Konflik Suriah dan Konflik Banyak Negara (2)

  Konflik Suriah dan Konflik Banyak Negara

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Konflik Suriah dan Konflik Banyak Negara 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Hal ini juga menunjukkan bahwa Cina memainkan permainan jangka panjang; memberi jalan bagi Rusia untuk menyabotase kredibilitas Amerika di mata dunia, dengan harapan suatu hari Cina akan mengambil peran sebagai pemimpin dunia, karena pengaruh kekuatan ekonomi yang mereka miliki.

Rusia, Inggris, dan Prancis

Rusia memiliki konflik dengan Inggris, yang dimulai dari peristiwa pembunuhan pembangkang Alexander Litvinenko di London pada tahun 2006, dan peristiwa lanjutannya. Inggris, bersama Prancis, juga menjadi pionir dalam menjatuhkan sanksi atas keterlibatan Rusia dalam konflik di Ukraina, dan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, juga mengecam Rusia atas dukungan mereka terhadap Assad.

Sebelumnya, Inggris dan Prancis telah memberi dukungan serangan udara untuk pemberontak dalam perang yang menggulingkan Muammar Ghadafi di Libya. Kini, dalam konflik di Suriah, dua negara Eropa tersebut mendirikan kelompok “Friends of Syria” yang ditujukan untuk menyalurkan dukungan diplomatik dan uang tunai kepada oposisi Suriah.

Terkait hal itu, Rusia menganggap intervensi Inggris dan Prancis di Libya sebagai sebuah kegagalan. Rusia juga menyerukan pertemuan bagi negara-negara yang berkepentingan di Suriah, namun mereka tidak mengundang Inggris dan Prancis.

AS, Inggris, dan Prancis

Amerika, Inggris, dan Prancis, adalah tiga negara yang telah bersekutu sejak lama. Namun, dalam konflik di Suriah, masing-masing negara tersebut memiliki kekecewaan masing-masing, khususnya terkait kebijakan DK PBB yang ditujukan untuk Suriah.

Prancis adalah negara yang paling bersemangat di antara semua negara untuk melakukan intervensi militer di Suriah, dan Presiden Barack Obama akhirnya dibujuk untuk memulai serangan udara pada 2013, dengan alasan/tuduhan penggunaan senjata kimia oleh rezim Assad. Sementara Prancis merasa dilemahkan oleh penolakan Inggris untuk bergabung dalam aliansi militer di Suriah, akibat kegagalan PM Inggris, David Cameron, dalam memenangkan voting di House of Commons (Parlemen Inggris).

Di luar hal itu, Washington diketahui pernah tidak mengundang Inggris dan Prancis dalam beberapa KTT (Konferensi Tingkat Tinggi), sebagaimana yang dilakukan oleh Moskow (Rusia).

Inggris dan Prancis tentu sakit hati atas hal itu, tapi dua negara tersebut percaya bahwa mereka butuh AS untuk meyakinkan rakyat di negara masing-masing mengenai perlunya tindakan mereka di Suriah. Dengan melibatkan AS, upaya Inggris dan Prancis dalam kebijakan luar negeri (dalam hal ini Suriah) akan lebih mudah dilakukan, sebagaimana yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir.

Cina, Inggris, dan Prancis

Pada 2012, Inggris dan Cina mengadakan pertemuan bersama dengan Dalai Lama. Dalam pertemuan itu, David Cameron, Perdana Menteri Inggris, sempat menyinggung Cina. Atas hal tersebut, Inggris pun berusaha memperbaiki hubungan mereka dengan Cina. Bagaimana pun, Inggris—juga Prancis—menganggap penting hubungan dagang dengan Cina.

Dalam urusan perdagangan, Prancis terkait dengan industri pesawat terbang, dan mereka menjual Airbus ke Cina. Sementara Inggris terkait dengan sektor finansial yang berhubungan dengan saham dan mata uang Cina. Kini, ketika masing-masing negara—Cina, Inggris, dan Prancis—sama-sama berada di Suriah, mereka tak bisa menghindarkan konflik akibat kepentingan yang berbeda.

Rusia dan Turki

Hubungan Rusia dan Turki memburuk setelah dipicu perbedaan kepentingan di Suriah. Rusia adalah sekutu utama Bashar Assad, sedangkan Turki adalah negara tetangga Suriah yang menginginkan Assad turun. Namun, puncak ketegangan kedua negara itu dimulai saat Turki menembak jatuh pesawat perang Rusia di perbatasan Suriah, karena dinilai melanggar wilayah udara Turki.

Insiden penembakan jet Rusia itu menjadikan pemerintah Rusia memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Turki, dan meningkatkan kekuatan tempurnya di pangkalan udara Suriah. Selain itu, Rusia juga sering menuduh Turki banyak melakukan jual beli minyak ilegal dengan Islamic States.