Mengenal Kepadatan Penduduk dan Cara Menghitungnya

  Mengenal Kepadatan Penduduk dan Cara Menghitungnya

BIBLIOTIKA - Kepadatan penduduk (population density) adalah jumlah penduduk di suatu daerah per satuan luas. Kepadatan penduduk di suatu daerah bisa dihitung dengan rumus: Kepadatan penduduk = Jumlah total penduduk / Luas wilayah. Secara umum, kepadatan penduduk dibagi menjadi empat macam, yaitu:

Kepadatan Aritmatik; adalah jumlah penduduk rata-rata per kilometer persegi daerah, tanpa memperhitungkan kualitas daerah maupun kualitas penduduk. Jenis kepadatan ini merupakan kepadatan tradisional, yang paling mudah perhitungannya.

Kepadatan Fisiologis; adalah jumlah penduduk setiap kesatuan wilayah luas dari tanah produktif suatu daerah. Yang dimaksud tanah produktif dalam hal ini adalah tanah yang digarap.

Kepadatan Agraris; adalah jumlah penduduk yang bertani dari setiap kesatuan tanah yang dikerjakan untuk pertanian.

Kepadatan Ekonomis; adalah jumlah penduduk yang dapat dijamin penghidupannya oleh tiap kesatuan wilayah tanah (kesatuan luas tanah). Perhitungan ini tidak hanya tergantung pada sektor pertanian, namun juga sektor industri dan perdagangan. Kepadatan jenis ini dipengaruhi oleh kesuburan tanah, tingkat intensitas dalam bertani, jarak dengan kota-kota industri makmur, tingkat kebutuhan rohani penduduk, gaya hidup, dan lain-lain.

Berdasarkan kepadatan penduduknya, tiap-tiap daerah dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu:

Kelebihan penduduk (over population); yaitu keadaan daerah tertentu selama waktu yang terbatas, ketika bahan-bahan keperluan hidup tidak mencukupi kebutuhan daerah tersebut secara layak. Daerah yang mengalami kelebihan penduduk biasanya akan mengalami kesulitan pemenuhan kebutuhan pokok (pangan, sandang, dan tempat tinggal).

Kekurangan penduduk (under population); yaitu keadaan suatu daerah tertentu, ketika jumlah penduduk sangat kecil atau sedikit, sehingga hanya sebagian sumber alam yang bisa dimanfaatkan.

Penduduk optimum (optimum population); yaitu jumlah penduduk yang paling baik berdasarkan daerah tertentu. Penduduk dapat berproduksi maksimum per kapita, berdasarkan sumber alam yang tersedia seiring teknologi yang berkembang.

Cara menghitung kepadatan penduduk

Ada dua cara mengukur kepadatan penduduk suatu negara, yaitu dengan rumus Kepadatan Penduduk Aritmatik dan Kepadatan Penduduk Netto.

Kepadatan Penduduk Aritmatik adalah suatu angka yang menunjukkan rata-rata penduduk menempati setiap 1 kilometer persegi (km2) permukaan bumi, atau jumlah semua penduduk dalam suatu wilayah atau negara dibagi luas seluruh wilayahnya.

Sedangkan Kepadatan Penduduk Netto adalah suatu angka yang menunjukkan rata-rata penduduk yang menempati setiap 1 kilometer persegi wilayah agraris atau pertanian, atau jumlah semua penduduk dalam suatu wilayah atau negara, dibagi luas lahan pertaniannya.

Ciri-ciri kepadatan penduduk yang makin lama makin padat adalah tingginya pertumbuhan penduduk yang terus berjalan, dan meningkatnya jumlah pemukiman di daerah tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepadatan penduduk adalah:
  1. Faktor lingkungan yang menguntungkan; seperti kesuburan tanah atau iklim.
  2. Faktor ekonomi; yaitu tersedianya sumber daya alam dan lapangan kerja.
  3. Faktor historis; pusat-pusat kegiatan penduduk pada zaman dulu.
  4. Faktor sosiokultural; kebudayaan atau adat istiadat daerah.

Kepadatan penduduk di Indonesia lebih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Ada beberapa asumsi penyebab kepadatan tersebut, yaitu tingginya tingkat pertumbuhan penduduk; banyaknya migrasi nasional dari pulau lain ke Pulau Jawa, yang umumnya bertujuan mencari penghidupan yang lebih baik; kurangnya kesadaran untuk bertransmigrasi; hingga karena faktor historis, yaitu keberadaan kerajaan-kerajaan besar zaman dulu di Pulau Jawa, sehingga pusat kegiatan penduduk ada di daerah tersebut.

Dari tingkat kepadatan penduduk, kita dapat mengetahui perkembangan penduduk dan gejala-gejala sosial-ekonomi di setiap daerah. Dampak kepadatan penduduk, misalnya di daerah Jawa dan Bali, adalah:

a. Luas tanah pertanian menyempit, sehingga produksi pangan menurun.
b. Kelebihan tenaga kerja menimbulkan peningkatan jumlah pengangguran.
c. Fasilitas kehidupan yang ada tidak mampu menampung jumlah penduduk yang semakin banyak, sehingga kualitas penduduk menurun.

Sedangkan daerah yang ditinggalkan penduduk atau minim jumlah penduduknya, seperti Papua, Kalimantan, dan Sulawesi, akan berakibat luas lahan yang besar tidak dapat diolah karena kekurangan tenaga kerja, sehingga tidak dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk. Dampak lainnya adalah banyak sumber alam yang belum dimanfaatkan.