Aturan Diperketat, Mencari Uang di YouTube Makin Sulit

Aturan Diperketat, Mencari Uang di YouTube Makin Sulit

BIBLIOTIKA - YouTube adalah situs berbagi video paling terkenal di internet. Di situs itu ada jutaan video yang tersedia, siap ditonton siapa pun. Setiap hari, ada banyak orang yang mengunggah video-video baru, sehingga jumlah video di YouTube pun semakin banyak. Dalam hal itu, YouTube memberi kesempatan bagi para kreator (pembuat video) untuk mendapatkan penghasilan dari video yang diunggah ke YouTube.

Untuk mendapatkan uang dari video yang diunggah di YouTube, caranya adalah dengan memonetisasi video tersebut. Nantinya, setiap video yang diunggah itu ditonton pengunjung YouTube, akan muncul iklan pada video tersebut. Jika iklan dilihat atau di-klik penonton, maka si pemilik video akan mendapat bayaran. Tentu saja, semakin banyak yang melihat atau meng-klik iklan, semakin banyak pula uang yang didapat si pembuat video.

YouTube menyebut program itu dengan nama YouTube Partner, yang telah dimulai sejak tahun 2007. Sejak itu pula, banyak orang tertarik menggantungkan hidup pada video yang diunggah ke YouTube.

Karena adanya hal semacam itu pula, banyak orang berkreasi membuat video dan menguggahnya ke YouTube, dengan harapan bisa mendapatkan uang melalui iklan yang muncul di videonya. Tak peduli video itu baru ditonton sekian puluh atau sekian ratus orang, iklan akan muncul pada video yang dimonetisasi.

Sayangnya, sekarang, mencari uang di YouTube tampaknya tidak akan semudah dulu. Pasalnya, YouTube mulai memperketat aturan, yang bisa jadi akan terasa berat bagi kebanyakan pembuat video. Pada 6 April 2017, Wakil Presiden Manajemen Produk YouTube, Ariel Bardin, menyatakan bahwa iklan hanya akan dipasang oleh YouTube ke video YouTuber, bila video tersebut dilihat oleh 10 ribu penonton ke atas.

“Dengan menetapkan ambang batas 10 ribu penonton, kami juga yakin bahwa peraturan ini akan meminimalkan dampak bagi kreator kami,” ujar Ariel Bardin.

Kebijakan baru itu berlaku efektif bagi para pendaftar video baru. Video-video yang mereka unggah ke YouTube baru akan mendapat iklan jika video tersebut telah ditonton minimal 10.000 orang. Bahkan, ketika sebuah video telah mencapai jumlah penonton 10.000 orang pun, YouTube tidak serta merta akan memasang iklan pada video tersebut. Mereka akan memeriksa lebih dulu, apakah penempatan suatu iklan cocok dengan video tersebut atau tidak.

Tampaknya, kebijakan baru YouTube tersebut juga dimaksudkan untuk meminimalkan dan mencegah pengunggahan konten curian, yaitu konten video milik seseorang, yang diunggah ulang oleh orang lain untuk mendapatkan iklan.

Selain itu, YouTube kini juga di bawah sorotan, karena video yang diunggah sebagian kreator membawa pesan-pesan homophobia, anti-Yahudi, dan menebar kebencian. Akhir Maret 2017, misalnya, sejumlah perusahaan besar dunia menghentikan sementara iklan digital mereka di layanan streaming video YouTube, karena tidak mau brand mereka muncul di video penyebar kebencian di YouTube. Kini mereka memperketat kebijakan iklan.

Masalah konten video menjadi serius karena, menurut analis Jackdaw Research, Jan Dawson, video-video ekstrem meraih penonton lebih banyak dibanding sebelumnya. “Video mereka populer bagi audiens yang mereka targetkan,” ujarnya.

Setiap menit, ada 400 jam video yang diunggah di YouTube, dan 1 miliar jam video ditonton setiap hari. Dari video ini saja, YouTube menghasilkan pendapatan sekitar US$ 11 miliar (Rp 146,6 triliun) tahun lalu.

Baca juga: Ternyata Pengguna Internet Bukan Hanya Manusia