Tanda-Tanda Perang Dunia III Akan Terjadi (Bagian 2)

  Tanda-Tanda Perang Dunia III Akan Terjadi

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Tanda-Tanda Perang Dunia III Akan Terjadi - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Sampai sekarang, masalah di Pulau Senkaku itu belum selesai, dan masing-masing negara masih berkonflik, yang dikhawatirkan banyak orang dapat memicu pecahnya perang.

Potensi ancaman Iran

Ketegangan dan konflik serta ancaman perang tidak hanya terjadi di daerah Eropa Timur dan Asia Tenggara, namun juga dari Timur Tengah, yaitu Iran. Amerika Serikat sudah lama mencurigai Iran menyiapkan senjata nuklir, hingga akhirnya Iran dijatuhi sanksi berupa embargo ekonomi. Tetapi Iran tidak surut. Iran bahkan menantang Amerika, bahwa mereka siap berperang dengan Amerika kapan pun, di darat maupun di laut.

Hassan Firouzabadi, jenderal Iran, terang-terangan mengancam Amerika dan rezim Zionis (Israel), dan menganggap mereka sebagai musuh Iran. Kenyataan itu bahkan telah lama terjadi dan terus berlangsung.

Yang menjadi masalah, Iran bukan macan ompong. Mereka tidak hanya menggertak, tapi benar-benar memiliki kekuatan, baik militer maupun paramiliter. Iran mengklaim bahwa mereka memiliki 13,6 juta orang yang dapat memegang senjata kapan pun pemberitahuan dikeluarkan.

Meski klaim itu mungkin terdengar berlebihan, tetapi tetap saja tidak bisa diabaikan. Bagaimana pun, Iran memiliki potensi yang berbahaya jika mereka benar-benar mengancam perang, apalagi mereka juga dipercaya memiliki kekuatan dalam persenjataan berat dan canggih.

Iran memiliki angkatan udara yang meliputi 30.000 orang dan ratusan pesawat tempur, plus rudal penjelajah yang memiliki kemampuan tempuh hingga 2.000 kilometer. Jika perang terjadi, Iran bisa menghancurkan pangkalan militer Amerika di Teluk dengan sangat mudah.

Resesi global dan persaingan ekonomi

Perang Dunia I dan Perang Dunia II memang memiliki perbedaan besar, namun kedua perang itu memiliki kesamaan yang mencolok. Sebelum dua perang besar itu terjadi, resesi ekonomi menghantam beberapa negara (yang kemudian terlibat perang). Sekarang, hal yang sama sedang terjadi, hingga sebagian kalangan meyakini sebagai tanda akan meletusnya Perang Dunia III.

Perang Dunia I telah membantu Amerika untuk pulih dari resesi yang melanda negara mereka selama dua tahun, yang menurunkan nilai perdagangan mereka hingga 20 persen. Kemudian, Perang Dunia II dikenal telah memulihkan keseimbangan ekonomi dunia setelah dilanda The Great Depression (Depresi Besar). Kedua hal itu mengindikasikan hal yang sama, mengenai negara mana yang ekonominya pulih lebih cepat setelah perang besar terjadi.

Pada 1933, Jepang mengambil langkah untuk mendevaluasi mata uang mereka, yang hasilnya meningkatkan ekspor dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi mereka. Uang ekstra tersebut digunakan untuk membuat senjata dan amunisi, yang menjadikan Jepang memiliki keuntungan militer di tahun-tahun sebelum perang. Sementara itu, Jerman yang kalah perang menjadikan NAZI mengambil langkah serupa, yang juga mendapat dukungan luas dari masyarakat.

Sekarang, hal serupa terjadi. Di samping terjadi resesi di banyak negara, masalah itu masih ditambah dengan ancaman perang yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Iran dan Rusia, misalnya, ingin membentuk aliansi agar perekonomian mereka meningkat. Kemudian, Cina juga terus bersaing dengan negara-negara lain dalam bidang ekonomi.

Pemerintah Amerika Serikat memiliki utang sekitar USD 17 triliun, dan Cina memiliki 7 persen dari utang tersebut, atau sekitar USD 1,19 triliun. Seiring dengan itu, Cina berhasil melangkahi Jepang dan menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua.

Risiko besar dapat terjadi jika Cina memutuskan untuk melimpahkan utang Amerika Serikat. Cina mungkin akan mengalami kerugian finansial, tetapi hal itu juga membuat ekonomi Amerika Serikat akan dihantam pukulan melumpuhkan, begitu pula dengan negara-negara lain, karena dolar Amerika digunakan sebagai cadangan oleh hampir semua pemerintahan asing.

Seiring dengan itu, jika Amerika Serikat membantu Cina menguasai Laut Cina Selatan, maka Amerika Serikat dapat menghilangkan utang mereka, dan menyalurkan keuntungan ekstra ke pengeluaran militer. Aliran moneter ini adalah aliran moneter yang sama persis, yang dulu terjadi pada Perang Dunia II. Hanya saja, kali ini, senjata yang digunakan akan lebih besar, lebih berbahaya, dengan dampak kerusakan yang akan jauh lebih besar dibandingkan perang-perang sebelumnya.