Perjalanan Kisah di Balik Lahirnya Buku Pintar

Perjalanan Kisah di Balik Lahirnya Buku Pintar

BIBLIOTIKA - Suatu hari, Iwan Gayo punya mimpi. Ia memimpikan membuat sebuah buku yang berisi aneka macam informasi yang dibutuhkan oleh banyak orang, sehingga bisa memudahkan orang-orang dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkannya. Ia mem-bayangkan tentang sebuah buku yang komplet memuat berbagai macam pengetahuan mengenai apa saja, yang dibutuhkan, hingga buku itu bisa terjual dalam jumlah besar.

Ide dan impian Iwan Gayo mengenai buku itu terlecut semenjak ia melihat Buku ‘Percakapan Bahasa Inggris Sistem 50 Jam’ karya Sutan Sulaiman yang bisa laku terjual dalam jumlah besar dan dicetak ulang hingga 17 kali. Buku ini banyak dibutuhkan orang, hingga ketika dijual di atas bis dan pengasong kaki lima pun tetap saja laku dalam jumlah banyak.

Iwan Gayo juga mengaku sangat kagum ketika pada tahun 1978 ia mengunjungi perpustakaan Lembaga Indonesia Amerika (LIA), dan menemukan ada Annual Book dari Koran The New York Times yang memuat segala informasi yang dibutuhkan orang tentang Amerika. Maka, Iwan pun mulai menggagas tentang ide pembuatan Buku Pintar.

Sungguh panjang jalan yang harus ditempuh oleh Iwan Gayo untuk mewujudkan impiannya itu. Untuk mengumpulkan data dan informasi yang dibutuhkannya untuk dimuat dalam Buku Pintar tersebut, lelaki kelahiran Aceh itu harus menghabiskan waktu sampai berbulan-bulan untuk membaca dan mencari data di perpustakaan LIPI.

Kesulitan-kesulitannya dalam mengumpulkan data-data yang diperlukannya itu kemudian diatasi dengan menjalin korespondensi dengan banyak orang di banyak daerah dengan bayaran sejumlah honorarium (ada kalanya ia juga memberikan buku sebagai honorariumnya). Iwan sempat melibatkan dua ribu koresponden, meski akhirnya yang tetap bertahan hingga proyek itu selesai cuma sekitar seratus orang.

Ketika data-data dan informasi yang diinginkannya telah terkumpul dan disusun dengan rapi dalam satu naskah, Iwan Gayo menghadapi kesulitan lain. Tidak ada satu penerbit pun yang mau mencetak dan menerbitkan buku karyanya itu. Iwan benar-benar bingung. Namun akhirnya ia nekat untuk menerbitkan sendiri bukunya itu.

Iwan menghubungi sebuah perusahaan percetakan dan meminta agar naskahnya itu dicetak menjadi sebuah buku. Namun percetakan mewajibkan-nya untuk menyediakan sejumlah uang muka. Iwan yang merasa sudah terlanjur melangkah tak mau mundur kembali.

Dia nekat menjual mobil tuanya untuk membayar uang muka ongkos cetak, dan sisanya dipakainya untuk membeli pick up butut yang akan digunakannya untuk keluar masuk toko buku menawarkan karyanya itu dengan sistem konsinyasi. Ia juga melakukan langkah baru dalam sistem penjualan buku, yaitu dengan mencoba mencari pemesan buku yang belum terbit itu dengan mengirimkan brosur tentang Buku Pintar ke seluruh tanah air.

Edisi pertama Buku Pintar karya Iwan Gayo pun terbit pada tahun 1982. Dari 10.000 eksemplar yang dicetak, 2000 eksemplar terkirim untuk para pemesan yang telah membayar sebelumnya. Selebihnya, Iwan harus memasarkannya sendiri dengan memanfaatkan pick up bututnya untuk berkeliling ke toko-toko buku.

Dalam waktu dua bulan, Buku Pintar karyanya itu pun habis terjual. Lalu disusul dengan cetakan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Bahkan pada tahun 1986, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memesan buku ini sebanyak 32.000 eksemplar, dengan harga senilai Rp. 199.000.000,-

Setiap tahun Buku Pintar karya Iwan Gayo dicetak 60 ribu eksemplar, suatu jumlah yang sulit ditandingi di negeri ini. Hingga kemudian, buku itu pun telah mengalami cetakan ulang sampai 25 kali.

Iwan kemudian juga menerbitkan seri kedua dari Buku Pintar karyanya pada tahun 1996, dan buku ini pun mengalami tingkat penjualan yang lebih dahsyat dari seri pertamanya. Buku ini sempat terjual rata-rata 250 eksemplar per hari, hingga total penjualan buku ini mencapai angka 1 juta eksemplar, suatu jumlah penjualan buku yang luar biasa hebat untuk ukuran Indonesia!

Langkah Iwan Gayo tak berhenti sampai di situ. Dengan didorong oleh kekuatan impiannya, ia kemudian membangun sebuah jaringan kores-pondensi dengan sekitar 100 orang dari berbagai daerah, dan menjalin kerjasama dengan banyak pedagang grosir.

Ia juga membangun percetakannya sendiri dengan tujuh mesin cetak dan bangunan percetakan seluas 300 M2 di atas lahan seluas 6000 M2 di kawasan Ciputat, Jakarta Selatan. Dan mimpi-mimpi Iwan Gayo pun belum berakhir.