Masalah Air di Indonesia (2)

 Masalah Air di Indonesia

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Masalah Air di Indonesia 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Pada saat ini, sekitar 70 persen konflik yang terjadi di dunia berlatar belakang energi, misalnya minyak. Persentase setelah itu didasari motif penguasaan sumber pangan, air bersih, dan sumber hayati. Konflik terkait hal ini tidak selalu berupa perang yang melibatkan militer dan persenjataan, tapi juga konflik dalam bentuk persaingan di antara masyarakat yang membutuhkan akses air bersih.

Indonesia mencanangkan bahwa pada tahun 2019 seluruh masyarakat Indonesia akan mendapatkan hak atas air bersih. Tetapi, hingga saat ini target pemenuhan hak atas air bagi rakyat itu belum juga tercapai. PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) yang diharapkan dapat menjadi sarana pemenuhan hak tersebut malah mengaku terus mengalami kerugian, sehingga sulit untuk berkembang.

Masalah yang dihadapi PDAM tampaknya adalah kompetisi dengan banyaknya infrastruktur bangunan bertingkat dalam hal pemanfaatan air. Hampir sebagian besar kota di Indonesia kini sedang menjalankan pembangunan yang masif. Hal itu secara langsung berdampak pada ketersediaan air.

Selain itu, PDAM juga semakin terbebani, karena ketersediaan air bersih lebih banyak dimanfaatkan oleh hotel dan aparteman. Masifnya pembangunan mal, hotel, dan apartemen itulah yang menyebabkan adanya kompetisi untuk mendapatkan air bagi PDAM untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sebenarnya, jika ditinjau lebih jauh, masalah air tidak hanya sebatas PDAM dan persaingan dengan perusahaan swasta yang juga mengelola air untuk kebutuhan konsumsi. Pemerintah Indonesia juga tampaknya belum memiliki perhatian lebih untuk masalah air, sehingga terkesan tidak terlalu menganggapnya penting. Fokus pemerintah lebih tertuju pada hal-hal besar yang lebih tampak, dan abai terhadap kebutuhan mendasar banyak rakyat, yaitu air.

Pada saat ini, misalnya, ada banyak pabrik atau perusahaan di Indonesia yang melakukan eksplorasi air atau sumber mata air. Mereka melakukan penggalian hingga kedalaman ratusan meter, lalu air yang diperoleh dikembangkan menjadi air minum. Ini pun seharusnya mendapat perhatian khusus pemerintah, sehingga masing-masing perusahaan pengolah air tidak seenaknya menggali tanah dan menyedot sumber mata air. Karena ketika air bersih dari sumber disedot sebanyak-banyaknya, yang tersisa bagi rakyat atau masyarakat luas adalah air kotor yang memang sisa.

Pada saat ini, tak terhitung banyaknya rumah tangga yang kesulitan mendapat air bersih. Di masa lalu, sumur di rumah menyediakan air yang bersih, jernih, dan layak digunakan. Tetapi, sekarang, air di sumur tidak lagi jernih, rasanya berbeda, bahkan disinyalir tidak lagi sehat untuk dikonsumsi. Begitu pula air yang diambil melalui pompa dan lainnya. Semuanya telah tercemar. Sehingga rumah tangga zaman sekarang harus membeli jika menginginkan air bersih.

Persoalan air ini dikhawatirkan akan menjadi persoalan besar, jika tidak segera ditangani. Di masa lalu, mungkin, orang berselisih karena masalah batas tanah dan semacamnya. Namun, kini, orang bisa berselisih karena masalah air. Di banyak daerah di Indonesia, para petani juga telah terlibat perselisihan atau konflik karena sulitnya mendapatkan air. Itu persoalan yang mungkin tampak kecil, namun bisa jadi membesar dari waktu ke waktu.

Karena itu, sudah saatnya bagi pemerintah Indonesia untuk mulai memberi perhatian dan mengurus masalah air secara lebih baik. Bukan hanya karena air adalah sumber daya alam yang dimiliki negara, tetapi juga karena air adalah sumber daya yang dibutuhkan seluruh rakyat Indonesia. Lebih dari itu, air adalah sumber kehidupan. Tidak hanya bagi manusia, tapi juga bagi makhluk hidup lainnya.

Baca juga: Senjata Paling Mengerikan di Dunia