Menghargai dan Menghayati Waktu (1)

 Menghargai dan Menghayati Waktu

BIBLIOTIKA - Banyak orang yang mengatakan kalau waktu saat ini sepertinya begitu cepat berjalan. Baru kemarin hari raya tiba, sekarang hari raya sudah akan datang lagi. Baru kemarin mendaftar kuliah dan masuk kampus, sekarang sudah akan lulus dan wisuda. Baru kemarin menikah, sekarang anak sudah tiga. Baru kemarin...

Rasanya, saya pun membayangkan baru kemarin merayakan ulang tahun yang ke-18, namun sekarang saya harus memasuki usia 28. Begitu cepat, semuanya seperti baru kemarin.

Apa sebenarnya yang menjadikan kita merasa waktu sedemikian cepat berjalan? Orang-orang tua biasanya mengatakan kalau itu adalah salah satu tanda akan datangnya kiamat. Nah, saya bukan mistikus, dan saya pun tak berani menyimpulkan hal yang sama menyangkut pertanda datangnya hari kiamat. Namun, yang jelas, salah satu hal yang membuat kita merasa waktu sedemikian cepat berjalan adalah karena kita tidak pernah menghayati hidup dengan sepenuh-penuhnya!

Padahal, kalau mau jujur, kehidupan kita saat ini telah lebih banyak terbantu sekali dibandingkan kehidupan orang-orang di masa lampau. Dulu, kata almarhum kakek saya, orang membutuhkan waktu sampai berbulan-bulan lamanya kalau berangkat haji ke Mekkah. Dibutuhkan waktu delapan bulan perjalanan untuk berangkat ke sana dengan kapal laut, dan dibutuhkan waktu delapan bulan lagi untuk perjalanan pulang. Hingga kakek saya pun berkelakar, “Kalau kamu naik haji pada waktu itu, orang-orang di kampungmu sudah lupa sama kamu, dan kamu baru pulang dari sana.”

Hari ini, dengan pesawat udara, orang hanya membutuhkan waktu sebentar untuk berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Kalau kita dolan ke Kuala Lumpur atau Penang di Malaysia, kita hanya membutuhkan waktu satu jam perjalanan dari bandara di Jakarta. Begitu pun kalau ke Singapura. Hanya satu jam!

Padahal dulu, kalau saya mengayuh sepeda dari kota saya ke kota sebelah, saya juga membutuhkan waktu satu jam. Sekarang, waktu satu jam bisa digunakan untuk dolan ke luar negeri! Bukankah ini membantu mempersingkat dan mempercepat waktu tempuh kita dalam jarak yang luar biasa?

Dulu, orang mencuci baju dengan cara manual dan membutuhkan waktu lama. Tetapi sekarang, dengan adanya mesin cuci, orang tinggal memasukkan baju-baju yang kotor ke dalam bak, mengisinya dengan air dan sabun cuci, lalu mesin cuci akan menggantikan pekerjaan kita. Kita bahkan tidak perlu memerasnya dengan tenaga, karena mesin cuci juga telah dilengkapi alat pengering.

Begitu pula ketika kita ingin mencuci piring atau gelas, mesin cuci piring telah menggantikan waktu pekerjaan kita. Dulu, memasak dengan kayu bakar membutuhkan banyak waktu—dari membeli kayu sampai menghidupkannya di tungku—lalu kompor minyak menggantikan kayu dan tungku. Kompor minyak dirasa belum cukup efektif, maka kompor gas pun sekarang merajai di jutaan dapur rumah tangga.

Dulu, orang menanak nasi dengan panci tradisional yang harus dijaga kalau tak ingin nasi jadi hangus atau kering. Sekarang, dengan rice cooker, orang dapat menanak nasi sambil ditinggal pergi ke swalayan, karena rice cooker akan otomatis mati ketika nasi yang ditanak telah matang. Dulu, piranti masak membutuhkan waktu saat pencuciannya. Sekarang, dengan adanya teflon—piranti masak antilengket—orang tak perlu bersusah-payah saat mencucinya.

Dulu, orang mengetik dengan mesin ketik manual, dan mereka membutuhkan waktu sangat lama untuk mengukur batas margin kanan-kiri, mengusahakan dan menghitung jumlah karakter agar tulisan-tulisan tertentu dapat tepat berada di tengah, dan selama proses pengetikan, mereka begitu berhati-hati memencet setiap huruf agar tidak terjadi salah ketik.

