Mengenal Masyarakat Rahasia Freemasonry

Mengenal Masyarakat Rahasia Freemasonry

BIBLIOTIKA - Freemasonry adalah organisasi atau kumpulan orang-orang yang membentuk suatu komunitas. Freemasonry telah eksis setidaknya sejak 300 tahun yang lalu, dan orang-orang juga menyadari keberadaan mereka, namun eksistensi Freemasonry bisa dibilang misterius, termasuk apa tujuan mereka sebenarnya, apa yang dilakukan para anggotanya, dan lain-lain. Karenanya, Freemasonry bisa dibilang organisasi yang terbuka—diketahui keberadaannya—namun tetap rahasia.

Selain menjadi organisasi yang telah berusia tua, Freemasonry juga organisasi yang sangat besar. Bisa dikatakan, cabang organisasi ini ada di hampir semua negara di dunia, yang masing-masing diatur atau dibentuk menjadi Grand Lodge (Loji-Loji Besar) yang mandiri, dan masing-masing Loji Besar memiliki aturan tersendiri terhadap Loji-Loji di bawahnya.

Berbagai Loji Besar atau Grand Lodge dapat mengakui atau tidak mengakui satu sama lain, berdasarkan prinsip Mason yang mereka anut. Meski begitu, setiap organisasi Freemasonry yang berdiri akan memiliki nomor pendirian, dan menjalin hubungan dengan Loji Mason lainnya. Mereka juga memiliki Master Tertinggi yang bertindak sebagai koordinator seluruh anggota Freemasonry di seluruh dunia.

Asal Usul Freemasonry

Beberapa bukti menunjukkan bahwa Loji Mason telah ada di Skotlandia pada awal abad ke-16, misalnya Loji Kiwinning. Loji Mason juga telah ada di Inggris sekitar abad ke-17.

Pada 24 Juni 1717, empat Loji Mason di Inggris mengadakan sebuah pertemuan yang disebut Grand Lodge Of England. Pertemuan itu dianggap sebagai kelahiran Freemasonry, karena banyak Loji Mason Inggris lain bergabung di bawah naungan Grand Lodge of England.

Meski begitu, tidak semua Loji Mason mendukung peraturan dan modernisasi yang dilakukan Grand Lodge of England. Beberapa Loji Mason yang kontra kemudian membentuk Grand Lodge tandingan, bernama Grand Lodge of Ancient England pada 17 Juli 1751. Kedua Loji Besar itu pun sempat bersaing, sampai akhirnya memutuskan untuk bersatu pada 25 November 1813, membentuk United Grand Lodge of England.

Sekitar 70 tahun sejak berdiri, Freemasonry mulai diikuti oleh hampir semua lapisan sosial masyarakat di Eropa. Arus migrasi warga Eropa yang menuju Amerika turut serta membawa Freemasonry ke sana. Warga Amerika yang saat itu menginginkan kemerdekaan, kebebasan berpendapat, dan kesetaraan, sangat tertarik pada ideologi Freemasonry.

Seiring dengan itu, banyak tokoh terkemuka, baik di Eropa dan Amerika, terikat dengan Freemasonry. Misalnya para cendekiawan di balik Revolusi Perancis, Jean-Jacques Rousseau, Voltaire, dan Montesquieu. Juga tokoh-tokoh bersejarah Amerika, seperti Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, dan George Washington.

Praktik Freemasonry

Freemasonry mengajarkan, bahwa kemerdekaan diwakili oleh kebebasan dan kesetaraan di semua sektor kehidupan. Ajaran ini juga menuntut calon anggota untuk melakukan penyembahan kepada Kekuatan Yang Maha Agung. Dalam ajaran Mason, kekuatan ini disebut Arsitek Agung Alam Semesta. Kandidat Mason yang terpilih akan disebut sebagai “Pencari Cahaya”, yang diharapkan menemukan metaforis “Cahaya” dalam Freemasonry.

Anggota Freemasonry juga diharapkan untuk bertindak sesuai aturan dan norma yang baik dalam lingkungan tempat mereka berada, juga di lingkungan Mason.

Meski ajaran mereka bisa dianggap baik, namun praktik yang terjadi sering kali tidak selaras. Sebagian anggota Mason mengartikan dan mempraktikkan doktrin kebebasan yang diajarkan Freemasonry dengan cara berbeda, yaitu kebebasan mutlak dan terlepas dari beban moral.

Salah satu contoh peristiwa akibat penyalahgunaan dokrin itu adalah peristiwa anarki yang terjadi di Rusia pada abad ke-19. Anarki itu didalangi oleh aliansi-aliansi yang mendapat tempaan di Loji-Loji Mason. Misalnya, tokoh teori anarkis Rusia terkemuka, Mikhail Bakunin, yang merupakan salah satu anggota dari Loji Mason.

