Berfokuslah pada Solusi, Bukan pada Masalah (1)

Berfokuslah pada Solusi, Bukan pada Masalah

BIBLIOTIKA - Ada begitu banyak orang yang menganggap saat ini sebagai masa depresi. Krisis ekonomi yang melanda negeri ini semenjak beberapa tahun yang lalu seakan belum juga terselesaikan, dan keadaan seakan bukan semakin membaik tetapi justru semakin memburuk.

Harga-harga kebutuhan, dari kebutuhan pokok yang primair sampai kebutuhan sampingan yang sekunder semakin melambung tinggi, sementara PHK dan pengangguran terjadi di-mana-mana. Melonjaknya harga BBM yang hampir seratus persen beberapa waktu yang lalu bahkan sempat membuat gejolak.

Di televisi, saya menyaksikan ada orang-orang yang sampai masuk rumah sakit jiwa karena tidak kuat lagi menanggung beban hidup yang semakin berat ini. Memang, mungkin ini bukan lagi saat-saat resesi. Ini sudah menjadi saat-saat depresi.

Lalu apa yang harus kita perbuat? Mengandalkan pemerintah? Kita sudah sama-sama tahu bahwa pemerintah negeri ini sudah begitu disibukkan oleh urusannya sendiri dan sepertinya sudah tak punya waktu untuk mengurusi rakyatnya.

Kita sudah harus mulai belajar untuk hidup secara mandiri, tidak terus-menerus mengandalkan pihak lain meskipun itu pemerintah kita sendiri. Hidup secara mandiri artinya, hidup dengan kreativitas dan berusaha untuk memaksimalkan potensi yang kita miliki. Daripada mengutuk nasib atau menyalahkan pemerintah, bukankah lebih konstruktif kalau kita mulai membangun hidup kita sendiri?

Memang, keadaan negeri ini tengah carut-marut. Memang, harga-harga barang kebutuhan terus melambung tinggi. Memang, sewaktu-waktu kita bisa kehilangan pekerjaan karena PHK. Memang, saat ini kita tengah menghadapi masa depresi. Tapi ingat, orang sukses adalah orang yang berpikir positif.

Mereka memfokuskan waktu dan perhatian mereka pada solusi, dan bukan pada masalah. Setiap orang memang bisa melihat masalah. Tetapi kalau kita terus-menerus memfokuskan diri pada masalah, kita justru akan semakin terjebak dalam masalah itu dan kehilangan kesempatan untuk menemukan solusi.

Ada kata-kata yang penuh motivasi dari Orison Sweet Manden. Katanya, “Orang yang memiliki harapan, melihat kesuksesan dimana orang lain melihat kegagalan, dan melihat cahaya matahari dimana orang lain melihat bayang-bayang dan angin topan.”

Sudah saatnya bagi kita untuk mulai memikirkan solusi dan tidak terus-menerus menghabiskan energi pikiran kita untuk hanya memikirkan krisis dan depresi yang melanda hidup kita ini.

Barangkali kita memang terlalu kecil untuk memikirkan solusi bagi krisis sebuah negara, tetapi kalau masing-masing dari kita, orang perorang, mulai memikirkan solusi bagi krisis kehidupannya masing-masing, bukankah itu sama saja dengan menuntaskan masalah satu negara?

Bila dua ratus dua puluh juta orang di negeri ini mau berpikir dan mencari cara untuk menyelesaikan tiap masalahnya sendiri dengan solusi yang sehat untuk menyelesaikan masalah-masalah hidupnya, bukankah itu sama saja bahwa salah satu permasalahan besar bangsa ini telah cukup teratasi?

Ada hal-hal yang tidak mustahil dalam setiap kemustahilan. Ada hal-hal yang mungkin dalam setiap ketidakmungkinan. Yang diperlukan hanyalah pikiran yang terbuka untuk mencari solusi, dan bukannya pikiran yang tertutup kabut yang hanya terus-menerus melihat masalah.

Hari-hari ini harga bensin sudah jauh berbeda dengan harga dua tahun yang lalu. Sebagian orang mengutuk pemerintah yang menaikkan harga bensin secara tidak masuk akal ini, sementara ada sebagian kecil orang yang berpikiran positif dan mencari cara untuk menghemat bensin.

Maka ditemukanlah suatu formula yang khusus dipakai untuk menghemat pemakaian bensin, sehingga mampu memaksimalkan kinerja mesin kendaraan hingga tak terlalu boros menggunakan bensin.

Baca lanjutannya: Berfokuslah pada Solusi, Bukan pada Masalah (2)