Kegegeran Setelah Donald Trump Jadi Presiden Amerika (1)

Kegegeran Setelah Donald Trump Jadi Presiden Amerika

BIBLIOTIKA - Dibanding pemilu Amerika yang sebelumnya, tampaknya pemilu tahun ini yang paling menyita perhatian. Setelah Donald Trump akhirnya terpilih sebagai Presiden AS, berbagai reaksi pun bermunculan. Berbagai reaksi itu muncul, mengingat sosok Trump yang bisa dibilang kontroversial. Selama ini, Trump juga terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya kepada kaum muslim.

Banyak pihak memprediksi atau meramalkan, apa jadinya dunia setelah Donald Trump menjadi Presiden Amerika? Apakah dunia akan baik-baik saja, ataukah Trump akan mewujudkan janjinya semasa kampanye terkait dengan umat Islam, dan lain-lain? Berikut ini beberapa reaksi dan kegegeran yang muncul, sesaat setelah Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS, yang kami rangkum dari beberapa sumber.

Muhammadiyah: Trump harus melihat realita

Dalam wawancara dengan BBC Indonesia, Sekretaris Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menyatakan Donald Trump harus melihat realita bahwa setidaknya 1,6 miliar penduduk dunia adalah Muslim, dan warga Muslim di AS lebih dari 10 juta.

“Keberhasilan Trump sebagai presiden juga ditentukan oleh komunitas Muslim, baik di AS sendiri maupun yang ada di berbagai belahan dunia,” ujar Abdul Mu’ti. “Makanya, meski dalam kampanye ia berbicara soal kebijakan yang tegas terhadap Muslim, ia harus melihat realitas bahwa tata dunia tak bisa dilepaskan dari kaum Muslim. Kami tentu berharap Trump bisa mewujudkan tata dunia yang lebih baik, dan memiliki hubungan yang baik dengan dunia Islam.”

Wakil Ketua DPR RI menyampaikan selamat kepada Trump

Fadli Zon, wakil DPR RI, yang berkunjung ke New York di acara Trump September lalu, menyebutkan, “Dari awal yakin Trump akan menang.”

Kunjungan Fadli Zon dan Ketua DPR saat itu, Setya Novanto, menimbulkan kontroversi dan debat panas dengan imam masjid New York, Shamsi Ali.

Shamsi Ali menyebutkan kehadiran Setya Novanto dan Fadli Zon dalam acara kampanye bakal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik Donald Trump sebagai langkah “merendahkan diri sendiri dan martabat bangsa.” 

NU: Bisa ada masalah komunikasi AS dan dunia Islam


Trump beberapa kali mengeluarkan pernyataan yang sektarian. Jika kebijakan ini diterapkan, ia bisa memunculkan musuh-musuh baru, kata Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Helmy Faishal Zaini.

“Kebijakan yang sektarian bisa mendorong negara-negara lain mengambil kebijakan yang sama,” kata Helmy dalam wawancara dengan BBC Indonesia. “Mungkin nanti akan ada kendala komunikasi (pemerintah AS) dengan dunia Islam.”

Antara Obama, Hillary dan Trump

Yel-yel “Kurung dia!” berulang diteriakkan dalam perayaan kemenangan Trump di seantero Amerika. Semasa kampanye, Trump berikrar akan menunjuk jaksa khusus untuk menyelidiki Hillary Clinton dan penggunaan server email pribadinya. Trump juga berulangkali mengatakan bahwa Hillary seharusnya berada di balik jeruji.

Sekarang sudah tak ada lagi keuntungan politik untuk terus mempermasalahkan topik tersebut. Namun, bagi sejumlah orang, hal ini memunculkan prospek yang ganjil tentang kemungkinan Obama memberikan pengampunan sebelum menyerahkan jabatannya.

Turki memberi selamat dan meminta ekstradisi ulama


Perdana Menteri Turki, Binali Yildirim, mendesak Trump untuk mengekstradisi ulama Turki yang tinggal di AS, Fethullah Gulen, yang dituduh oleh Ankara berada di belakang kudeta yang gagal pada Juli lalu.

Australia meminta Trump untuk tetap fokus di Asia

Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop, mengatakan kepada wartawan bahwa negaranya akan bekerja sama dengan siapa pun yang akan menjadi presiden AS “dan pada tahap ini yaitu Donald Trump.”

Dia menyatakan “meningkat dan bukan berkurangnya kepemimpinan AS di Asia-Pasifik,” ketika Cina berupaya untuk meluaskan pengaruhnya. “Amerika Serikat juga merupakan penjamin dan pembela ketertiban internasional, yang sangat terkait dengan kepentingan ekonomi dan politik,” ujarnya.

PM Malaysia bergembira atas kemenangan Trump

Seorang juru bicara dari kantor perdana menteri Malaysia, mengatakan kepada koresponden BBC di Asia Tenggara, bahwa PM Malaysia merupakan rekan bermain golf Donald Trump, dan menyimpan  foto keduanya dengan tanda tangan “Untuk PM favorit saya”.

Baca lanjutannya: Kegegeran Setelah Donald Trump Jadi Presiden Amerika (2)