Krisis Suriah dan Benih Perang Dunia III

Krisis Suriah dan Benih Perang Dunia III

BIBLIOTIKA - Krisis di Suriah bisa dibilang sebuah bom waktu yang terus menghitung mundur, menuju meletusnya Perang Dunia III. Hal itu diakibatkan eskalasi krisis yang makin meningkat dan meluas, hingga penuh sesaknya pihak yang terlibat. Setiap saat langit Suriah penuh dengan pesawat-pesawat tempur dan jet, helikoter, drone, hingga misil yang terus berseliweran. Di atas semuanya itu, ada berbagai kepentingan yang bermain di sana.

Dua pihak yang bisa dikatakan sebagai yang terbesar adalah Rusia dan Amerika Serikat. Rusia terlibat dalam konflik di Suriah, karena ingin mempertahankan kepemimpinan Bashar Al-Assad sebagai presiden Suriah. Sementara Amerika Serikat terlibat di sana karena ingin menggulingkan Assad, sekaligus memerangi ISIS. Di sekeliling dua negara tersebut, ada negara-negara lain yang menjadi sekutu mereka.

Karena itulah, konflik di Suriah bagaikan “simulasi” untuk menuju terjadinya Perang Dunia secara sesungguhnya, yaitu ketika masing-masing negara—yang terpecah dalam dua blok besar—benar-benar saling berhadapan dan saling serang.

Untuk melihat lebih jelas bagaimana konflik di Suriah begitu mencekam dan berbahaya, berikut ini adalah penjabaran masing-masing faksi yang terlibat dalam konflik tersebut, dan bagaimana wilayah Suriah bagaikan tempat pameran atau unjuk kekuatan dalam militer dan persenjataan. Di Suriah, kekuatan yang terlibat terbagi menjadi tiga, yaitu:

Koalisi Barat

Koalisi Barat berisi 12 negara yang memiliki peran masing-masing dalam hal penyerangan.
  1. Amerika Serikat: serangan udara, suplai senjata, dan pasukan khusus di Suriah dan Irak.
  2. Inggris: serangan udara, suplai senjata di Irak, pasukan khusus di Suriah dan Irak.
  3. Prancis: serangan udara dan pasukan khusus di Suriah dan Irak.
  4. Australia: serangan udara dan pasukan khusus di Irak.
  5. Arab Saudi: serangan udara di Suriah.
  6. Qatar: serangan udara di Suriah.
  7. Belgia: serangan udara kepada ISIS di Suriah.
  8. Kanada : serangan udara di Suriah dan Irak yang dilancarkan khusus oleh Kuwait.
  9. Yordania: serangan udara di Suriah dan Irak.
  10. Belanda: serangan udara di Irak yang dilancarkan khusus oleh Yordania.
  11. Denmark: serangan udara di utara Irak.
  12. Turki: menjaga perbatasan di Suriah dan Irak.

ISIS

ISIS memiliki 60 ribu militan di Suriah dan Irak, dilengkapi tank, kendaraan lapis baja, pelontar roket, RPG (pelontar granat), senapan serbu AK-47, dan senapan mesin jenis PKM.

Koalisi Pro-Assad

Koalisi Pro-Assad berisi 6 negara yang memiliki peran masing-masing dalam hal penyerangan.
  1. Rusia: serangan udara, suplai senjata, dan pasukan khusus yang ditempatkan di Suriah.
  2. Suriah: angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara.
  3. Iran: angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara.
  4. Cina: angkatan laut, namun dikabarkan akan menurunkan juga angkatan udara untuk membantu Rusia.
  5. Lebanon: tentara darat Hizbullah.
  6. Irak: angkatan darat, angkatan udara, dan militer Syiah.

Dengan meningkatnya lalu lintas militer di kedua negara tersebut, banyak pihak khawatir mengenai terjadinya kecelakaan, seperti tidak disengaja tertembak, dan menimbulkan kesalahpahaman antar-negara. Karena, jika hal itu sampai terjadi, maka konflik di Suriah dapat meluas, bukan hanya di Suriah dan Irak, tapi juga di dunia. Itulah kenapa konflik di Suriah dianggap banyak analis militer sebagai benih Perang Dunia III yang bisa saja tiba.