Konflik Suriah dan Konflik Banyak Negara (1)

Konflik Suriah dan Konflik Banyak Negara

BIBLIOTIKA - Setidaknya ada lima negara anggota Dewan Keamanan PBB yang telah terlibat dalam konflik di Suriah, yaitu Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Inggris, dan Cina. Negara-negara itu terbagi dalam dua blok yang berbeda. Blok pertama adalah AS, Prancis, dan Inggris. Sementara blok kedua adalah Rusia dan Cina. Meski terbagi dalam blok yang berbeda, mereka menghadapi musuh yang sama, yaitu mujahidin Suriah, yang mereka generalisasi sebagai Islamic State atau ISIS.

Richard Spencer, seorang jurnalis di situs Telegraph, menulis bahwa Dewan Keamanan PBB (DK PBB) yang seharusnya menjadi penjaga perdamaian internasional justru membuat konflik di Suriah makin berdarah-darah. Berikut ini adalah konflik di antara negara-negara anggota DK PBB dan sekutunya di Suriah.

AS dan Rusia

Pada 2011, Amerika Serikat sudah menyerukan agar rezim Assad mundur dari kepemimpinannya di Suriah. Seruan itu merupakan respons AS atas protes rakyat Suriah, juga karena sikap represif Assad yang dilakukan terhadap rakyat Suriah. Sementara itu, di sisi lain, Rusia menginginkan Assad tetap memimpin Suriah. Rusia memiliki hubungan baik dengan pemimpin Suriah, khususnya Hafez Assad, ayah Bashar Al-Assad.

Karena itu, Rusia pun terus berusaha mempertahankan kepemimpinan Bashar Al-Assad, dan memveto setiap resolusi yang dikeluarkan Dewan Keamanan PBB terkait konflik di Suriah. Akibat pertentangan kepentingan itu, konflik di antara AS dan Rusia di Suriah pun memburuk.

Di Suriah, AS mendukung dan melatih pemberontak “moderat”, dalam aliansi dengan sekutu negara Teluk, tetapi AS juga terlibat dalam perang melawan kelompok jihadis seperti Jabhat al-Nusra, cabang lokal al-Qaeda di Suriah. Kehadiran Jabhat al-Nusra dan Islamic State telah membawa dua negara adidaya tersebut—AS dan Rusia—ke dalam satu posisi bersama, yang sama-sama menganggap terorisme sebagai musuh.

Meski begitu, dalam perlawanan terhadap teroris tersebut, AS dan Rusia memiliki pemikiran masing-masing. Bagi AS, Islamic State hanya dapat dikalahkan dengan faktor lain dari penyelesaian masalah yang lebih besar di Suriah, yaitu mundurnya Presiden Suriah. AS memandang Bashar Al-Assad terlibat dalam pembentukan Islamic State. Jika Bashar Al-Assad kehilangan kekuasaan, Ilamic State akan mudah dihancurkan.

Di sisi lain, Rusia berpandangan beda. Rusia ingin mengalahkan kelompok jihadis terlebih dulu, yang berarti menjaga Assad tetap berkuasa. Kedua negara adidaya tersebut bersama-sama menyerang kelompok jihadis, tetapi bekerja sama dengan pemain yang berbeda di medan Suriah. Yang satu ingin Assad mundur, dan yang satu lagi ingin mempertahankan Assad.

Bagaimana pun, dalam konflik di Suriah, Rusia ingin menghancurkan pasukan anti-Assad, meninggalkan dua kubu, yaitu tentara Suriah dan jihadis. Sementara itu, dalam pandangan AS, hal itu akan menjadikan gagasan mendukung pasukan moderat di Suriah akan sia-sia. Hal itu, pada gilirannya, berarti Arab Saudi dan negara-negara Sunni lain mungkin harus berjalan sendiri dalam konflik di Suriah tersebut—masalah yang lebih mudah dikelola untuk Rusia dan Iran.

Jika hal itu yang terjadi, maka Rusia akan mencapai tujuannya, yaitu memastikan bahwa rezim Suriah menjadi satu-satunya pemain yang sah dan layak di Suriah. Dalam proses pembentukan koalisi anti-Islamic State dengan Irak dan Iran, Rusia berusaha untuk menjadi pasukan “sah” dari kubu Assad. Selain itu, dalam jangka panjang, bisa jadi Assad akan lebih mudah diterima oleh Presiden AS selanjutnya, meski presiden AS yang sekarang sulit menerima Assad.

Karenanya, misi Rusia di Suriah telah jelas, yaitu mempertahankan posisi Assad di tampuk kekuasaan Suriah, dan—pada akhirnya—memaksa Amerika Serikat untuk menerima kenyataan itu.

Amerika dan Cina

Selain menghadapi konflik dengan Rusia, Amerika juga menghadapi konflik dengan Cina dalam konflik di Suriah. Cina memberi dukungan bagi Rusia—dalam bentuk hak veto di DK PBB—untuk menghentikan rencana Barat (Amerika Serikat) di Suriah, dan itu memperkuat posisi Rusia di sana.

Dalam krisis yang terjadi di Suriah, Cina telah memainkan sedikit peran militer atau diplomatik, sehingga Amerika berpikir bahwa Cina sedang memainkan peran spoiler (menghentikan satu solusi, tanpa memberikan alternatif).

Baca lanjutannya: Konflik Suriah dan Konflik Banyak Negara (2)