Park Geun-hye dan Sejarah Hitam Korea Selatan

Park Geun-hye dan Sejarah Hitam Korea Selatan

BIBLOTIKA - Park Geun-hye adalah presiden wanita pertama di Korea Selatan, sekaligus presiden pertama Korea Selatan yang dipecat saat menjalankan tugas. Karenanya, Park Geun-hye menjadi sejarah penting bagi negeri gingseng tersebut, meski mungkin akan dikenang sebagai sejarah hitam.

Sebenarnya, Park Geun-hye juga presiden pertama di Korea Selatan yang berstatus lajang. Ia menjadi presiden ke-18 sejak Korea Selatan terbentuk sebagai negara Republik Korea. Ia memenangkan suara mayoritas dalam pemilihan presiden pada Desember tahun 2012.

Kedekatan Park Geun-hye dengan dunia politik, khususnya di Korea Selatan, bisa dibilang sudah sejak belia. Park Geun-hye adalah putri Park Chung-hee, yang juga menjadi presiden Korea Selatan. Di masa lalu, Park Chung-hee dipuji sebagai pemimpin yang keras dalam berprinsip, sekaligus dipuja karena mampu mempercepat industrialisasi di Korea Selatan.

Ketika ayahnya menjabat sebagai presiden Korea Selatan, Park Geun-hey masih belia. Pada waktu itu, mengikuti ayahnya, dia pun pindah ke Istana Biru atau Chong Wa Dae (istana kepresidenan Korea Selatan).

Pada tahun 1974, terjadi upaya pembunuhan terhadap Park Chung-hee. Upaya pembunuhan itu bisa dibilang gagal, karena Park Chung-hee selamat. Namun, istri Park Chung-hee (ibu Park Geun-hey) tewas dalam serangan tersebut.

Park Geun-hey berusia 22 tahun, ketika ibunya tewas dalam serangan yang ditujukan untuk ayahnya. Sejak itu pula, Park Geun-hey menjadi ibu negara Korea Selatan.

Lima tahun kemudian, kembali terjadi upaya pembunuhan terhadap Park Chung-hee, dan kali ini serangan itu berhasil. Park Chung-hee tewas.

Setelah tewasnya sang ayah, Park Geun-hey pun meninggalkan Istana Biru, dan dia kuliah di Universitas Sogang di Seoul, hingga lulus. Selama 18 tahun kemudian, Park Geun-hey bisa dibilang tidak bersentuhan dengan dunia politik. Kembalinya Park Geun-hey ke ranah politik ditandai dengan bergabungnya Park Geun-hey ke Partai Nasional Besar, penerus partai berkuasa; Partai Pembebasan Korea.

Di Partai Nasional Besar, Park Geun-hey menjabat wakil ketua partai. Di partai tersebut, Park Geun-hey terpilih sebagai anggota parlemen. Setelah itu, pada 2007, Park Geun-hey maju sebagai kandidat presiden Korea Selatan. Ia bersaing dengan Lee Myung-bak, pengusaha sukses Korea Selatan. Dalam perebutan kursi presiden itu, Park Geun-hey kalah.

Kemudian, pada 2012, Park Geun-hey kembali maju dalam pemilihan presiden Korea Selatan, dengan dukungan Partai Nasional Besar. Ia membawa isu pemberantasan korupsi dan nepotisme. Dalam kampanye, Park Geun-hey membangun citra dirinya bersih dari korupsi dan nepotisme. Selain itu, ia diuntungkan dengan status dirinya yang lajang dan tanpa keluarga yang perlu diasuhnya.

Meski Park Geun-hey juga mengangkat isu rekonsiliasi nasional dengan Korea Utara, namun tampaknya isu pemberantasan korupsi paling menarik dukungan besar dari para pemilih. Hasilnya, Park Geun-hey memenangkan pemilihan presiden, dengan meraih kemenangan besar pada Desember 2012.

Pada awal pemerintahan, Park Geun-hey dipandang sebagai ikon, mengingat dia putri Park Chung-hee yang legendaris. Sayang, empat tahun setelah menjalankan pemerintahan, Park Geun-hey justru disorot rakyat Korea Selatan dengan pandangan negatif, karena terlibat skandal suap besar-besaran, yang didalangi sahabatnya sendiri, yaitu Choi Soon-sil.

Choi Soon-sil adalah anak guru spiritual ayah Park Geun-hey. Sejak masih kecil, Choi Soon-sil telah berteman dekat dengan Park Geun-hey, dan pertemanan itu terus berlanjut hingga mereka dewasa. Ketika Park Geun-hey menjadi presiden Korea Selatan, Choi Soon-sil pun masuk dalam lingkaran kekuasaan. Skandal suap itu mulai terbongkar pada Oktober 2016.

Kasus suap itu mengguncang Korea Selatan, bukan hanya karena melibatkan orang-orang penting di pemerintahan, termasuk sang presiden, namun juga melibatkan tokoh-tokoh besar di bidang industri. Bos perusahaan Samsung, misalnya, termasuk tokoh yang ikut terseret dalam kasus suap tersebut. Hasilnya, untuk pertama kali dalam sejarah Samsung selama 79 tahun, petinggi perusahaan itu ditahan sebagai tersangka suap.

Selain petinggi Samsung, mega skandal di Korea Selatan itu juga menyeret beberapa menteri dan sejumlah politisi serta pengusaha Korea Selatan.

Choi Soon-sil ditangkap dan ditahan atas tuduhan perancang suap. Sementara kelompok oposisi di parlemen mendorong proses pemakzulan terhadap Park Geun-hey, dan membuahkan hasil pada 9 Desember 2016.

Akhirnya, pada 10 Maret 2017, Mahkamah Konstitusi Korea Selatan mengesahkan pemakzulan Park Geun-hey, dan sejak itu pula Park Geun-hey melepaskan jabatannya sebagai presiden Korea Selatan.

Baca juga: Konflik Suriah dan Konflik Banyak Negara