Mengenal Permainan #SkipChallenge, dan Bahaya di Baliknya

Mengenal Permainan #SkipChallenge, dan Bahaya di Baliknya

BIBLIOTIKA - Remaja dan anak-anak muda kerap mudah terpengaruh pada sesuatu yang sedang menjadi tren. Yang jadi masalah, tidak semua tren bernilai positif. Sebagian tren kadang ada yang memiliki dampak negatif, meski mungkin tidak terlalu terlihat atau disadari. Seperti tren permainan #SkipChallenge yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan.

Meski mungkin tren #SkipChallenge di Indonesia bisa dibilang belum lama booming, namun sebenarnya permainan ini telah lama ada di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Sebenarnya, #SkipChallenge tidak bisa disebut “permainan”, karena nyatanya memiliki sifat yang “tidak main-main” alias berbahaya. Bahkan, diperkirakan #SkipChallenge telah menimbulkan banyak korban.

#SkipChallenge, atau juga disebut passout challenge, memiliki beberapa versi. Permainan ini mirip dengan choking challenge, yang intinya menekan jalan napas atau aliran darah sejenak, kemudian dibuka kembali. Tujuannya, untuk mendapat sensasi “high”. Orang-orang yang memainkan “permainan” itu menganggapnya seru dan menegangkan. Sayangnya, permainan itu memiliki dampak yang bisa mematikan.

Pada 21 Maret 2016, misalnya, seorang anak berusia 11 tahun bernama DaVorius Gray tewas di toilet rumahnya, di California. Sang Ibu, Latrice Hurst, mengatakan bahwa sebelum tewas, sang anak kedapatan sedang mengakses saluran online mengenai passout dan choking challenge. Dia diperkirakan meniru permainan yang dilihatnya di internet.

Sebelum tewasnya DaVorius Gray di California, ada remaja lain bernama Erik Robinson, berusia 12 tahun, yang juga tewas di ruang tamu rumahnya, setelah bermain #SkipChallenge.

Di Birmingham, Inggris, seorang remaja bernama Karnel Haughton juga tewas karena #SkipChallenge. Selain dia, ada pula Kimberly Wilson yang berusia 15 tahun, yang juga tewas akibat permainan yang sama. Di luar mereka, tak terhitung banyaknya anak-anak atau remaja yang mengalami nasib serupa. Bahkan, US Centers for Disease Control and Prevention menyatakan, sepanjang 1995-2007 saja, ada 82 media di AS yang melaporkan kematian karena #SkipChallenge.

Mereka percaya, jumlah itu hanya puncak gunung es. Artinya, korban yang berjatuhan akibat permainan itu jauh lebih banyak, dan banyak yang tidak terlacak, serta terus bertambah seiring waktu. Sementara itu, situs berita Daily Mail menyebut, setidaknya ada 100 remaja tewas di AS pada masa itu akibat permainan #SkipChallenge.

Dr. Michael McKenna, seorang dokter anak asal AS, mengatakan #SkipChallenge dan choking challenge mengubah denyut jantung secara drastis. “#SkipChallenge memotong asupan oksigen ke otak, menyebabkan orang pingsan dan mengalami euforia ‘high’ dalam prosesnya,” ujar Dr. McKenna. Dia juga memperingatkan bahwa #SkipChallenge dapat menimbulkan dampak jangka panjang.

“Kapan saja Anda bermain-main dengan pasokan oksigen ke otak, artinya Anda menempatkan diri pada risiko ekstrem. Entah risiko kematian atau risiko kerusakan otak permanen,” kata Dr McKenna.

Sementara itu, Dr. Thomas Andrew, ketua medis New Hampshire, mengatakan, “Mengajar anak-anak dan remaja tentang bahaya permainan harus menjadi bagian dari program pemerintah dan masyarakat mana pun, sama seperti penanggulangan obat-obatan terlarang, alkohol, dan perilaku berbahaya lainnya.”

Dr. Andrew menunjuk salah satu studi yang mengatakan 40 persen anak-anak di Texas dan Kanada tidak melihat bahaya permainan #SkipChallenge. Bukan mustahil anak dan remaja di Indonesia juga tidak tahu bahaya permainan tersebut.

Karenanya, orang tua perlu mengingatkan anak-anaknya mengenai pengaruh media sosial, dan mengingatkan bahaya tren yang sebaiknya tidak ditiru mentah-mentah. Dalam hal ini, Dr. Andrew menyatakan, “Bicarakan pada anak mengenai risiko yang mungkin mereka hadapi dari #SkipChallenge.”

Baca juga: Yang Terjadi pada Tubuh dan Otak Ketika Melakukan #SkipChallenge