Sulitnya Memiliki Rumah di Jakarta

Sulitnya Memiliki Rumah di Jakarta

BIBLIOTIKA - Jakarta, yang menjadi ibu kota Indonesia, adalah kota terbesar di negeri ini, sekaligus menjadi kota yang padat penghuni. Sebegitu padat penduduk di Jakarta, hingga harga tanah dan rumah sangat mahal di sana. Hal itu tentu sesuai dengan hukum ekonomi, bahwa semakin tinggi permintaan maka harga akan semakin naik.

Terkait Jakarta, kota itu tidak hanya dihuni penduduk yang padat, tapi juga menjadi pusat pemerintahan, pusat bisnis dan perdagangan, sampai hiburan. Akibatnya, harga tanah di Jakarta melejit tinggi, karena diperebutkan banyak pihak yang ingin memiliki. Hal itu berdampak pada makin tersingkirnya penduduk yang tidak mampu membeli tanah atau rumah di daerah pusat, untuk kemudian menghuni di daerah pinggiran.

Karena kenyataan itu pula, banyak penduduk di Jakarta yang juga tidak memiliki rumah. Masalahnya kembali pada persoalan tadi. Harga tanah atau rumah semakin mahal, sementara kemampuan membeli sering kali tidak imbang. Akibatnya, banyak rumah tangga di Jakarta atau sekitarnya yang memilih mengontrak atau menyewa tempat tinggal.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi rumah tangga di DKI Jakarta yang memiliki rumah sendiri menunjukkan tren yang menurun. Pada 1999, sebanyak 65,43 persen rumah tangga di Jakarta tercatat memiliki rumah tinggal sendiri. Namun, pada 2015, hanya 51,09 persen rumah tangga yang berstatus memiliki rumah sendiri.

Bahkan, pada 2015, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan proporsi rumah tangga yang memiliki rumah sendiri paling rendah di Indonesia. Padahal, pada periode yang sama, 91,47 persen rumah tangga di Sulawesi Barat sudah memiliki rumah sendiri. Di Papua pun tercatat 81,69 persen rumah tangga yang sudah menempati rumah miliknya sendiri.

Jakarta Utara merupakan wilayah dengan kepemilikan rumah milik sendiri yang paling rendah di DKI Jakarta. Pada 2015, hanya 47,3 persen rumah tangga di wilayah ini yang memiliki rumah sendiri. Sedangkan, pada periode yang sama, 86,84 persen rumah tangga di Kepulauan Seribu telah memiliki rumah sendiri.

Bila dilihat berdasarkan luas lantai rumah, pada 2015, sebanyak 32,18 persen rumah tangga DKI Jakarta menempati rumah dengan luas antara 20 hingga 49 meter persegi. Bahkan, masih terdapat 22,08 persen rumah tangga yang menempati rumah dengan luas kurang dari 20 meter persegi.

Padahal, luas lantai rumah berkaitan erat dengan kesehatan penghuninya. Luas lantai yang sempit dapat mengurangi konsumsi oksigen dan mempercepat penularan penyakit. Tingginya angka proporsi rumah tangga DKI Jakarta yang menempati rumah di bawah 49 meter persegi mengakibatkan peningkatan proporsi penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan. Tercatat pada 2014, sebanyak 30,45 persen penduduk memiliki keluhan kesehatan dan meningkat menjadi 33,39 persen di 2015.

Rendahnya kepemilikan rumah milik sendiri pada rumah tangga di DKI Jakarta, sebagaimana yang telah disebutkan di atas, erat kaitannya dengan tingginya harga hunian di ibu kota, baik rumah maupun apartemen.

Berdasarkan survei kuartal IV-2016 yang dilakukan oleh Colliers International Indonesia, rata-rata harga apartemen di Jakarta sebesar Rp31,65 juta per meter persegi. Di kawasan pusat bisnis, harga apartemen bahkan mencapai Rp48,82 juta per meter persegi. Nilai itu tumbuh sebesar 3,3 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan harga yang sangat tinggi itu, kita tentu bisa membayangkan bagaimana sulitnya memiliki rumah di Jakarta, khususnya bagi orang-orang atau rumah tangga yang memiliki penghasilan pas-pasan. Masih tertarik hidup di Jakarta?

Baca juga: Semua yang Perlu Anda Tahu Seputar Feng Shui Rumah