Mengapa Capres Amerika Hanya Hillary Clinton dan Donald Trump?

Mengapa Capres Amerika Hanya Hillary Clinton dan Donald Trump?

BIBLIOTIKA - Saat ini, Donald Trump telah menjadi Presiden AS, setelah mengalahkan Hillary Clinton dalam pemilu pilpres. Meski begitu, sebagian orang—khususnya yang awam politik di Amerika—mungkin masih bertanya-tanya, mengapa calon presiden 2016 di Amerika Serikat hanya Hillary Clinton dan Donald Trump?

Pertanyaan itu diajukan, karena banyak pihak yang menilai Hillary Clinton dan Donald Trump sama-sama “bermasalah”, dan kurang mampu menarik simpati.

Donald Trump, misalnya, kerap terlilit kontroversi akibat ulah atau ucapannya sendiri. Dia diketahui pernah mengecam imigran Meksiko, mengeluarkan komentar buruk kepada peserta kontes Miss Universe, penyiar Fox News, dan lain-lain. Dia juga harus memberi penjelasan terkait penolakannya mengumumkan data pembayaran pajak, dan mengapa ada tudingan ia tak membayar pajak pendapatan selama 18 tahun.

Sementara itu, Hillary Clinton juga menghadapi persoalan serius, terutama terkait penggunaan email-email pribadi, saat menjadi Menteri Luar Negeri, dan soal sumbangan asing ke Yayasan Clinton. Masih terkait Hillary, Wikileaks bahkan membocorkan beberapa “pembicaraan memalukan” di antara anggota tim kampanyenya.

Melihat kontroversi dan masalah yang ada di sekitar dua orang itu, sebagian orang awam pun bertanya-tanya, mengapa mereka yang dicalonkan sebagai Presiden Amerika Serikat?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu melihat sistem yang digunakan pemerintah Amerika dalam menentukan calon presiden. Di Amerika, pemilihan presiden menggunakan sistem yang disebut “electoral college”, yang pada intinya adalah sekelompok orang memilih pemenang. Sekelompok orang itu berjumlah 538. Sementara untuk dapat menjadi calon presiden, seseorang harus memperoleh setidaknya 270 suara atau dukungan dari sekelompok orang tadi.

Di Amerika Serikat terdapat banyak negara bagian. Setiap negara bagian punya jumlah “elector” yang didasarkan pada populasi. Ketika warga AS mencoblos di bilik suara, sebenarnya yang mereka pilih adalah “elector”. Sementara “elector” sudah diketahui posisinya, apakah akan memilih Si A atau Si B.

Yang menarik, di hampir semua negara bagian (kecuali Nebraska dan Maine), berlaku prinsip “the winners takes all”. Maksudnya, pemenang akan mendapatkan semua jumlah “elector” di negara bagian tersebut. Misalnya, pemenang di New York akan mendapatkan 29 electoral votes.

Untuk mendapatkan 270 suara, hasil di negara-negara bagian yang berpotensi dimenangkan—baik oleh Demokrat atau Republik—biasa disebut “swing state”, yang sering kali menjadi penentu hasil pilpres.

Kemudian, untuk dapat dicalonkan sebagai presiden di Amerika Serikat, seseorang harus memenuhi beberapa syarat, di antaranya lahir sebagai warga negara AS, berusia setidaknya 35 tahun, dan telah bermukim di AS selama 14 tahun.

Sejak tahun 1933, hampir semua presiden yang terpilih sebelumnya menjabat sebagai gubernur, senator, atau perwira tinggi militer. Syarat lain yang tak tertulis adalah termasuk tokoh nasional, dan menjadi sumber berita.

Dalam pilpres 2016, ada 10 gubernur dan calon gubernur, serta 10 anggota dan mantan anggota senat yang dicalonkan atau mencalonkan diri sebagai presiden, termasuk Hillary Clinton dan Donald Trump.

Mereka yang dicalonkan atau mencalonkan diri itu kemudian menjalani proses dan tahapan tertentu, hingga kemudian yang tersisa (lolos) tinggal Hillary Clinton yang didukung Demokrat, dan Donald Trump yang didukung Republik. Karena itulah, dua orang itu yang lalu maju sebagai calon Presiden Amerika.