Virus Zika dan Agenda Tersembunyi Depopulasi

 Virus Zika dan Agenda Tersembunyi Depopulasi

BIBLIOTIKA - Apakah virus Zika adalah penyakit yang memang timbul secara alamiah, ataukah dampak dari sebuah hasil rekayasa? Meski mungkin pertanyaan itu bisa terdengar naif, namun ada banyak pengamat yang mencurigai bahwa keberadaan virus Zika sebenarnya hasil rekayasa. Atau, paling tidak, dampak dari sebuah kecelakaan tak terduga akibat rekayasa manusia.

Kecurigaan mengenai hal itu sebenarnya punya dasar dan alasan. Pertama, lokasi terjadinya penyebaran virus Zika pertama, dan nyamuk yang identik.

Para ahli memperhatikan, bahwa penyakit demam Zika pertama kali menyebar di Brasil, yang merupakan tempat pelepasan nyamuk-nyamuk hasil rekayasa Oxitec pada 2015. Kemudian, sub-spesies nyamuk buatan manusia dari nyamuk Aedes aegypti yang membawa kedua virus Zika dan dengue adalah nyamuk dari jenis yang sangat mirip dengan nyamuk hasil rekayasa, yang telah dilepaskan ke alam liar oleh perusahaan Oxitec.

Dua hal tersebut telah terbukti benar. Yang masih jadi pertanyaan, apakah itu hanya kebetulan, atau memang hasil rancangan? Sejak Zika mewabah, telah ada lebih dari 4.000 kasus bayi yang lahir dengan microcephaly di seantero Brasil. Jika tak dapat dicegah, maka dipastikan kasus yang sama akan terus meningkat dan meluas seiring waktu yang berjalan.

Jika penyebaran kasus Zika tidak segera dihentikan, maka virus tersebut dapat terbawa oleh orang-orang yang keluar dari Brasil dan pergi ke berbagai negara di dunia, terutama ke negara-negara tropis, termasuk Indonesia. Mengingat virus ini tersebar melalui nyamuk, maka semua orang pasti berpotensi untuk terkena, karena hampir bisa dibilang semua orang tidak ada yang terbebas dari gigitan nyamuk.

Yang mengerikan, infeksi virus ini tidak langsung terlihat efeknya, dan bisa jadi virus tersebut mendekam secara senyap di dalam tubuh inang, untuk kemudian terus menyebar dan menyebar melalui nyamuk, terutama di daerah atau negara tropis.

Para kritikus Oxitec menyatakan, dengan tidak adanya studi potensial terhadap efek knock-on oleh nyamuk yang ternyata dapat bermutasi itu, mungkin nyamuk rekayasa yang berhasil selamat bisa berkembang biak di alam liar dengan mutasi gen lainnya yang tidak diketahui, dan telah terjadi pada nyamuk rekayasa yang pada gilirannya dapat memperburuk penyebaran virus Zika.

Namun, saran untuk melakukan studi lanjutan terhadap nyamuk rekayasa yang dirilis para kritikus kepada Oxitec untuk merespons pertanyaan-pertanyaan tersebut tak pernah dijawab.

Selain itu, para kritikus juga mencurigai bahwa kasus munculnya Zika memiliki potensi keuntungan, khususnya bagi para penyelenggara peralatan kesehatan (termasuk produsen obat) dan perangkat medis, karena bagaimana pun keberadaan virus Zika akan membutuhkan penanganan medis, dan itu artinya potensi keuntungan triliunan dolar bagi perusahaan-perusahaan farmasi.

Karena itu pula, sebagian pihak sampai menyatakan bahwa penciptaan nyamuk rekayasa hingga munculnya kasus virus Zika adalah upaya terselubung depopulasi, yang ditujukan untuk menurunkan jumlah penduduk bumi.

Saat ini, penduduk bumi telah mencapai sekitar 7 miliar. Jika dilihat dari peta penyebaran nyamuk di dunia, maka yang terkena terutama adalah negara-negara tropis. Dari seluruh jumlah penduduk di wilayah tersebut, dapat dikumulatifkan bahwa depopulasi atau pengurangan penduduk yang diincar berkisar 2,5 miliar orang.

Meski virus Zika tidak selalu mematikan, namun infeksi virus itu berpotensi membuat keturunan-keturunan manusia terkena radang otak, kepalanya tak sempurna, dan daya pikirnya menurun, yang membuat otak mereka menjadi kecil tak sempurna. Karenanya, meski tak mematikan secara langsung, tetap saja sama dengan depopulasi dunia secara tak langsung.

Baca juga: Mereka yang Menolak dan Menentang Vaksinasi