Dampak Positif Kebiasaan Memberi (2)

 Dampak Positif Kebiasaan Memberi

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Dampak Positif Kebiasaan Memberi 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Bukankah sebagian besar orang yang hidup di jaman ini berpikir secara terbalik seperti itu? Orang-orang di jaman ini sudah tergila-gila kepada segala sesuatu yang serba instan. Mereka mengatakan, “Bagaimana aku mau bekerja lebih baik? Kalau saja gajiku dinaikkan, aku pasti akan mau bekerja lebih baik!”

Lho, bukankah lebih logis kalau kita bekerja lebih baik dulu, baru kemudian minta gaji kita dinaikkan? Sementara yang masih sekolah atau kuliah mengeluh, “Aku malas belajar tekun. Dosennya selalu pelit memberi nilai!” Bukankah nilai hanya mengikuti hasil belajar? Rasanya lebih masuk akal kalau kita belajar dengan giat lebih dulu, baru mempersoalkan nilai.

Kita seringkali lebih suka meminta lebih dulu dan keberatan untuk memberi, persis seperti lelaki yang kedinginan dalam goa yang mau memberikan kayu bakarnya jika tungku api mau memberikannya kehangatan terlebih dulu. Bukankah itu pemikiran yang terbalik?

Dan ‘hukum memberi’ ini berlaku pada apa saja, berlaku pada siapa saja, berlaku dimana saja, berlaku di waktu kapan saja. Dalam karir dan pekerjaan, di sekolah ataupun perkuliahan, dalam hal cinta maupun pergaulan, dalam hal kebahagiaan maupun kesejahteraan, semuanya tetap mematuhi ‘hukum memberi’ ini.

Coba lihat di sekeliling kita. Siapakah orang yang paling banyak menerima senyuman dari orang lain? Jawabannya jelas; yakni orang yang selalu suka memberikan senyumnya kepada orang lain!

Siapakah yang paling banyak memiliki sahabat? Orang-orang yang mau memberikan ketulusannya! Siapakah yang paling banyak memperoleh bantuan ketika tertimpa musibah atau masalah? Orang-orang yang selalu berusaha memberikan bantuan dan per-tolongannya kepada yang terkena musibah!

Dengarkan apa yang dinasihatkan oleh Bob Urichuck berikut ini, “Jika kamu ingin mendapatkan lebih banyak lagi, kamu harus memberikan lebih banyak lagi. Biasakanlah untuk lebih banyak memberi daripada menerima.”

Kebiasaan memberi adalah tingkat hidup yang paling tinggi. Berikanlah senyumanmu, dan kau akan memperoleh lebih banyak senyuman. Berikanlah ketulusanmu, dan kau akan memperoleh lebih banyak sahabat. Berikanlah bantuanmu, dan kau akan lebih banyak memperoleh pertolongan. Berikanlah kasih sayangmu, dan kau akan lebih banyak memperoleh cinta. Berikanlah berkat, dan kau akan lebih banyak memperoleh rahmat.

Tuhan memang tidak perlu menerima, tetapi manusia perlu memberi.