Negara-negara yang Terlibat Konflik Suriah (2)

 Negara-negara yang Terlibat Konflik Suriah

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Negara-negara yang Terlibat Konflik Suriah 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Prancis dan Uni Eropa

Jika Inggris ingin membiarkan Bashar Al-Assad tetap berkuasa selama masa transisi, hal berbeda dinyatakan oleh Prancis. Di antara negara-negara Uni Eropa lain, bisa dibilang Prancis yang paling keras dalam bersikap, dan menentang peran Assad dalam masa transisi. Fran├žois Hollande, Presiden Prancis, mengatakan, “Dia (Assad) tidak bisa menjadi bagian dari solusi.”

Pandangan yang sama disampaikan oleh Federica Mogherini, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa. Sementara Angela Merkel, Kanselir Jerman, mengatakan bahwa pembicaraan tentang masa depan Suriah harus menyertakan Assad.

Negara anggota Uni Eropa lainnya, Austria dan Spanyol, secara eksplisit mengatakan tentang perlunya kerja sama keamanan dan dialog dengan Presiden Suriah, yang menurut mereka merupakan partner terbaik untuk memerangi ISIS.

Iran

Sejak lama, Iran sangat solid dalam memberikan dukungan untuk rezim Suriah. Sebagaimana Rusia, Iran juga menolak solusi apa pun jika Bashar Al-Assad harus mundur dari jabatannya.

Pengaruh militer dan politik Iran di Damaskus lebih kuat dari negara lain, dikombinasikan dengan milisi yang dimainkan oleh sekutunya, kelompok Hizbullah dari Lebanon. Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengatakan bahwa Teheran bersedia bekerja sama dengan pihak lain di Suriah, tetapi hanya jika prioritas mereka adalah untuk memerangi terorisme, bukan melengserkan rezim Assad.

Arab Saudi dan koalisi negara Islam

Berbeda dengan Iran dan Rusia yang ingin tetap mempertahankan Bashar Al-Assad, Arab Saudi memiliki keinginan lain dalam konflik di Suriah. Mereka berkomitmen untuk mendukung pemberontak yang berjuang untuk menggulingkan Assad, dan menegaskan bahwa Bashar Al-Assad harus mundur.

Sebelumnya, Arab Saudi telah berkoalisi dengan AS dalam mendukung pemberontak di Suriah. Setelah itu, Arab Saudi mengadakan konferensi di Riyadh, yang mengundang perwakilan oposisi Suriah dan komandan kelompok-kelompok pejuang di Suriah, minus Jabhat al-Nusra dan ISIS. Ahrar Syam juga diundang, tetapi mundur pada hari kedua konferensi.

Turki

Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki, berpendapat bahwa Bashar Al-Assad bisa berperan dalam transisi politik, sebagaimana yang ditawarkan AS. Meski begitu, Erdogan mengatakan bahwa tidak mungkin bagi Suriah untuk “menerima seorang diktator yang telah menyebabkan kematian hingga 350.000 orang”.

Sebelumnya, Erdogan bersikeras Bashar Al-Assad harus menyerahkan kekuasaan. Perubahan sikap yang melunak itu tampaknya dipengaruhi oleh faktor lain. Selain itu, terkait Suriah, Turki juga memiliki misi dan prioritas lain, yaitu memerangi Suku Kurdi.

Israel

Israel juga memiliki kepentingan dalam konflik di Suriah, khususnya terkait dengan aspek keamanan nasional Israel, dengan fokus pada Hizbullah di Lebanon. Benyamin Netanyahu, pemimpin Israel, telah mengadakan pembicaraan dengan Vladimir Putin untuk memastikan pesawat Rusia tidak bertentangan dengan Israel ketika mengambil tindakan di wilayah udara Suriah. Israel juga menyumbang informasi intelijen untuk memfasilitasi operasi militer Rusia.

Selain banyaknya negara yang terlibat, dan beragamnya misi serta kepentingan masing-masing, masalah lain yang menghantui Suriah adalah konflik di antara negara-negara yang ikut bermain di sana. Baca uraian selengkapnya di sini: Konflik Suriah dan Konflik Banyak Negara