Perang Dunia III: Rusia Siap Menghancurkan Amerika (1)

Perang Dunia III: Rusia Siap Menghancurkan Amerika

BIBLIOTIKA - Persaingan antara Amerika Serikat dan Rusia tampaknya terus berlangsung, meski secara diam-diam. Dua negara adidaya itu sepertinya tidak ada yang mau mengalah, bahkan berusaha menunjukkan posisi dominannya dalam percaturan politik dunia. Yang jadi masalah, persaingan antara Amerika dan Rusia akhir-akhir ini kian memanas.

Laporan terakhir menyebutkan bahwa Rusia sedang memasang senjata-senjata berat di Suriah, dan itu sama saja membuka peluang meletusnya Perang Dunia III. Kenyataannya, Rusia memang benar-benar telah menegaskan bahwa mereka telah sangat siap jika perang benar-benar meletus. Di sisi lain, Amerika Serikat juga menyadari benar potensi ancaman Rusia. Mereka pun benar-benar berupaya untuk mencegah bangkitnya kekuatan Uni Soviet (Rusia) atau negara mana pun yang bisa menandingi superioritas AS.

Pepe Escobar, seorang jurnalis militer terkemuka Brasil, menuliskan pemikirannya mengenai hal ini, yang dimuat di surat kabar Sputnik News. Dalam catatannya tersebut, Pepe Escobar menyatakan bahwa Amerika Serikat telah mulai kehilangan “dominasinya” dalam konflik Suriah. Mereka jelas telah kalah dari pengaruh Rusia di sana. “Washington”, tulis Escobar, “sekarang mengalami posisi yang sama seperti di Vietnam.”

Masih berdasarkan catatan Pepe Escobar, saat ini Amerika Serikat memiliki lebih dari 50 grup pasukan pemberontak yang mereka biayai, bahkan dalam posisi kendali komando langsung. Dalam hal itu, AS sangat berkuasa untuk memberi perintah, arahan, dan target serangan sesuai yang mereka inginkan. Selain itu, akan ada tambahan 200 pasukan khusus yang akan segera dikirim ke Irak untuk “terlibat dalam pertempuran langsung” terhadap ISIS.

“Perkembangan ini merupakan upaya untuk kembali terlibat di Irak dan Suriah,” tulis Escobar. “Semua orang tahu, Washington tidak akan pernah melepaskan diri dari Timur Tengah yang kaya minyak itu.”

Sampai saat ini, setidaknya ada empat grup koalisi di Suriah. Grup pertama terdiri dari Rusia, Suriah, Iran, Irak, ditambah Hizbullah, dan koalisi ini benar-benar diketahui berjuang melawan ISIS. Grup kedua adalah koalisi pimpinan AS yang melibatkan 34 negara. Grup ketiga adalah kolaborasi militer langsung antara Rusia dan Prancis. Sedangkan grup keempat adalah kelompok militan yang disponsori Saudi yang berideologi Islam radikal, salafi-jihadi.

Menurut Escobar, di luar empat grup tersebut ada pula Turki yang—di bawah pemerintahan Erdogan—memainkan peran ganda demi keuntungannya sendiri.

Sebelumnya, Turki sempat bersitegang dengan Rusia, saat menembak jatuh jet tempur Kremlin di perbatasan. Waktu itu, NATO dan Amerika Serikat memuji tindakan Turki sebagai aksi heroik. Kemudian, ketika terjadi percobaan kudeta militer yang gagal, NATO dan Amerika Serikat mencaci-maki Turki, hingga hubungan mereka merenggang. Pada waktu itulah, Rusia membuka tangan lebar-lebar, menawarkan pertemanan pada Turki.

Ketika mengetahui Vladimir Putin berusaha merayu Erdogan, Barack Obama langsung mengutus John Kerry, wakilnya, untuk meredakan ketegangan antara Turki dan Amerika, serta bersedia mengekstradisi Gullen sang aktor kudeta. Bagaimana pun, Amerika menginginkan Rusia tidak memiliki “teman”.

Baca lanjutannya: Perang Dunia III: Rusia Siap Menghancurkan Amerika (2)