Refleksi untuk Kehidupan yang Lebih Baik (2)

Refleksi untuk Kehidupan yang Lebih Baik

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Refleksi untuk Kehidupan yang Lebih Baik 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Orang-orang yang tak memiliki impian ini seperti robot yang digerakkan oleh mesin waktu dan mau tak mau mereka harus patuh pada ‘jadwal rutin’ hidupnya. Pagi hari, saat subuh menjelang, mereka bangun dari tidur, lalu menjalani ‘rutinitas pagi’, dari mandi sampai makan pagi. Kemudian mereka berangkat sekolah, kuliah atau bekerja. Sepulang dari kegiatan rutin sehari-hari itu, mereka pun kembali menjalani rutinitas yang lainnya; makan siang, tidur siang, atau…menonton televisi.

Dan kegiatan terakhir inilah yang sering-kali membuat banyak orang terlena hingga rela duduk berjam-jam bersimpuh di depan pesawat televisi, seperti seorang hamba yang setia mendengarkan petuah-petuah dari tuannya. Sementara waktu terus berlalu, hari berganti menjelang senja dan malam pun kemudian datang.

Dan kemudian malam semakin larut, dan mereka pun menuju ke peraduan untuk tidur, untuk kembali bangun keesokan harinya, untuk menjalani ritualitas yang biasa, untuk menjalani rutinitas yang dari itu ke itu tanpa ujung tanpa pangkal, tanpa ada sesuatu yang diperjuangkan, tanpa ada sesuatu yang ingin dicapai selain hanya keinginan bahwa esok pagi mereka masih hidup dan masih dapat menjalaninya seperti biasa.

Alangkah membosankannya hidup semacam itu.

Jauh-jauh hari, orang-orang yang menjalani hidup semacam itu sudah disindir oleh Dr. Sidney Newton Bremer saat ia menyatakan, “Kebanyakan orang sudah puas dengan kehidupan seperti sekumpulan hewan. Mereka sebenarnya tidak hidup sama sekali dalam arti kehidupan yang luas. Mereka sudah puas dengan bisa bernapas seperti biasa, makan, minum, serta melakukan kegiatan rutin untuk mengisi keperluan hidup. Siang dan malam sama saja sehingga mereka menghembuskan napas yang terakhir…”

Apakah kehidupan diciptakan oleh Tuhan hanya untuk dijalani dengan rutinitas yang membosankan semacam itu? Saya meyakini bahwa ada suatu misi mulia yang dititipkan oleh Tuhan dalam diri setiap manusia agar menjadikan hidup ini sebagai bagian dari karunia keindahan. Dan tugas kita adalah memang untuk menjadikan hidup ini menjadi lebih indah, lebih berarti, lebih bermakna untuk dijalani.

Dan… memiliki tujuan dalam hidup, memiliki suatu impian yang ingin diwujudkan adalah salah satu jalan untuk menjadikan hidup ini terasa lebih indah, lebih menggairahkan, sekaligus lebih bermakna untuk dijalani.

Sayangnya, pada hari-hari ini, orang yang tidak memiliki impian, tidak memiliki tujuan, jumlahnya sangat mengherankan. Sayangnya pula, orang yang tidak memiliki arah dan tujuan dalam hidupnya ini kelihatannya bukan semakin berkurang, tetapi semakin bertambah.

Penulis pemenang Pulitzer Prize, Katherine Anne Porter, memperhatikan, “Saya terkejut dengan banyak-nya orang yang hidup tanpa tujuan. Lima puluh persen dari mereka tidak peduli kemana mereka akan pergi; empat puluh persen belum memutuskan kemana mereka akan menuju, dan sisanya akan pergi kemana saja. Hanya sepuluh persen yang tahu apa yang mereka inginkan (memiliki impian dan tujuan dalam hidup), namun tidak semuanya pergi ke situ.”

Bukankah itu kenyataan yang cukup menyedihkan?

Di daerah dekat saya tinggal, ada pantai yang sering dikunjungi oleh orang-orang di kota saya, khususnya pada hari-hari libur. Pada musim liburan, pengelola pantai biasanya mengadakan suatu acara pantai yang biasa disebut sebagai ‘pelayaran tanpa tujuan’. Mereka menyewakan beberapa perahu berukuran sedang, dan orang-orang yang tengah menikmati liburan itu pun naik ke kapal itu untuk kemudian berlayar sampai ke tengah lautan.

Namun tak ada tempat yang akan mereka datangi, tak ada pulau yang akan mereka tuju. Mereka hanya berputar-putar di tengah lautan, menikmati debur ombak dan bercanda, tertawa, sambil menikmati makanan kecil yang telah mereka persiapkan untuk acara itu. Hingga beberapa jam kemudian mereka kembali lagi ke pantai, turun dari kapal dan kembali menjejakkan kaki di daratan.

Orang-orang yang hidup tanpa tujuan tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang menikmati liburan dengan menyewa perahu itu. Mereka pergi tanpa tujuan tertentu. Mereka berada dalam rangka yang tak jelas dan mengisi waktu dengan mengejar kesenangan atau terlibat dalam aktivitas yang manfaatnya masih diragukan atau hanya bersifat sementara. Dan sementara hidup terus berjalan, mereka hanya berputar-putar tanpa tujuan yang jelas. Pada akhirnya, akhir mereka tidak lebih baik daripada ketika mereka mulai.

Sungguh, pelayaran tanpa tujuan mungkin cara yang cukup bagus untuk menikmati hari liburan, tetapi itu jelas bukan cara yang bagus untuk menghabiskan hidup kita.