Sikap yang Baik untuk Mencapai Takdir yang Baik (2)

  Sikap yang Baik untuk Mencapai Takdir yang Baik

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Sikap yang Baik untuk Mencapai Takdir yang Baik). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Salah seorang yang bisa dijadikan sebagai bukti bagaimana sikap mem-pengaruhi hidupnya adalah seorang cowok bernama Harlan A. Howard. Sebagai seorang yang masih bersekolah di SMA dan bekerja paruh waktu, Howard memiliki sebuah pekerjaan yang amat membosankan menurutnya.

Ia bekerja pada sebuah restoran yang dekat dengan tempat tinggalnya, dan pekerjaannya sehari-hari adalah mencuci piring, menggosok meja kasir, menempatkan es krim di meja kafetaria, dan hal-hal remeh lain yang harus dilakukannya setiap hari, sepulang sekolah.

Ia menganggap pekerjaan itu begitu membosankan karena selagi ia mengerjakan hal-hal remeh semacam itu, teman-temannya sedang asyik bermain selepas sekolah, jalan-jalan ke mall atau melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan. Dan di antara semua pekerjaan yang ia anggap membosankan itu, hal yang paling membosankan adalah pekerjaan mengurusi es krim yang harus ditaruhnya di meja kafetaria, karena ia harus bertanggungjawab bahwa es krim-es krim itu harus dalam keadaan utuh saat ia tangani.

Seperti juga yang kamu tahu, es krim sangat rentan dengan panas dan ia mudah meleleh. Itulah yang seringkali membuat Howard jadi pusing dan sering jengkel dalam menanganinya.

Tapi apa yang kemudian dilakukan oleh Howard? Mencaci-maki es krim itu? Mengutuk bosnya yang telah memberikannya pekerjaan yang begitu menjengkelkan seperti itu? Memang pada mulanya Howard berpikir seperti itu, tetapi kemudian ia mengambil sikap pikiran yang lebih positif.

Ia berpikir bahwa seumpama ia mencaci-maki es krim itu sampai mulutnya capek, es krim itu akan tetap cepat meleleh, dan apabila dia mengutuk bosnya, kemungkinan yang paling logis hanyalah dia akan dipecat dan dia akan kehilangan pekerjaannya. Maka Howard pun melakukan hal yang lebih positif; ia mempelajari proses kimia yang terkandung dalam es krim!

Dengan mempelajari proses kimianya, Howard kemudian tahu bagaimana cara ‘mengamankan’ setiap es krim agar tidak cepat meleleh, dan itu menjadi-kan pekerjaannya lebih mudah untuk ditangani. Tetapi efek yang terjadi dari sikap positifnya itu bukan hanya memperbaiki pekerjaannya menyangkut es krim, tetapi juga pada mata pelajaran kimianya di sekolah!

Karena semenjak itu ia menjadi semakin tertarik dengan ilmu kimia, nilai-nilai pelajaran kimia Howard pun meningkat drastis dan membuat guru serta kawan-kawannya geleng-geleng kepala. Dan sejak itu pulalah, Howard selalu tertarik pada ilmu kimia makanan.

Setelah lulus dari SMA-nya, ia meneruskan pendidikannya ke Perguruan Tinggi, ia kuliah di Massachusetts State College dan mendalami bidang teknologi makanan. Ketika perusahaan New York Cocoa Exchange membuat lomba penulisan karya ilmiah tingkat Perguruan Tinggi mengenai penggunaan cocoa dan cokelat dan sayembara itu memperebutkan hadiah uang tunai seribu dolar, siapakah yang kira-kira memenangkan lomba itu? Tentu saja Harland Howard!

Lulus dari Perguruan Tinggi, Harlan Howard merasa sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan ijazahnya. Lagi-lagi ia menggunakan sikap positifnya untuk menghadapi kenyataan.

Daripada mengutuk keadaan yang seolah menyudutkannya dalam pojok kehidupan, Howard lebih memilih untuk membuka sebuah laboratorium sendiri yang sederhana di gudang rumahnya, dan menawarkan jasanya kepada beberapa perusahaan yang mungkin membutuhkan keahliannya.

Sikap positif menghasilkan keadaan yang positif. Selang beberapa waktu setelah Howard membuat laboratoriumnya sendiri, pemerintah Amerika mengesahkan undang-undang baru mengenai setiap makanan yang dijual, dimana semua bakteri yang terdapat dalam makanan itu harus dihitung dan diterakan pada labelnya. Siapakah kira-kira orang yang paling banyak memperoleh rejeki dari hal itu? Benar, Harland Howard!

Semenjak itu laboratoriumnya digunakan oleh puluhan perusahaan yang meminta jasanya untuk meneliti bakteri dalam setiap makanan dan minuman yang diproduksinya, dan Howard pun mulai mencari karyawan dan para pembantu. Semenjak itu pula, nama Harland Howard melambung sebagai salah satu orang yang paling terkemuka dalam bidang ilmu teknologi makanan.

Dan... semuanya itu diperolehnya hanya karena ia mau mengubah sikap pikirannya ketika menghadapi pekerjaan yang ia anggap amat mem-bosankan, ketika ia harus menata es krim-es krim yang cepat meleleh di rak-rak kafetaria!

Kalau Francis Bacon mengatakan bahwa pembentukan nasib seseorang tergantung di tangannya sendiri, maka ‘yang tergantung di tangannya sendiri’ itu adalah kemauannya mengubah sikapnya!

Baca lanjutannya: Pentingnya Percaya Kepada Diri Sendiri