Akar Segala Macam Kejahatan (3)

 Akar Segala Macam Kejahatan

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Akar Segala Macam Kejahatan ~ 2). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlbih dulu.

Orang yang paling kaya di dunia ini, yang memiliki banyak harta ini, yang bergelimang uang dan kemewahan ini, menemui ajal dengan cara yang sangat mengenaskan setelah bertahun-tahun hidup ditikam kesengsaraan dalam bentuk hati yang merana dan batin tersiksa. Kemana kesenangan dalam bentuk uang yang banyak itu? Kemana kebahagiaan dalam bentuk harta yang berlimpah itu? Kemana kedamaian berbentuk kekayaan dan kemahsyuran itu? Kemana...?

Jangankan orang-orang bodoh, bahkan orang-orang yang pintar,  cerdas dan bijaksana pun seringkali menjadi begitu naif ketika menghadapi uang.

Percayakah kamu kalau saya katakan bahwa uang mampu membuat seorang lelaki paling bijaksana di dunia bisa menjadi orang paling tolol sedunia...? Kamu pasti kenal dengan kata-kata bijaksana ini...

“Jika engkau mampu berkepala dingin saat sekelilingmu kehilangan akal dan menyalahkanmu; jika engkau bisa percaya diri saat orang lain meragukanmu, tetapi memperhatikan juga keraguan mereka; jika engkau bisa menunggu tanpa jemu dan tidak membalas kebohongan dengan kebohongan; atau kebencian dengan kebencian... Jika engkau bisa tahan mendengar kebenaran yang engkau katakan dipelintir oleh orang licik untuk mempengaruhi orang-orang bodoh; atau melihat jerih payahmu dihancurkan, tapi gigih bertahan membangunnya kembali dengan peralatan seadanya... Jika engkau bisa bergaul dengan rakyat jelata tanpa menjadi kampungan, dan dengan raja-raja tanpa menjadi sombong... Jika lawan maupun kawan tidak bisa merusakkanmu... Maka engkau adalah manusia sejati.”

Siapakah yang mengucapkan kata-kata bijak itu?

Benar, kata-kata bijak itu diucapkan oleh Rudyard Kipling, orang yang dianggap sebagai salah satu lelaki paling bijaksana di muka bumi. Dan Rudyard Kipling yang bijak itu pun menjadi begitu naif bahkan konyol, ketika menghadapi uang yang bahkan tidak seberapa banyaknya.

Ceritanya begini. Rudyard Kipling menikah dengan seorang gadis dari kota Vermont, Amerika, bernama Caroline Balestier, kemudian mereka membangun rumah indah di daerah Brattleboro di Vermont. Mereka menetap di sana dan bermaksud menghabiskan hidupnya di daerah itu. Kipling akrab dengan kakak iparnya, yang bernama Beatty Balestier, dan si kakak ipar itu pun menjadi sahabatnya yang paling dekat. Kedua orang itu pun bekerja dan bermain bersama.

Kemudian, Rudyard Kipling membeli beberapa bidang tanah milik kakak iparnya, dengan persetujuan bahwa kakak iparnya boleh memotong rumput yang ada di atas bidang tanah itu. Maka begitulah, setiap pagi atau sore hari, si kakak ipar tetap memotongi rumput dari tanah yang kini telah dibeli Kipling, dan menjual rumput itu ke peternakan.

Hingga suatu hari, mungkin Kipling berpikir, bahwa kalau dihitung-hitung, mungkin uang hasil penjualan rumput yang dipotong kakak iparnya itu suatu saat bisa melebihi harga tanah yang kini telah dibelinya. Maka Kipling pun kemudian menanami bidang tanahnya itu dengan bunga-bunga, dengan tujuan agar si kakak ipar tak bisa lagi mencabuti rumput di tanahnya.

Apa yang terjadi kemudian? Si kakak ipar yang melihat Kipling menanami bunga-bunga di bidang tanah itu langsung marah, karena merasa dilanggar haknya. Dia naik pitam. Hebatnya, Kipling menanggapi kemarahan itu dengan kemarahan pula. Kakak beradik ipar itu pun lalu perang mulut dan nyaris berantem.

Beberapa hari kemudian, ketika Rudyard Kipling sedang bersepeda di bidang tanahnya, tiba-tiba ia ditabrak oleh kereta kakak iparnya yang sengaja memotong jalan Kipling. Kipling jatuh jungkir-balik bersama sepedanya. Dia pun kehilangan kesabaran. Rudyard Kipling yang bijak itu, yang menulis, “Jika engkau mampu berkepala dingin saat sekelilingmu kehilangan akal dan menyalahkanmu,” ternyata ia sendiri kehilangan kesabaran. Ia marah dan menuntut agar kakak iparnya ditahan.

