Menghargai dan Menghayati Waktu (2)

Menghargai dan Menghayati Waktu

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Menghargai dan Menghayati Waktu ~ 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlbih dulu.

Apa sih yang membedakan budak dengan orang merdeka? Lebih spesifik lagi, apa sih perbedaan antara jiwa budak dengan jiwa orang yang merdeka?

Jiwa budak akan melakukan sesuatu berdasar dan bergantung pada sesuatu yang berada di luar dirinya, sementara jiwa orang merdeka akan melakukan sesuatu berdasar dan bergantung pada sesuatu yang berada di dalam dirinya.

Kalau kau sedang menonton televisi dan butuh ke kamar kecil lalu membatin, “Sebentar lagi ah, kalau sudah iklan,” maka kau adalah budak! Tetapi kalau kau butuh meninggalkan televisi, dan tak peduli televisi sedang menayangkan acara apa pun, dan kau bisa meninggalkannya tanpa beban pikiran sedikit pun, maka kau orang merdeka!

Tetapi berapa banyakkah dari kita yang mampu melakukan hal semacam itu? Berapa banyakkah dari kita yang mampu bangkit meninggalkan celoteh televisi tanpa merasa kehilangan atau merasa ‘bersalah’? Jika televisi sudah berkhotbah dan kita bersimpuh di hadapannya, maka kita seolah tidak punya kekuatan sedikit pun untuk meninggalkan, sebelum khotbah dari ‘Yang Mulia Televisi’ itu selesai. Saya tidak menunjuk hidung siapa pun, karena keluarga saya sendiri pun begitu!

Saya sesungguhnya tidak membenci televisi, karena betapa pun, televisi juga memuat hal-hal positif yang juga layak ditonton. Tetapi yang sering kali membuat saya bingung adalah ketika menyaksikan orang-orang yang menjadikan acara televisi sebagai semacam kewajiban hidup yang tak dapat ditinggalkan.

Kita seringkali menyebut televisi sebagai bagian dari hiburan. Ya, televisi adalah hiburan yang murah meriah, setidaknya jika dibandingkan pergi nonton film ke bioskop. Tetapi anehnya, sesuatu yang dianggap dan disebut hiburan itu justru menjadi kewajiban hidup.

Kita sepertinya tak pernah bisa melepaskan diri dari televisi meskipun kita meyakini hakikat televisi hanya sebagai hiburan. Televisi telah menjadi candu—persis sama seperti narkoba yang membuat pecandunya tidak enak badan dan gelisah tak karuan kalau tidak mengonsumsinya.

Kalau memang televisi adalah hiburan, mengapa ia menyita begitu banyak waktu dalam hidup kita? Kalau televisi memang hanya sekadar hiburan, mengapa posisi dan derajatnya dalam hidup kita sudah menjadi semacam kewajiban?

Televisi, dalam kaitannya dengan efektivitas waktu, memang hanya salah satu hal yang memboroskan hidup kebanyakan kita, namun inilah hal yang sering kali menjadi faktor pemboros yang menggerogoti sekaligus menghabiskan waktu hidup kita.

Berapa jam waktu yang rata-rata dihabiskan oleh kebanyakan orang di dalam masyarakat kita untuk menonton televisi? Antara 3 sampai 5 jam. Ambil saja rata-rata 4 jam per hari dan kalikan itu dalam waktu satu minggu, satu bulan, satu tahun. Jika setiap hari kita menghabiskan waktu 4 jam saja untuk menonton televisi (sinetron, infotainment, dan hal-hal lain), maka dalam waktu satu tahun kita telah menghabiskan 1.460 (seribu empat ratus enam puluh) jam hanya untuk menonton televisi!

Sungguh, suatu pemubaziran waktu yang bukan kepalang!

Berapa banyak waktu yang kita miliki dalam setiap satu hari satu malam? Hanya 24 jam! Dalam 24 jam itu, rata-rata kita menghabiskannya untuk tidur selama 8 jam (konon inilah jumlah waktu yang ideal untuk istirahat). Artinya, kita masih memiliki 16 jam di luar waktu tidur. Di dalam 16 jam itu, kita menggunakannya untuk bersekolah, kuliah atau bekerja selama 8 jam lagi (ini adalah waktu rata-rata orang bersekolah atau bekerja). Kini yang tersisa tinggal 8 jam lagi. Dan dalam sisa waktu yang hanya 8 jam lagi itu, kita mengunakannya untuk mandi, bersih-bersih rumah, mengerjakan rutinitas sehari-hari dalam keluarga, dan... menonton televisi!

