Negara-negara yang Terlibat Konflik Suriah (1)

Negara-negara yang Terlibat Konflik Suriah

BIBLIOTIKA - Masalah di Suriah, yang semula bisa dibilang masalah internal—antara penguasa dengan rakyatnya—kini telah berubah menjadi konflik internasional, karena banyaknya negara yang terlibat. Konflik yang semula terkait politik, yaitu tuntutan agar pemimpin Suriah turun tahta, kini telah berubah menjadi konflik dan perang melawan teroris.

Karena konflik yang berkembang dan terus meluas, banyak pihak (negara) berdatangan ke Suriah, dengan misi dan kepentingan masing-masing. Mereka yang datang itu biasa disebut foreign fighter atau pejuang asing, dan para pejuang asing di Suriah bisa dibedakan menjadi dua jenis. Yang pertama adalah state actor atau tentara yang ditugaskan negaranya, dan yang kedua adalah non-state actor seperti milisi syiah asal Irak, dan Hizbullah dari Lebanon.

Berikut ini berbagai negara yang terlibat dengan kepentingan dan misi masing-masing di Suriah.

Amerika Serikat


Presiden Amerika, Barack Omaba, telah menyatakan bahwa misi pasukan Amerika di Suriah adalah untuk melawan teroris, dan bahwa harus ada transisi pemerintahan di Damaskus, yang berarti melengserkan Bashar al-Assad.

Meski begitu, John Kerry telah mengisyaratkan bahwa Bashar al-Assad bisa menjadi bagian dari proses transisi itu, yang berarti sikap AS melunak dibanding sebelumnya ketika mereka menuntut Assad untuk turun tahta. Di luar hal tersebut, upaya AS mempersenjatai pemberontak Suriah yang moderat telah gagal total. Sementara sikap Rusia yang lebih tegas dalam konflik Suriah menjadikan kondisi AS lebih sulit dibanding sebelumnya.

Rusia

Presiden Rusia, Vladimir Putin, telah mengisyaratkan untuk meningkatkan dukungan militer bagi Bashar Al-Assad, dan dia melakukan lebih banyak hal lagi selain itu. “Akan menjadi kesalahan besar jika tidak bekerja sama dengan Assad untuk melawan kelompok jihadis di Suriah,” ujar Putin.

Namun, seiring membuat perencanaan untuk menghadapi kelompok jihadis, Rusia juga meningkatkan dukungannya untuk Presiden Suriah. Putin mendasarkan pada kebutuhan untuk menjaga struktur negara Suriah, dan oposisi moderat, yang tidak termasuk kelompok pemberontak bersenjata.

Misi utama Rusia di Suriah adalah membantu pasukan Bashar Al-Assad, mendukung serangan dengan tentara yang tersisa, dan mengamankan kekuasaan, serta menentukan masa depan Suriah dan nasib pribadi Assad. Serangan yang ditujukan kepada ISIS adalah misi resmi yang digunakan untuk membingkai misi utama tersebut.

Salah satu poin dari solusi yang ditawarkan Rusia adalah pembagian dua kategori untuk oposisi bersenjata Suriah. Pertama adalah mereka yang bersedia untuk masuk ke dalam negosiasi dengan Bashar Assad, dan kedua adalah mereka yang akan melanjutkan perlawanan bersenjata.

Inggris

Inggris juga terlibat dalam konflik di Suriah, dan mengisyaratkan bahwa Assad tidak harus mundur dalam waktu dekat, tetapi dalam jangka beberapa bulan. Selain itu, Inggris juga bersikeras Assad harus diadili atas kejahatan perang. Dengan kata lain, Inggris membiarkan Assad tetap berkuasa selama masa transisi, namun Assad harus bertanggung jawab atas kekerasan yang dilakukan terhadap rakyatnya.

Inggris adalah bagian dari koalisi AS anti-ISIS di Irak, dan dapat memperpanjang serangan udara ke Suriah. Inggris juga menjadi pendukung oposisi Suriah yang moderat.

Baca lanjutannya: Negara-negara yang Terlibat Konflik Suriah (2)