Kejadian itu dilanjutkan dengan sidang pengadilan yang sensasional. Itu adalah pertengkaran paling sengit di sidang pengadilan yang sangat terkenal dalam sejarah Vermont. Pertengkaran itu sedemikian terkenal, hingga dituliskan dalam sebuah buku berjudul ‘Rudyard Kipling’s Vermont Feud (Pertengkaran Rudyard Kipling di Vermont)’.

Wartawan dari kota-kota besar berdatangan dan membanjiri kota Vermont. Beritanya pun tersiar sampai ke penjuru dunia, tetapi persidangan itu tidak menghasilkan keputusan satu pun. Karena percekcokan ini pula, Kipling bersama istrinya kemudian meninggalkan Amerika untuk selama-lamanya. Segala pertengkaran dan segala kesedihan yang begitu besar itu hanya gara-gara sedikit uang yang tak seberapa, dari sejumput rumput yang tak begitu berharga.

Sekarang kita lihat, uang mampu menjadikan seorang manusia berhati lembut penuh kebijaksanaan, bisa berubah menjadi manusia berhati kasar penuh amarah. Di hadapan uang, orang bodoh dan orang bijak terkadang tak bisa lagi dibedakan.

Kita memang tak bisa menafikan bahwa uang juga membangun begitu banyak peradaban dalam kehidupan manusia. Uang melahirkan begitu banyak pemimpin dan orang-orang besar di muka bumi. Uang mampu menciptakan teknologi-teknologi canggih paling mutakhir yang satu abad lampau masih dianggap mimpi. Uang juga membantu ditemukannya berbagai macam obat untuk berbagai macam penyakit yang selama berpuluh tahun tak tertangani. Meskipun merusak dan memiliki energi jahat, uang juga memiliki sisi konstruktif yang membantu peradaban manusia dan mensejahterakannya.

Uang juga menjadikan negara-negara saling berperang, uang menyebabkan penyalahgunaan jabatan, pangkat dan wewenang, uang mendorong penggundulan hutan dan eksploitasi alam. Pendeknya, uang mampu menghadirkan surga bagi kehidupan manusia di dunia, uang pun bisa menciptakan neraka bagi kehidupan manusia di dunia.

Seluruh lini kehidupan manusia tak ada lagi yang steril dari pengaruh uang. Ribuan Perguruan Tinggi di negeri ini menggantungkan nasibnya pada uang. Ribuan sekolah, dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah, tergantung pada uang. Jutaan organisasi, baik yang profit maupun yang nonprofit, tetap menjadikan uang sebagai penggeraknya.

Sekian ribu orang menikah di setiap hari, ditunjang oleh uang dalam pelaksanaannya. Juga sekian ribu orang yang bercerai setiap hari, lebih banyak disebabkan oleh uang dibandingkan karena hal lainnya. Ratusan ribu perusahaan, dari yang paling kecil sampai yang paling besar, yang memproduksi komoditas paling mahal sampai yang murahan, semuanya digerakkan oleh uang dalam setiap detak lajunya.

Seumpama kehidupan, maka uang telah menjadi jantung yang menggerakkan seluruh denyut nadi kita. Uanglah yang terus membuat kehidupan terus berdenyut, berdetak, karena uang memang telah menjadi semacam jantung bagi kehidupan.

Tetapi saya ingin mengabarkan berita gembira kepadamu, bahwa selama uang hanya menjadi jantung, maka kita masih bisa mengimpikan kehidupan yang damai dan bahagia. Yang membuat kehidupan ini hancur bahkan binasa adalah ketika uang telah menjadi hati bagi kehidupan. Kebahagiaan dan segala keindahan bumi akan menjadi utopia jika uang telah menjadi hati. Semua mimpi indah yang bisa dibangun manusia hanya akan sia-sia jika uang telah menggantikan hati nurani.

Kitab-kitab bisnis, buku-buku manajemen dan pengembangan pribadi, serta ribuan buletin tentang karier, menyebutkan bahwa untuk bisa memiliki uang, apalagi dalam jumlah banyak, maka orang harus memiliki ambisi.

Saya setuju dengan statemen itu, karena jangankan untuk memperoleh uang yang menjadi jantung kehidupan, bahkan hanya sekadar untuk bisa bangun pagi pun kita harus berambisi. Tanpa ambisi, semua pencapaian hanya ada dalam mimpi. Karena itu, kalau kamu memiliki ambisi besar untuk mengumpulkan uang dalam jumlah besar, silakan. Itu bukan keinginan yang tercela. Yang tercela adalah jika ambisimu terhadap uang menyebabkanmu buta!

Silakan miliki ambisi yang besar untuk memiliki apa saja, tetapi jagalah agar ambisimu tidak membuta.