Dengan pola dan gaya hidup semacam itu, bagaimana mungkin kita tidak merasa hidup sedemikian cepat berjalan? Kita terjebak dalam rutinitas yang memperbudak hidup kita—dan akibatnya kita pun menganggap waktu cepat berjalan—padahal sejak dulu, waktu sehari semalam tetap berdurasi 24 jam.

Jadi, untuk bisa menikmati waktu yang berjalan, dan tidak menganggapnya berjalan terlalu cepat, kita harus keluar dari pola dan gaya hidup semacam itu! Selama kita masih hidup dengan pola semacam itu, maka selamanya waktu akan terus kita anggap berjalan terlalu cepat. Kita harus keluar dari keterjebakan semacam itu, dan mulai menikmati hidup dengan lebih mensyukurinya, dan mengisinya dengan hal-hal yang lebih bermakna.

Mari kita mencoba menghitung berapa sebenarnya usia atau waktu hidup kita sesungguhnya, dan kita akan melihat betapa hidup ini sungguh singkat jika hanya dihambur-hamburkan untuk hal-hal yang tak berguna.

Taruhlah kita dikaruniai usia hingga 60 tahun. Ini usia rata-rata orang pada zaman ini. Dari usia 60 tahun yang telah dianugerahkan kepada kita, rata-rata dari kita menghabiskan 1/3 dari usia itu untuk tidur. (Kita tidur 8 jam per hari, itu artinya 1/3 dari 24 jam sehari semalam yang kita miliki). Itu artinya pula, waktu hidup kita yang 60 tahun telah dihabiskan 20 tahun hanya untuk tidur!

Kini tersisa 40 tahun usia hidup yang masih kita miliki.

Nah, kapankah pertama kali kita menyadari makna kehidupan yang kita jalani? Pada usia berapakah kita pertama kali mampu menikmati kehidupan? Itu sekitar pada usia 10 tahun, kan? Katakan saja itulah usia rata-rata dari kebanyakan manusia untuk pertama kali menyadari kehidupan personalnya.

Pada usia 0 sampai 5 tahun, kita belum mengetahui arti hidup yang kita miliki. Pada usia 5 sampai menjelang 10 tahun, kita baru dalam tahap belajar memahami arti hidup yang kita miliki. Artinya, rata-rata dari kita mulai dapat memahami kehidupan personal kita pada usia 10 tahun. Dari usia ini pulalah kita mulai hidup dalam makna sebenar-benarnya hidup.

Itu artinya pula, kita tinggal memiliki 30 tahun usia hidup yang sesungguhnya.

Dari 30 tahun yang masih kita miliki, berapa banyakkah dari kita yang mampu tetap menikmati hidup hingga hari tua? Kebanyakan orang pada hari ini sudah mengeluhkan penyakit-penyakit di tubuhnya pada usia 50 tahun. Begitu mereka memasuki usia 50 tahun, orang sudah tak bisa sempurna lagi menikmati dan menghayati hidup. Jadi, batas waktu usia 60 tahun yang telah diberikan Tuhan untuk kita telah diambil lagi untuk mengeluhkan hidup selama 10 tahun terakhir. Itu artinya pula, kita kehilangan lagi 10 tahun usia hidup kita, dan kini yang tersisa tinggal 20 tahun.

Dari sisa waktu 20 tahun yang masih kita miliki, setiap hari kita gunakan untuk pergi ke tempat-tempat yang kita tuju, entah ke sekolah, ke kampus, ke tempat kerja, ke rumah ibadah, ke rumah kawan, saudara, sahabat, ke luar kota, ke luar negeri, atau ke tempat-tempat lain yang kita inginkan, dan total dari seluruh perjalanan yang kita lakukan selama kita hidup, bila diakumulasi bisa mencapai waktu 4 tahun! Selama 4 tahun itu kita habiskan waktu hidup kita di perjalanan, dan kini yang tertinggal dari usia kita hanya 16 tahun.

Dan dalam waktu 16 tahun itu, apa yang kita lakukan...?

Baca lanjutannya: Menghargai dan Menghayati Waktu (3)