Mengapa Para Remaja Tertarik Melakukan #SkipChallenge?

 Mengapa Para Remaja Tertarik Melakukan #SkipChallenge?

BIBLIOTIKA - Pro kontra mengiringi tren yang akhir-akhir ini mengemuka, khususnya di internet, yaitu tren di kalangan remaja, yang disebut #SkipChallenge.

#SkipChallenge adalah permainan atau tantangan dengan cara menekan dada sekeras-kerasnya, hingga pingsan atau nyaris pingsan. Permainan itu menjadi bahan pembicaraan, karena kerap direkam dalam video, yang lalu diunggah di media sosial. Ketika viral, video permainan #SkipChallenge pun mendatangkan pro dan kontra.

Banyak orang yang menganggap permainan atau tantangan #SkipChallenge berbahaya, karena dapat membawa dampak negatif pada kesehatan pelakunya. Bukan hanya orang awam yang berpendapat seperti itu, namun juga para dokter atau pakar kesehatan.

Faisal Yunus, misalnya, seorang pakar di bidang paru-paru dan pernapasan, menyatakan bahwa aksi atau permainan #SkipChallenge itu berbahaya. Ia menyatakan, “Kalau sempat pingsan, berarti ada penurunan kesadaran. Biasanya itu terjadi karena oksigen di otak berkurang. Itu juga bisa menimbulkan cedera kalau (tulang) iganya lemah.”

Lebih jauh, ia juga menyebut permainan #SkipChallenge bisa menyebabkan dampak yang lebih mengkhawatirkan. “Kalau (otak kurang oksigen) cukup lama, tentu iya meninggal. Meski toleransi orang terhadap kekurangan oksigen berbeda-beda, ada yang tahan satu menit, ada yang sebentar saja sudah megap-megap.”

Jika memang permainan #SkipChallenge seberbahaya itu, kenapa para remaja tampaknya menggemari tantangan tersebut? Bahkan, mereka yang bermain #SkipChallenge menganggap itu tantangan yang seru dan menyenangkan. Di mana letak keasyikannya?

Terkait hal itu, Profesor Faisal Yunus menjelaskan, “Ketika orang akan pingsan, otaknya kekurangan oksigen. Dalam keadaan itu, dia tidak merasakan rasa sakit, rasa stres, atau rasa ketakutan. Itu hilang. Mungkin orang tertentu merasa lebih enak, terbebas dari stres sehari-hari, atau depresi. Kalau begini kan seakan-akan terbebas.”

Sementara itu, psikolog Datuk Fitra menyatakan, ramainya para remaja tertarik melakukan #SkipChallenge, dan mengungahnya ke media sosial, karena remaja memang senang ditantang. “Mereka juga ingin mempublikasi diri. Hal itu jadi lebih mudah dengan adanya teknologi (media sosial),” ujarnya.

Namun, Datuk Fitra juga menilai teknologi kadang membuat remaja bertindak “aneh bahkan gila” untuk mencapai tujuan. “Nah, yang ini persoalannya,” ia berkata, “tantangannya bisa menyebabkan kematian.”

Baca juga: Mengenal Permainan #SkipChallenge, dan Bahaya di Baliknya