini jelas bisnis yang sah,” ujar Moses Lam. “Ini akan menjadi seperti air kemasan.”

Selain Vitality, ada perusahaan lain yang juga menjual udara dalam kemasan, yaitu Aethaer, yang berbasis di Inggris. Perusahaan tersebut bahkan menciptakan istilah “pemanenan udara” dalam proses pengumpulannya. Mereka mengumpulkan udara dari pedesaan Inggris, mengemasnya dalam stoples, dan menjualnya seharga £80 (sekitar Rp1,4 juta) per stoples.

Leo De Watts, pendiri Aethaer, memulai praktik tersebut sebagai “karya seni enviropolitik, sekaligus wujud keprihatinan atas tingkat polusi udara dunia saat ini. Ia juga mengakui, bahwa praktik yang ia lakukan (menjual udara) telah dicemooh para pengkritik. “Mereka menganggap seolah saya penipu,” ujarnya.

Meski begitu, udara kemasan produksi Aethaer telah merambah Cina sebagai pasar utama. Leo De Watts tidak mengungkapkan angka penjualan, namun menyatakan, “Pada intinya, kami perusahaan yang menjual udara segar kepada orang-orang yang mampu membeli.”

Melihat kenyataan tersebut, bisa jadi di masa depan kita benar-benar harus membeli udara bersih untuk bernapas, sebagaimana sekarang kita membeli air bersih untuk bisa minum. Saat ini, membeli udara dalam kemasan mungkin masih terdengar ide gila, sama seperti membeli air dalam kemasan bagi orang yang hidup seratus tahun lalu. Tetapi, sebagaimana yang sekarang kita alami terkait air bersih, di masa depan—sekali lagi, bisa jadi—kita juga harus membeli udara untuk bernapas.

Dan jika itu benar-benar terjadi, dunia pasti akan menjadi tempat yang makin tidak layak huni, dan kehidupan manusia benar-benar memprihatinkan.

Baca juga: Masalah Air di Indonesia