Detik-detik Kemenangan Donald Trump Menjadi Presiden Amerika Serikat (2)

  Detik-detik Kemenangan Donald Trump Menjadi Presiden Amerika Serikat

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Detik-detik Kemenangan Donald Trump Menjadi Presiden Amerika Serikat 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Pada pukul 19:00 EST (07:00 WIB), TPS-TPS di Georgia, South Carolina, dan Virginia, akan ditutup, meski jika ada yang masih mengantri, pemilih tetap bisa menggunakan suaranya.

Wall Street Journal memberitakan, meski ada spekulasi mengenai tingginya angka pemilih yang belum menentukan pilihan, analisis dari data penghitungan nasional sementara dari Edison Research menunjukkan hanya sedikit jumlah pemilih yang masih belum menentukan pilihan mereka di awal November.

Data itu menunjukkan 12% pemilih telah menentukan pilihannya pada pekan lalu, termasuk 7% yang memastikan capres pilihannya pada beberapa hari lalu. Sekitar 60% telah menentukan pilihan mereka pada akhir Agustus, dan satu di antara empat orang telah memutuskan capres pilihannya pada September dan Oktober.

ABC News memprediksi Donald Trump akan menang di negara bagian West Virginia. West Virginia memenangkan capres dari Partai Republik sejak tahun 2000, dan pada pemilihan tahun 2012 pemilih partai tersebut meningkat di bagian Timur negara bagian yang terletak di kawasan pengunungan Appalachian tersebut.

ABC News memproyeksikan Donald Trump akan meraup suara di negara bagian yang merupakan produsen batu bara itu. Pada saat ini, pemungutan suara telah selesai di Ohio dan sebagian besar North Carolina. North Carolina secara resmi masih membuka delapan TPS di dekat kota Durham.

Trump diperkirakan menang di West Virginia

Negara bagian North Carolina yang menjadi “tempat pertarungan” penting bagi dua capres, memperpanjang masa pemungutan suara di delapan TPS di wilayah Durham, setelah adanya masalah pada sistem pemungutan suara elektronik. Wilayah ini merupakan basis partai Demokrat, yang dihuni oleh sebagian besar populasi Afrika-Amerika, yang secara tradisional mendukung partai ini.

Sebelumnya, Partai Republik di North Carolina menyampaikan pernyataan bahwa mereka “tidak melihat bukti-bukti yang dapat membenarkan perpanjangan waktu pemungutan suara”, karena “gangguan (hanya berlangsung) singkat”.

Sebelumnya diperkirakan, bahwa South Carolina, yang telah memilih calon dari Partai Republik selama sembilan pemilu, mungkin bisa menjadi sebuah kejutan, tetapi itu tak terjadi. ABC News sekarang memproyeksikan negara bagian itu akan mendukung Donald Trump.

Para pendukung dari Partai Demokrat berdatangan ke markas Hillary Clinton di New York, hanya dua blok dari Trump Tower, markas Donald Trump. Ada optimisme, ada juga rasa was-was.

ABC News memprediksikan kemenangan Hillary Clinton di New Jersey, di distrik Columbia, Massachusetts, Maryland, Delaware, Illinois, dan Rhode Island. Proyeksi terakhir ABC News; tujuh untuk Hillary Clinton, dua untuk Donald Trump.

Donald Trump tampak unggul di wilayah pendukung partai Republik seperti Indiana, Alabama, Kentucky, West Virginia, Oklahoma, Tennessee, dan South Carolina.

Hillary Clinton diprediksi akan menang di basis tradisional partai Demokrat seperti  Vermont, Delaware, Maryland, Massachusetts, dan New Jersey.

TPS telah ditutup di dua negara bagian penting, North Carolina, yang memiliki 15 Electoral College, dan Ohio, 18, tetapi belum proyeksi untuk wilayah tersebut.

North Carolina menggambarkan perpecahan warga Amerika, dengan para pemilih baru cenderung memilih Partai Demokrat, tetapi pemilih kulit putih yang miskin di wilayah pedesaan mendukung Donald Trump.

Ohio merupakan salah satu negara bagian yang hasilnya sangat diharapkan oleh para capres. Sejak Perang Dunia II, kecuali dalam satu kali pemilu, hasil pemilu di negara bagian ini “menentukan” kemenangan seorang kandidat presiden.

Seluruh mata juga tertuju ke Virginia, yang menunjukkan perolehan angka yang ketat bagi dua kandidat, dengan perbedaan ras, gender, dan pendidikan yang mendominasi para pemilih.

Pagi hari di negara-negara Asia, seluruh mata melihat ke arah AS. Di situs jejaring sosial Twitter versi Cina,  Sina Weibo, yang banyak digunakan oleh penduduk negara itu, cuitan dengan tagar #USelection telah dibaca 1,5 miliar pengguna.

Kuba adalah di antara negara-negara Amerika Latin yang gelisah menonton hasil pemilu, yang menentukan siapa yang akan menjadi penghuni Gedung Putih.

Hubungan Kuba dengan AS meningkat di masa pemerintahan Obama. Dengan kemenangan Hillary Clinton, tentunya peningkatan hubungan kedua negara itu akan berlanjut.

Jika Donald Trump yang terpilih sebagai presiden selanjutnya, itu berarti... tidak semua warga Kuba yakin apa itu artinya. Di satu titik, tampaknya kandidat partai Republik mendukung hubungan AS dengan Havana, dan memiliki banyak ide untuk perdagangan dengan Kuba.

Baca lanjutannya: Detik-detik Kemenangan Donald Trump Menjadi Presiden Amerika Serikat (3)