Mikhail Bakunin juga diketahui melakukan banyak pertemuan dengan Karl Marx, yang melahirkan Manifesto Komunis, dan yang secara langsung memberi dampak pada Revolusi Februari pada 1848 serta Pemberontakan Komune Paris pada 1871. Kedua revolusi itu berusaha menggantikan Republik Prancis dengan struktur Sosialis.

Sementara di Amerika, cita-cita kesetaraan dan kebebasan yang seharusnya erat dengan Freemasonry malah menjadi hal yang sebaliknya dalam Perang Saudara. Doktrin Freemasonry juga menghasilkan gerakan rasisme radikal Ku Klux Klan, sebuah masyarakat rahasia yang bertekad menegakkan hak-hak warga kulit putih dan pemilik tanah dari gangguan warga kulit hitam.

Ku Klux Klan, sebagaimana Freemasonry, kerap menggunakan kata-kata rumit, kode-kode tertentu, bahkan kostum dan sumpah mengerikan. Mereka juga melakukan tindakan kekerasan yang terus terjadi hingga di masa modern. Beberapa tokoh penting atau terkenal yang diketahui turut andil dalam pembentukan Ku Klux Klan di antaranya adalah Jenderal William Henry Wallace, Kolonel Henry Alexander Wise, Jenderal Robert E. Lee, dan Albert Pike.

Albert Pike adalah Perwira Konfederasi saat Perang Saudara di Amerika. Ia anggota Freemasonry peringkat 33, yang merupakan peringkat tertinggi dalam Freemasonry. Ia juga menulis sebuah buku berjudul Morals and Dogma of Freemasonry, yang menjadi semacam kitab suci bagi anggota Freemasonry. Albert Pike bersama Nathaniel Bedford Forrest, yang juga anggota Freemasonry, memiliki peran penting dalam membangun Ku Klux Klan.

Di Italia, Freemasonry terbentuk di Turin pada 1877, yang ditandai dengan hadirnya Lodge Propaganda Massonica. Namun, setelah Perang Dunia II, kegiatan Freemasonry terhalang karena adanya pelarangan dari rezim Mussolini serta pengawasan dari partai Kristen Demokrat yang berkuasa.

Akhir tahun 1960, kegiatan Freemasonry di Italia kembali diaktifkan oleh Licio Gelli, anggota Freemason yang juga pro-fasis dan simpatisan NAZI. Ia membentuk Lodge as Propaganda Due (disebut juga P-2), di luar yurisdiksi Grand Lodge Italia.

Beberapa tahun setelah itu, Licio Gelli dikenal sebagai orang yang berpengaruh di Italia, termasuk di Vatikan. Pengaruh Licio Gelli begitu luas, hingga mendapat dukungan dari pemerintah Brasil, Nikaragua, Uruguay, dan Argentina, dalam melakukan penentangan terhadap Partai Komunis Italia.

Pelarangan terhadap Freemasonry tidak hanya terjadi di Italia. Sebelumnya, pada 1933, keberadaan Freemasonry di Jerman juga telah dilarang oleh Adolf Hitler. Namun, pengaruh Freemasonry dalam spektrum politik Jerman telah dirasakan selama puluhan tahun sebelumnya, terutama pada masa pemerintahan Kanselir Prusia, Otto von Bismarck, yang kemudian membawa pengaruh tersebut ke Italia. Otto von Bismarck adalah anggota mason pangkat 33.

Otto von Bismarck juga membantu Reich Wilhelm I dari Prusia melarikan diri selama serangkaian perang berdarah, sampai akhirnya Reich Wilhelm I terpilih menjadi Kanselir pertama Jerman. Kelak, pemerintahan cucu Wilhelm I, yaitu Wilhelm II, membantu terjadinya Perang Dunia I.

Tidak berbeda dengan Italia dan Jerman, Cina juga secara resmi melarang Freemasonry. Namun, pada abad ke-18 dan 19, Freemasonry Cina tumbuh kembali berkat bantuan Grand Lodge Taiwan yang dibentuk pada 1949. Loji Mason ini secara resmi diakui oleh United Grand Lodge of England. Freemasonry Cina juga berkembang melalui rute perdagangan di dalam negeri pada awal 1700-an.

Pada abad ke-19, di Amerika terjadi pembauran kebudayaan imigran Cina dengan ritual Freemasonry, karena adanya perdagangan maritim Timur-Barat dan pembangunan jalur kereta api lintas benua. Pada 1870, diadakan pertemuan Loji Mason Cina yang berasal dari seluruh kota metropolitan Amerika. Sejak itu, organisasi Freemasonry terus berkembang, meski mungkin secara diam-diam.

Baca juga: Tokoh-tokoh Terkenal yang Diduga Anggota Freemasonry