Detik-detik Kemenangan Donald Trump Menjadi Presiden Amerika Serikat (3)

 Detik-detik Kemenangan Donald Trump Menjadi Presiden Amerika Serikat

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Detik-detik Kemenangan Donald Trump Menjadi Presiden Amerika Serikat 2). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Tetapi pada akhir masa kampanye, dia mulai menunjukkan akan meneruskan embargo ekonomi AS terhadap pulau tersebut. Penduduk Kuba tidak menyukai ketidakpastian, dan khawatir terhadap orang yang mungkin membahayakan langkah maju ini. Dan malam ini, warga Kuba menunggu dan menyaksikan dengan saksama.

ABC memproyeksikan, Partai Republik akan tetap menguasai mayoritas DPR. Mereka juga berusaha untuk tetap menguasai mayoritas di Senat.

Senator Chuck Schumer tetap berupaya untuk menjaga semangat para pendukungnya, ketika hasil sementara menunjukkan perolehan suara Hillary Clinton ketinggalan dari Donald Trump di negara-negara bagian kunci.

Senator Schumer memimpin kerumunan yang berkumpul di luar Javitz Convention Center, lokasi tim kampanye Clinton menggelar pesta pemilu, dengan meneriakkan “Saya yakin bahwa dia akan menang! Saya percaya dia akan menang!”

Brian McFeeters, wakil duta besar AS di Indonesia, memberikan komentar terkait pilpres Amerika kali ini. Ia menyatakan, “Saya yakin ada transisi kekuasaan yang damai seperti yang biasa terjadi antara para presiden, institusi, dan pejabat. Para pejabat yang bekerja dalam pemilu sangat kuat.

“Tentang hubungan AS dan Indonesia pasca pemilihan presiden, kami melihat kelangsungan hubungan AS dengan Asia, Indonesia secara khusus. Karena kami melihat Asia dan Indonesia penting. Indonesia adalah negara yang penting di ASEAN. Dan Indonesia adalah negara yang penting untuk global, Indonesia adalah anggota PBB, anggota G20. Kedua kandidat akan menjaga hubungan dengan Indonesia.”

Pemilihan di negara bagian Ohio dimenangkan Donald Trump. Suara gemeruh terdengar di markas Trump.

Pemenang di Ohio selalu memenangkan pemilihan presiden sejak Perang Dunia, kecuali hanya satu kali. Dalam pemilihan terakhir, Barack Obama menang dengan keunggulan tiga persen. 

Donald Trump menang di Ohio, sama artinya isyarat buruk bagi Hillary Clinton.

Hillary Clinton memenangkan pemilihan di negara bagian Virgina, yang juga merupakan kawasan mengambang, yang tak punya kecenderungan tradisional ke salah satu partai. Namun, dengan kemenangan Trump di Ohio, yang simbolik, semangat di kubu Hillary Clinton mulai meredup.

Ilhan Omar, seorang muslim keturunan Amerika-Somalia pertama yang menang dalam pemilihan legislator di negara bagian Minnesota dari Distrik 60B, menulis melalui akun Twitternya,

“Malam ini merupakan puncak dari kerja keras selama lebih dari setahun. Saya sangat bangga dengan kemenangan ini, karena District 60B mewakili keindahan Minnesota. Tetangga saya, dan seluruh orang di ruangan ini, mewakili apa yang kita sebut sebagai negara yang kita inginkan: bersatu dalam keberagaman.”

Donald Trump memenangkan pemilihan di wilayah Florida, sementara Hillary Clinton memenangkan pemilihan di Colorado.

Seorang staf senior Hillary Clinton menyatakan kepada Wall Street Journal, “Kami optimis tentang Pennsylvania dan Michigan, dan saya kira New Hampshire juga akan kami menangkan. Ditambah dengan New Hampshire atau Nevada yang tetap menjadi jalur untuk memenangkan 270 (electoral vote). Betapa pun, sebagian pendukung Hillary Clinton mulai menjajaki skenario tentang apa yang akan dilakukan jika ‘kemungkinan terburuk’ yang terjadi.”

Kaum muslim dan keturunan Hispanik AS yang cemas pada pernyataan-pernyataan Donald Trump, ramai-ramai mencoblos. Namun keikutsertaan kaum kulit hitam di TPS jauh menurun dibanding saat Barack Obama menjadi calon presiden pada tahun 2008 dan 2012 lalu.

BBC News Singapura melaporkan, “Perkiraan yang nyata dari kemungkinan Trump menjadi presiden AS menimbulkan kekhawatiran yang besar di kalangan para pelaku pasar. Pasar saham India yang baru saja dibuka memperlihatkan penurunan indeks harga saham 3,7%. Seluruh pasar saham seperti Australia, Jepang, Hong Kong, Shanghai, dan Korea Selatan, juga anjlok. Dan dana segar mengalir ke dalam investasi saham yang aman, emas dan nilai tukar.” 

Hillary Clinton mungkin akan memenangkan pemilihan di Michigan, namun itu bisa tak ada gunanya jika ia tak memenangkan sejumlah negara bagian kunci lain, yang tampak tak terlalu cerah prospeknya, seperti Wisconsin, Pennsylvania, Michigan, Arizona, dan New Hampshire.

Pakar politik AS, Norm Ornstein, menyatakan, “Clinton hanya tinggal punya satu jalur untuk memenangkan pemilihan presiden ini, sementara Trump masih punya banyak jalur kemenangan.”

Perolehan suara untuk Hillary Clinton merayap naik di Michigan, tetapi kemenangan di sana tidak akan berarti jika dia kalah di Wisconsin, Arizona, dan New Hampshire.

Baca lanjutannya: Detik-detik Kemenangan Donald Trump Menjadi Presiden Amerika Serikat (4)