Kisah di Balik Sosok Wanita di Uang Kertas Rp 5000

  Kisah di Balik Sosok Wanita di Uang Kertas Rp 5000

BIBLIOTIKA - Jika kita perhatikan, pada uang kertas Rp 5000 terdapat gambar seorang wanita yang sedang menenun. Sosok wanita itu menggambarkan perajin tenun Pandai Sikek. Siapakah sebenarnya wanita itu? Apakah wanita itu benar-benar ada, atau hanya sosok rekaan sang pelukis?

Ternyata wanita itu benar-benar ada. Nama wanita tersebut adalah Natasha Annestessya, seorang wanita Indonesia, yang biasa disapa Ceci. Lalu bagaimana dia bisa menjadi model dalam uang Rp 5000?

Ketika uang pecahan Rp 5000 akan diproduksi, Perusahaan Umum Percetakan Uang RI (PERURI) mengadakan kontes untuk menemukan sosok wanita yang dapat menjadi model dalam uang kertas yang akan diproduksi. Natasha Annestessya, yang waktu itu berusia 17 tahun, ikut dalam kontes tersebut, dan dia menjadi pemenang (karena sosoknya dianggap pas), sehingga sosoknyalah yang kemudian muncul memerankan perajin kain tenun.

Ketika mengikuti kontes tersebut, Natasha Annestessya masih kuliah semester tiga di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI). Dia dikenal sebagai perempuan yang cerdas dan berbakat.

Natasha Annestessya adalah putri seorang pensiunan pemandu wisata anjungan Sumatera Barat di TMII, bernama Anna Tuturaima. Dalam sebuah wawancara media, Anna Tuturaima menceritakan, “Dulu ibu paling bayar Rp 400 ribu untuk bayar uang kuliahnya, sisanya dia yang nanggung. Ceci (Natasha Annestessya) nggak pernah nyusahin saya, dia tahu saya cuma pegawai negeri kecil.”

Saat ini, Natasha Annestessya telah berusia 33 tahun, dan tinggal di California, Amerika Serikat, bersama suami dan keluarganya. Ibunya menceritakan, “Ceci sudah nikah pas usia 25 tahun dengan David, pria keturunan Amerika. Dia nggak bisa kembali ke Indonesia, karena penyakitnya yang nggak memperbolehkan naik pesawat lebih dari 5 jam.”

Ternyata, Natasha Annestessya terkena penyakit berupa volume otak yang lebih besar dari ukuran normal. Mungkin itu salah satu penyebab dia menjadi anak yang genius. Namun, kelemahannya, otak yang melebihi batas normal itu tidak mampu menahan tekanan ketinggian dalam waktu lama. Ketika menaiki pesawat, dia bisa mengalami pendarahan atau radang otak yang akan membahayakan dirinya sendiri.

Baca juga: Tangga Ajaib dan Genius yang Terlupakan