Menghargai dan Menghayati Waktu (3)

 Menghargai dan Menghayati Waktu (3)

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Menghargai dan Menghayati Waktu ~ 2). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlbih dulu.

Sekali lagi, kita hanya memiliki sisa waktu hidup 16 tahun. Dan dalam waktu 16 tahun yang singkat, bahkan teramat singkat itu, kita mengisinya dengan hal-hal yang tak bermanfaat, semisal... asyik menonton televisi!

Maafkan saya jika catatan ini terkesan menyudutkan televisi, karena tujuan saya memang untuk menunjukkan bahwa salah satu hal paling besar yang  membuat kita kehabisan waktu adalah televisi. Karenanya, dibutuhkan kedisiplinan diri untuk tidak tergoda dari televisi yang telah memboroskan dan menghabiskan waktu hidup kita.

Selain menonton televisi, apa lagi yang paling memboroskan waktu hidup kita?

Tidur!

Seperti yang sudah saya singgung di atas, kita menghabiskan 1/3 waktu kita dalam sehari semalam hanya untuk tidur yang lamanya rata-rata 8 jam. Sepertiga waktu dari seluruh usia hidup kita dihabiskan untuk tidur. Akan tetapi, ajaibnya, tidak ada satu orang pun yang tahu persis apakah sebenarnya tidur itu.

Yang kita ketahui selama ini, tidur hanyalah kebiasaan—suatu keadaan istirahat, dan selama kita tidur konon tubuh kita memperbaiki sel-sel atau bagian-bagian tubuh yang rusak. Meski begitu, tidak ada seorang pun yang tahu berapa lama sesungguhnya waktu tidur yang diperlukan bagi masing-masing orang. Kita bahkan tidak tahu apakah kita sesungguhnya memang butuh tidur atau tidak!

Saya tidak menutup mata bahwa kebanyakan dari kita meyakini dengan sepenuh hati bahwa waktu tidur yang ideal adalah 8 jam—sebagai masa istirahat yang terbaik. Tetapi, pertanyaannya, siapakah yang menjamin bahwa itu adalah jumlah waktu yang ideal bagi setiap orang? Sekali lagi, siapa yang menjamin bahwa setiap kita membutuhkan waktu tidur selama 8 jam?

Samuel Untermyer adalah seorang pengacara di New York berkaliber internasional, yang tidak pernah tidur nyenyak satu malam pun selama hidupnya. Sekali lagi, tidak pernah tidur nyenyak seumur hidupnya! Ketika pertama kali menyadari bahwa dia tak pernah bisa tidur, Samuel Untermyer begitu ketakutan pada dua penyakit yang biasa menyerang orang-orang yang kurang tidur; asma dan insomnia. Setiap malam dia selalu gelisah dan membolak-balik badannya di atas tempat tidur tanpa pernah satu kali pun mampu memejamkan mata dengan nyenyak.

Ketika dia masuk universitas, kebiasaan sulit tidurnya tak bisa terobati, dan Samuel Untermyer kemudian lebih memilih untuk mengisi waktu malamnya itu dengan belajar dan membaca buku daripada gelisah di atas tempat tidur. Semalam suntuk biasanya dia bersandar pada bantal di atas tempat tidur dengan sebuah buku yang terbuka di tangan. Hasilnya? Dia menjadi mahasiswa paling cerdas di universitasnya, bahkan di seluruh kota New York.

Ketika sekolah hukumnya selesai, dan dia lulus dengan nilai yang luar biasa bagus, Samuel Untermyer pun berpraktek menjadi pengacara, namun penyakit tak bisa tidurnya tetap belum terobati. Sekali lagi dia tak merisaukan penyakitnya itu, dan tetap mengisi waktu malamnya dengan kegiatan dan hal-hal yang produktif. Setiap malam, ketika para pengacara lain tengah terlelap dalam tidur, dia masih asyik bekerja. Ketika pagi hari, saat para pengacara lain baru bangun dari tidur, Samuel Untermyer telah duduk di kantornya dan telah menyelesaikan separuh pekerjaannya.

Pada usia 21 tahun, Samuel Untermyer telah memiliki penghasilan sebesar para pengacara senior di kotanya. Ini membuat begitu banyak pengacara lain berguru kepadanya, dan ingin tahu bagaimana metode kerjanya yang hebat itu. Pada tahun 1931, setelah menyelesaikan kasus hukum yang teramat besar dan rumit, Samuel Untermyer memperoleh bayaran terbesar dalam sejarah dunia pengacara di Amerika.

Karena dia mengisi waktu tidurnya dengan hal-hal yang lebih produktif, orang ini pun memperoleh hal-hal yang lebih besar daripada orang-orang lainnya.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana kondisi kesehatan Samuel Untermyer dengan keadaannya yang tidak pernah tidur itu? Dia sehat-sehat saja! Bahkan orang yang tak pernah bisa tidur ini meninggal dunia dengan tenang pada usia 81 tahun!

Orang tidak mati karena kurang tidur. Orang biasanya mati karena rasa tertekan dan gelisah, yang disebabkan karena tak bisa tidur! Pernahkah kita memikirkan perbedaan fundamental itu?

