Detik-detik Kemenangan Donald Trump Menjadi Presiden Amerika Serikat (1)

Detik-detik Kemenangan Donald Trump Menjadi Presiden Amerika Serikat

BIBLIOTIKA - Tahun ini, Amerika Serikat mengadakan pemilihan umum untuk memilih presiden yang ke-45, untuk menggantikan Barack Obama yang telah menjabat dua periode sejak pertama kali terpilih pada 2008.

Yang bertarung memperebutkan kursi kepresidenan kali ini adalah Donald Trump dan Hillary Clinton. Pada akhirnya, setelah melewati aksi, orasi, kampanye, dan pemilihan, Donald Trump dinyatakan sebagai pemenang, dan menjadi Presiden Amerika Serikat.

Pemungutan suara dimulai pada pukul 06.00 EST, kawasan Pantai Timur (18.00 WIB), dengan warga di sebagian desa di New Hampshire mulai memilih setelah tengah malam.

Hillary Clinton dan Donald Trump memiliki jadwal padat dengan kampanye pada menit-menit terakhir, sampai Selasa dini hari. Keduanya sempat ke North Carolina, Pennsylvania, dan Michigan. Hillary Clinton berharap, “Amerika yang memiliki harapan, inklusif, dan berhati besar.” Sementara Donald Trump menjanjikan, “Peluang besar untuk mengalahkan sistem yang korup.”

Berikut ini linimasa detik-detik kemenangan Donal Trump sebagai presiden AS:

8 November 2016

Donald Trump dan Hillary Clinton mengakhiri kampanye setelah mengunjungi beberapa negara bagian, dalam upaya menggalang suara di menit-menit terakhir.

Donald Trump dari Partai Republik dan Hillary Clinton dari Partai Demokrat memiliki kebijakan yang sangat berbeda, dan keduanya juga tampak kurang populer di kalangan sebagian besar warga Amerika Serikat. Hal itu dinyatakan Profesor Robert W. Hefner, Direktur Institut Budaya, Agama, dan Masalah Dunia di Universitas Boston.

Ia mengatakan, “Ini pemilu yang sedikit aneh. Karena kedua calon, baik Trump maupun Clinton, tidak sepopuler yang diharapkan sebagian besar dari masyarakat.”

Shamsi Ali, imam masjid Indonesia di New York, dan Fahmi Zubir, imam di Imaam Centre, Washington DC, mengatakan bahwa muslim AS akan beramai-ramai mencoblos pada hari pemilu.

Semenjak subuh, antrean para pemilih sudah mulai terlihat di Virginia, Washington DC, dan New York.

Para pemilih di Virginia sudah mulai mencoblos di berbagai tempat pemungutan suara. Mereka menjadi pemilih awal untuk ikut menentukan siapa presiden Amerika Serikat selanjutnya.

Tim Kaine, calon wakil presiden Hillary Clinton, sudah mencoblos di negara bagian Virginia.

Donald Trump menulis tweet di Twitter, berisi kalimat, “TODAY WE MAKE AMERICA GREAT AGAIN!” Satu jam setelah diunggah, pesan tersebut di-retweet lebih dari 30.000 kali, dan disuka oleh 44.000 akun. Kalimat tersebut memang telah dikenal sebagai tekad Trump sejak ia mencalonkan diri sebagai Presiden AS.

Hillary Clinton, calon presiden dari Partai Demokrat, mengajak para pemilih untuk tidak berdiam diri. Di akun Twitternya, dia mengunggah video yang menggambarkan ajakannya tersebut.

Capres Partai Demokrat, Hillary Clinton, datang ke tempat pemungutan suara di Chappaqua, New York untuk menggunakan hak suaranya. Dia ditemani suaminya, Bill Clinton. Ia menyapa para pendukung setelah mencoblos.

Situs analisa statistik yang dijalankan Nate Silver, yang terkenal dalam memprediksi hasil Pemilihan Presiden AS di 50 negara bagian pada 2012, memposting perkiraan lewat Twitter, dengan memberi persentase kemenangan sebesar 72% untuk Hillary Clinton. Perkiraan itu meningkat dari 65% yang dikeluarkan pada hari sebelumnya.

Sementara itu, jajak pendapat BBC menunjukkan perkiraan kemenangan sebesar 48% untuk Hillary Clinton dan 44% untuk Donald Trump.   

Sementara Amerika Serikat sedang menyelenggarakan pemilihan umum untuk memilih presiden yang baru, berbagai stasiun televisi di Rusia tampak menyoroti sistem politik AS, bukan platform yang diusung Clinton dan Trump. Channel One TV, stasiun televisi milik pemerintah, menyatakan, “Demokrasi, yang banyak dipromosikan Amerika ke negara-negara lain di dunia, kadang menggunakan cara-cara yang kasar. Demokrasi ini tidak ada sama sekali.”

Pejabat Kremlin yang bertanggung jawab atas propaganda pemerintah, Dmitry Kiselev, tampak menyatakan hal-hal negatif pada Hillary Clinton, meski juga tidak menyatakan hal positif terkait Donald Trump.

Semua saluran televisi utama di Rusia menggambarkan kampanye kali ini sebagai “yang paling kotor dalam sejarah AS”. Mereka juga menyatakan bahwa sistem pemilu di AS memiliki banyak kelemahan. Channel One menyatakan, “Kadang calon yang mendapat dukungan paling banyak tidak keluar sebagai pemenang.” Sementara Kiselev mengatakan, siapa pun yang menang akan menjadi “presiden yang lemah”.

9 November 2016


Hasil-hasil sementara mulai bisa diperkirakan. ABC News memproyeksikan hasil-hasil berikut ini:

Kentucky diperkirakan memilih Donald Trump. Negara bagian andalan Partai Republik ini tidak pernah memilih calon Demokrat setiap kali calon mereka berasal dari selatan, seperti  Jimmy Carter pada tahun 1976 dan Bill Clinton pada tahun 1992.

Vermont diproyeksikan memilih Hillary Clinton. Pada tahun 2012, Obama menang 66% di negara bagian yang sangat condong ke Demokrat ini. Sementara Indiana diproyeksikan memilih Donald Trump. Negara bagian ini meruapakn kubu Partai Republik, meski pada tahun 2008 Obama menang tipis di sini. 

Baca lanjutannya: Detik-detik Kemenangan Donald Trump Menjadi Presiden Amerika Serikat (2)