Detik-detik Kemenangan Donald Trump Menjadi Presiden Amerika Serikat (4)

 Detik-detik Kemenangan Donald Trump Menjadi Presiden Amerika Serikat

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Detik-detik Kemenangan Donald Trump Menjadi Presiden Amerika Serikat 3). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Beberapa bulan lalu, Economist Intelligence Unit (EIU) mengeluarkan kajian yang menyebut bahwa kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat merupakan salah satu dari 10 risiko tertinggi yang dihadapi dunia.

Divisi riset dan analisa majalah The Economist itu memperingatkan bahwa keberadaan Trump di kursi presiden AS bisa berdampak pada situasi keamanan dan politik dunia.

Pada skala risiko 1 hingga 25, naiknya Trump sebagai presiden AS dikategorikan 12. Berdasarkan angka tersebut, Trump menduduki peringkat enam dalam 10 risiko tertinggi.

Saham-saham Asia berjatuhan setelah hasil sementara penghitungan suara presiden AS menunjukkan kemenangan Donald Trump semakin dekat.

Semua pasar bursa utama di kawasan tersebut kini lebih rendah, dan uang mengalir ke saham-saham safe haven, emas, dan mata uang termasuk yen. Sementara itu, Peso Meksiko berada di posisi terendah pada dolar.

Donald Trump memenangkan Utah, Alabama, Kentucky, South Carolina, Nebraska, Indiana, West Virginia, Mississippi, Tennessee, Oklahoma, North Dakota, South Dakota, dan Texas.

Sementara Hillary Clinton memenangkan California, Oregon, New York, New Jersey, Connecticut, Massachusetts, Maryland, Vermont, Delaware, Illinois, Rhode Island, Hawaii, Washington, New Mexico, Colorado, dan Washington DC.

Donald Trump merebut kemenangan di negara-negara bagian yang swing states lebih dari yang dimenangkan Hillary Clinton. Trump memenangkan Florida, Ohio, dan North Carolina, dan hanya membutuhkan 26 electoral college lagi untuk menang.

Sejumlah swing states, menunjukkan keunggulan Trump, namun masih belum dipastikan: Pennsylvania and Michigan.

Dalam pesan video, Presiden Barack Obama mensyukuri demokrasi, lepas dari siapa pun calon yang menang. Lewat Twitter, ia menyerukan para pemilih, “untuk tidak memandang satu sama lain sebagai orang Demokrat atau Republik, namun sebagai sesama Amerika.”

Partai Republik juga tetap menguasai Senat, kendati beberapa posisi masih dipertarungkan. Kemenangan tipis Senator Pat Toomey atas calon Demokrat Katie McGinty, di Pennsylvania, membawa Republik ke garis mayoritas.

Itu berarti, Partai Republik akan tetap menguasai DPR dan Senat. Dan kemenangan Trump yang sudah di depan mata akan membuat Partai Republik melakukan sapu bersih, memudahkan mereka meloloskan perundangan.

Diperlukan 270 electoral vote untuk memenangkan Pemilihan Presiden AS. Donald Trump hanya membutuhkan 26 lagi, dan Hillary Clinton masih perlu 55 lagi. Sementara negara-negara bagian yang tersisa menunjukkan keunggulan Trump. Bahkan Kantor berita AP sudah menyebut bahwa Trump memenangkan Pensylvania dengan 20 electoral vote, yang berarti Trump hanya tinggal menunggu enam electoral vote dari Gedung Putih.

Ketua Tim Kampanye Hillary Clinton, John Podesta, menyeru para pendukung untuk meninggalkan hotel yang dipersiapkan sebagai tempat pesta kemenangan, dan memberikan pernyataan kalah.

“Mereka masih melakukan penghitungan suara,” ujarnya. “Setiap suara sangat berarti. Sejumlah negara bagian masih terlalu ketat (perolehan suaranya), jadi kami tak bisa mengatakan apa-apa malam ini. Semua orang, sebaiknya pulang ke rumah, tidurlah. Kami akan berbicara besok.”

Negara bagian Maine hanya punya empat electoral vote. Di sini Hillary Clinton menang, namun hanya tiga yang bisa diklaim sebagai suara Clinton, karena yang satu memilih Trump. Maine adalah satu dari dua negara bagian yang bisa memecah suara untuk calon yang berbeda. Satu lagi adalah Nebraska. Maka kini peroleh Clinton sebanyak 218, dan Trump sebanyak 245.

CNN dan NBC melaporkan, Hillary Clinton telah mengakui kemenangan Donald Trump sebagai Presiden AS.

Kantor berita AP memberitakan, Donald Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45.
Donald Trump memberikan pidato kemenangan di hadapan para pendukungnya. Ia mengatakan, “Saya sudah menerima telepon dari Menteri Clinton, yang mengucapkan selamat, pada kita semua...”

Perayaan kemenangan di kubu Partai Republik dimulai dengan pidato wakil presiden terpilih, Mike Pence. Lalu Trump masuk panggung, diiringi keluarganya. Ia peluk dan cium serta menjabat tangan semua orang. Kemudian memulai pidatonya, “Terima kasih semuanya. Maaf membuat Anda semua menunggu. Urusannya sungguh rumit,” yang disambut tepuk tangan gemuruh.

Trump melanjutkan, “Hillary telah bekerja sangat keras selama masa yang panjang, dan kita berutang budi atas pengabdiannya untuk bangsa ini. Kini tiba waktunya Amerika untuk membalut luka akibat perpecahan. Saya berikrar kepada setiap warga dari tanah air kita, bahwa saya akan menjadi presiden bagi setiap orang Amerika. Dan itu sangat penting bagi saya. Bagi mereka yang memilih untuk tidak mendukung saya di masa lalu, ada beberapa, saya meminta Anda memberi petunjuk dan bantuan sehingga kita bisa bekerja sama dan menyatukan negeri kita.”