Tetapi sekarang, dengan adanya komputer, orang dapat mengetik dengan waktu yang sepuluh kali lebih cepat. Semua program yang dibutuhkan dalam proses pengetikan yang dulu menggunakan keterampilan manusia kini telah digantikan perangkat lunak (software) yang begitu mudah dan praktis digunakan.

Orang pun dapat mengetik sambil memejamkan mata, karena ketikan di komputer dapat diedit, atau menggunakan korektor ejaan yang telah disediakan dalam software yang digunakan, hingga komputer secara otomatis membetulkan ejaan kata yang salah yang kita ketikkan. Pendeknya, waktu aktivitas dan pekerjaan manusia dapat dipersingkat dengan jumlah waktu yang lebih cepat berkali-kali lipat.

Dulu, kalau kita perlu mengambil uang dari rekening tabungan kita di bank, kita harus antre untuk bisa menemui petugas teller. Sekarang, dengan adanya mesin-mesin ATM, kita dapat mengambil uang di mana pun, kapan pun, 24 jam dalam sehari, tanpa hari libur, dan tak perlu ngantre lama-lama lagi.

Dulu, kalau saya perlu mengecek saldo rekening atau melakukan transfer antar rekening, saya harus datang ke bank dan meng-update buku tabungan atau mengisi formulir transfer. Tetapi sekarang, dengan adanya mobile banking, saya bisa mengecek saldo atau mentransfer sejumlah uang antar rekening dengan menggunakan ponsel tanpa harus keluar rumah.

Semuanya begitu mudah, begitu praktis, dan begitu cepat.

Kalau menggunakan logika dan ilustrasi di atas, seharusnya manusia akan lebih merasa waktu sekarang ini berjalan dengan lambat dan bukan semakin cepat, karena aktivitas dan pekerjaan telah banyak dipercepat dan dipersingkat oleh berbagai kemajuan teknologi. Tetapi mengapa manusia tetap saja (atau bahkan justru) menganggap dan merasakan waktu sedemikian cepat berjalan?

Inilah jawabannya; karena manusia terjebak di dalam perbudakan hal-hal di luar dirinya, tanpa mau menyadari untuk keluar dari lingkaran keterjebakan dan perbudakan itu!

Apa jadwal kegiatan terpenting manusia saat ini, yang tak akan pernah mau mereka tinggalkan satu kali pun, karena sebegitu penting?

Di antaranya jadwal acara televisi!

Lihatlah dirimu, keluargamu, tetanggamu, saudara dan sanak familimu, atau orang-orang lain di sekelilingmu. Adakah di antara mereka yang bebas dari perbudakan televisi? Saya meragukannya. Televisi telah menjadi penjajah terbesar abad ini, tuan paling agung yang paling banyak disembah pada masa kini. Dan inilah yang, menurut saya, merupakan salah satu hal yang membuat banyak manusia merasa waktu sedemikian cepat berjalan.

Bagaimana mungkin mereka tidak terus terburu-buru? Ketika mereka tengah melakukan suatu pekerjaan, mereka terus-menerus diingatkan bahwa sesaat lagi ada acara favorit di televisi yang HARUS ditontonnya. Ketika mereka tengah mengerjakan sesuatu, lagi-lagi acara televisi mengingatkan bahwa waktu sudah semakin mendesak—sesaat lagi acara itu akan segera ditayangkan, dan sekali lagi mereka HARUS menyimaknya.

Orang hidup dengan keadaan terus terburu-buru, namun yang membuat mereka terus terburu-buru hanyalah sesuatu yang sesungguhnya amat sangat tidak penting sekali—namun terus-menerus mereka anggap penting, bahkan sangat penting! Orang-orang itu adalah budak yang tidak pernah menyadari keterbudakannya!

Mungkin kau ingin membantah argumentasi ini, dengan mengatakan bahwa kau tidak merasa diperbudak oleh televisi—bahwa kau punya hak serta kekuatan untuk menghidupkan atau mematikan televisi kapan pun kau menginginkannya.

Benarkah? Dan benarkah kau mampu melakukan hak serta kekuatan yang kau miliki itu?

Baca lanjutannya: Menghargai dan Menghayati Waktu (2)