Pada waktu Perang Dunia Pertama, seorang prajurit Hongaria bernama Paul Kern tertembak pada bagian depan rongga otaknya. Lukanya ini kemudian berhasil disembuhkan, namun semenjak itu dia tak pernah bisa tidur. Para dokter telah berusaha setengah mati mencari cara dan upaya untuk mengatasi masalah itu, namun tetap saja Paul Kern tak pernah bisa tidur. Para dokter telah mencoba menggunakan obat tidur, obat penenang, narkotik, bahkan pernah pula dicoba dengan hipnotisme, namun semuanya sia-sia, dan Paul Kern tetap tak pernah bisa tidur—bahkan mengantuk pun tidak!

Ketika segala cara dan upaya telah dilakukan dan ternyata gagal—tak ada satu pun yang dapat membuat Paul Kern bisa tidur—para dokter menyimpulkan bahwa Paul Kern tak akan sanggup bertahan hidup sampai lama.

Tetapi Paul Kern tak mau menggubris diagnosa itu, dan dia tetap menjalani hidupnya dengan baik. Walaupun tak pernah bisa tidur, dia senantiasa beristirahat dengan jalan berbaring sambil memejamkan mata selama beberapa saat. Dan orang yang telah diramalkan tak akan bisa bertahan hidup lama ini mencapai usia lebih dari 80 tahun!

Sekali lagi, siapa yang memberi kepastian mutlak bahwa kita butuh tidur selama 8 jam dalam sehari semalam?

Emha Ainun Nadjib, sebelum menikah dengan Novia Kolopaking, hanya tidur 4 sampai 5 jam dalam sehari semalam. Tidak heran kalau kemudian dia menjadi penulis yang sangat produktif dan menelurkan jumlah karya yang fantastis. Imam Al-Ghozali, konon hanya tidur selama 3 sampai 4 jam dalam sehari semalam. Sampai hari ini, rasanya sulit mencari tandingan Imam Al-Ghozali dalam hal jumlah kitab dan kualitas karya.

Ibnu Sina, seorang ilmuwan yang luar biasa cemerlang yang pernah dimiliki Islam, nyaris tak pernah tidur sepanjang hidupnya—ia hanya tidur bila tertidur karena kelelahan. Dan sampai kini, rasanya tidak ada satu ilmuwan pun yang sanggup menyamai luasnya wawasan intelektualitas Ibnu Sina—baik dalam karya maupun dalam pemikiran. Lalu Al-Khawarizmi, pakar Islam yang lain, sang penemu algoritma, juga tak pernah tidur dalam banyak waktu hidupnya. Begitu pula Ibnu Rusyd, Abu Hurairah, Imam Bukhari, Imam Muslim...

Mereka jarang tidur—bahkan nyaris tak pernah sengaja tidur selain hanya tertidur—dan mereka sehat-sehat saja. Lebih dari itu, mau tidak mau kita harus mengakui bahwa kita hari ini telah banyak berutang budi pada orang-orang yang tak pernah tidur itu, karena mereka telah rela meninggalkan tidur demi menyingkapkan tirai pengetahuan untuk menerangi dan menyinari kehidupan.

Barangkali kita memang butuh tidur, namun barangkali juga kita tidak membutuhkan tidur sebanyak yang kita bayangkan. Dalam perspektif saya, yang membuat kita butuh tidur adalah, pertama; karena faktor kebiasaan, dan kedua; karena faktor sugesti.

Semenjak kecil kita telah didoktrinasi bahwa tidur yang bagus, yang ideal, yang sempurna, yang sehat, adalah tidur selama 8 jam—dalam sehari semalam. Ini kemudian menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus, bahkan sampai bertahun-tahun, kemudian menciptakan sugesti yang amat kuat dan kita yakini, yakni bahwa kita akan menderita pusing, atau kelemahan fisik, atau badan lemas, kalau kita kurang tidur dari waktu 8 jam itu. Kebiasaan yang ditunjang dengan sugesti itu kemudian pula mendiktekan pada otak dan alam bawah sadar kita untuk mewujudkan tepat sama seperti yang kita bayangkan.

Tubuh kita ini memiliki sesuatu yang disebut sebagai jam biologis. Jam biologis ini dapat diputar dan ditentukan semau kita—sebagaimana kita bebas memutar jarum jam di dinding rumah kita. Kalau kita memutar jarum jam biologis kita dengan membiasakan diri tidur selama 8 jam dalam sehari semalam, maka jam biologis itu pun akan patuh dan dia akan mengirimkan sinyal dalam bentuk kepala pusing, badan lemas atau lelah dan lemah jika kita tidak mencapai jumlah tidur yang 8 jam itu.

Sungguh, ada begitu banyak hal lain di dalam hidup yang lebih mulia untuk kita lakukan, dibandingkan sekadar duduk di depan televisi atau terlalu lama tidur dan bermalas-malasan di atas pembaringan. Hidup kita ini hanya sekali, dan tentunya kita menginginkan hidup yang benar-benar berarti.