Refleksi untuk Kehidupan yang Lebih Baik (1)

Refleksi untuk Kehidupan yang Lebih Baik

BIBLIOTIKA - Apakah kekuatan terbesar di muka bumi ini yang telah mampu mewujudkan banyak hal yang sebelumnya telah dimustahilkan?

Impian.

Impianlah yang telah menggerakkan manusia hingga menjadi pekerja mukjizat, impianlah yang telah menyelesaikan begitu banyak persoalan yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupan. Impianlah yang menjadi gerak denyut nadi dan detak jantung dari hidup dan kehidupan umat manusia.

Apa yang bisa dilahirkan dalam hidup ini tanpa impian…?

Amerika bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah negara besar dan berkuasa karena Christoper Columbus berani bermimpi menjelajahi sebuah dunia baru yang belum dirambah oleh orang lain. Kehidupan menjadi terang dan penuh gemerlap cahaya karena Thomas Alfa Edison berani bermimpi tentang lampu pijar untuk menggantikan lampu teplok dan kayu bakar.

Manusia mengenal sarana transportasi berwujud motor dan mobil karena Henry Ford dan Soichiro Honda berani bermimpi untuk menggantikan kuda dan kereta yang selama berabad-abad telah dijadikan sebagai sarana transportasi. Kehidupan mengenal film dan sarana hiburan yang menyegar-kan karena Walt Disney berani bermimpi.

Orang mampu mendarat di bulan dan pulang kembali ke bumi dengan selamat karena John F. Kennedy berani bermimpi. Bahkan negeri kita tercinta ini pun bisa bebas dari belenggu penjajahan selama lebih dari tiga setengah abad karena para pejuang Indonesia berani bermimpi tentang kemerdekaan…

Semua pencapaian dan prestasi yang pernah diukir oleh manusia di muka bumi ini semuanya berawal dari impian. Tidak ada yang terjadi tanpa adanya impian. Dan memang selalu berbeda antara orang yang memiliki impian dan yang tidak memiliki impian. Ingat, impian bukanlah angan-angan kosong sebagaimana orang memandangi asap rokok yang kemudian lenyap dari pandangannya. Impian adalah suatu refleksi ke depan tentang sesuatu yang dituju, sesuatu yang ingin dilakukan, sesuatu yang ingin diraih.

Orang yang memiliki impian dalam hidupnya selalu memandang hidup sebagai petualangan yang mengasyikkan dimana dia merasa seperti seorang pendaki gunung yang tahu bahwa meski gunung itu tinggi, namun ia yakin ia akan mampu mencapai puncaknya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa mencapai puncak sukses dalam kehidupan bukan pekerjaan yang ringan sebagaimana mencapai puncak gunung juga bukan pekerjaan yang mudah dilakukan.

Selalu ada hambatan. Selalu ada rintangan. Selalu ada jalan setapak yang setiap saat bisa menggelincirkan langkahnya dan bahkan melemparkan tubuhnya ke jurang menganga. Namun seorang pemimpi tahu bahwa segala hambatan dan rintangan itu pasti bisa dilaluinya dengan tegar sebagaimana seorang pendaki gunung yang tahu bahwa setiap hambatan menuju puncak dapat ditaklukkan.

Lebih dari itu, seorang yang memiliki impian meyakini bahwa semua cobaan, rintangan dan halangan yang mencoba menghambat kehidupannya tidak akan lagi terasa sebagai penderitaan ketika impian telah mewujud menjadi kenyataan, sebagaimana juga pendaki gunung sangat yakin bahwa semua rasa lelah dan perjuangan mendaki tidak akan terasa lagi begitu mereka telah sampai di puncak gunung dan memandang ke bawah, dan melihat betapa tingginya mereka telah mendaki…

Kebahagiaan saat berhasil menaklukkan puncak gunung menjadikan semua rasa lelah dan kepayahan saat mendaki menjadi terlupa, dan kebahagiaan saat berhasil mewujudkan impian menjadi kenyataan juga menjadikan semua rasa letih perjuangan dan kerja keras siang malam menjadi terlupa. Tak ada yang lebih indah di dunia ini selain ketika melihat impian kita terwujud menjadi kenyataan.

Sebaliknya, orang yang tidak memiliki impian apapun dalam hidupnya cenderung statis dalam menjalani kehidupan. Kehidupan bagi mereka tidak lebih hanya sebagai ritualitas, rutinitas yang terkadang menjadi sangat membosankan.

Mereka tak memiliki tujuan apapun selain hanya menjalani hidup, mereka tak memiliki impian apapun yang ingin diwujudkan, hingga hari demi hari mereka lalui tanpa ada apapun yang ingin dicapai. Semuanya begitu rutin, semuanya berjalan tanpa gairah sebagaimana yang dirasakan oleh orang-orang yang memiliki impian.

Baca lanjutannya: Refleksi untuk Kehidupan yang Lebih Baik (2)