Yang Terjadi pada Tubuh dan Otak Ketika Melakukan #SkipChallenge

Yang Terjadi pada Tubuh dan Otak Ketika Melakukan #SkipChallenge

BIBLIOTIKA - Ada tren permainan yang mengkhawatirkan di kalangan anak-anak remaja Indonesia akhir-akhir ini, yaitu permainan yang disebut #SkipChallenge. Mereka menganggap permainan itu seru dan menegangkan, lalu mengunggah video rekamannya ke media sosial. Karenanya, banyak video #SkipChallenge yang beredar di media sosial, hingga tren itu pun makin menular. Yang menjadi masalah, #SkipChallenge tidak semenyenangkan tampaknya, bahkan bisa berbahaya.

Dari video-video yang beredar di media sosial, dapat terlihat bagaimana remaja yang melakukan permainan #SkipChallenge tiba-tiba pingsan hingga kejang-kejang, setelah dadanya ditekan selama beberapa menit, dalam permainan tersebut. Apa yang terjadi pada tubuh ketika orang melakukan permainan berbahaya itu?

Yoga Yuniadi, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Harapan Kita, menyatakan bahwa penekanan pada dada dalam permainan #SkipChallenge berujung pada menurunnya kadar oksigen dalam darah, atau disebut hipoksia.

“Berdasarkan video, yang terjadi adalah penekanan dada yang cukup keras untuk menghalangi upaya napas, tapi tidak cukup keras untuk mengubah pola denyut jantung,” ujarnya. “Jadi akibatnya kadar oksigen darah menurun.”

Ketika seseorang mengalami hipoksia, yang pertama kali akan terdampak adalah bagian otak. Kekurangan oksigen di bagian otak itulah yang menyebabkan penurunan kesadaran hingga kejang. Akibat fatalnya, hipoksia bisa menyebabkan kerusakan otak. Dokter Yoga menjelaskan, “Hipoksia otak, bila terjadi 4 menit, akan menyebabkan kerusakan otak yang bersifat permanen.”

Otak menjadi bagian organ tubuh yang paling rentan terdampak ketika tubuh kekurangan oksigen. Dalam permainan #SkipChallenge, pelakunya akan menahan napas, sementara bagian dada ditekan. Hasilnya, otak bisa kekurangan oksigen, dan hal itu dapat menyebabkan pingsan serta kejang-kejang.

Kerusakan yang terjadi pada otak bisa dari yang ringan hingga berat. Pada kerusakan ringan, biasanya hanya menyebabkan pusing sesaat, pandangan kabur, atau seperti terasa melayang. Namun, kerusakan ringan pada otak bisa pulih sendiri.

Yang patut diingat, kerusakan ringan pada otak bisa menjadi kerusakan sedang. Gejala kerusakan sedang pada otak adalah kejang-kejang hingga hilang kesadaran. Pada kerusakan sedang, risikonya bisa terjadi pemulihan jaringan yang rusak, bisa pula tidak.

Pada kerusakan otak yang sedang bisa mengenai bagian otak yang penting, yaitu cerebral cortex yang berkaitan dengan sensorik, memori, perasa, dan memori jangka pendek. Kemudian, pada kerusakan berat, banyak sel otak yang mati. Hal ini bisa berujung pada risiko stroke, henti napas, henti jantung, hingga kematian.

Karena itulah, permainan #SkipChallenge tidak semenyenangkan tampaknya, karena permainan itu mengandung bahaya yang tidak ringan. Sayangnya, kebanyakan remaja—khususnya di Indonesia—yang melakukan permainan itu kurang menyadari bahaya dari permainan yang mereka lakukan.

Terkait hal itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, meminta pada guru di sekolah untuk mencegah remaja melakukan #SkipChallenge. Jangan sampai permainan berbahaya itu makin menjadi tren dan memakan lebih banyak korban.

Baca juga: Fakta-fakta di Balik Fenomena #SkipChallenge