Perang Dunia III dan Kisah Akhir Zaman (2)

 Perang Dunia III dan Kisah Akhir Zaman

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Perang Dunia III dan Kisah Akhir Zaman 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Digempur dari berbagai pihak dan dari berbagai sudut, bagaimana reaksi ISIS? Mereka merilis sebuah video yang merupakan jawaban atas tantangan yang mereka hadapi. Video berjudul “Prelude To Al Malhamah” itu menampilkan berbagai wawancara tentang persiapan perang Al-Malhamah Kubra, di Dabiq dan Amaq.

Dalam literatur Islam, Perang Al-Malhamah Kubra adalah peperangan yang terjadi antara kaum muslimin dengan Rum. Perang tersebut terjadi sebelum penaklukan Konstantinopel. Hal tersebut tersurat dalam hadist berikut:

Makmurnya Baitul Maqdis adalah tanda kehancuran kota Madinah, hancurnya kota Madinah adalah tanda terjadinya peperangan besar (Al-Malhamah Kubra), terjadinya peperangan besar adalah tanda pembukaan kota Konstantinopel, dan pembukaan kota Konstantinopel adalah tanda keluarnya Dajjal. Kemudian, beliau menepuk-nepuk paha orang yang beliau ceritakan tentang hadits tersebut, atau—dalam riwayat lain—pundaknya. Kemudian bersabda, “Semua ini adalah sesuatu yang benar, sebagaimana engkau, Mu’adz bin Jabal, sekarang berada di sini adalah sesuatu yang benar. (HR. Abu Daud).

Berdasarkan sejarah, Perang Al-Malhamah Kubra terjadi sebelum ditaklukkannya Konstantinopel, yaitu rezim Turki sekarang. Perang itu juga terjadi di Amaq dan Dabiq, di Suriah. Peperangan dengan Rum terjadi, karena pengkhianatan Rum terhadap kaum muslim, setelah sebelumnya terjadi perdamaian antara Rum dan kaum muslim.

Perdamaian dengan Rum terjadi selama tujuh tahun, dan peristiwa itu terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Muhammad bin Abdullah. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam As-Sayuti, Abu Nua’im meriwayatkan dari Abi Umamah, katanya:

Rasulullah SAW bersabda, “Di antara kamu dan orang-orang Rum akan berlaku empat kali perdamaian. Pada kali keempatnya berlaku di tangan salah seorang dari keluarga Hiraqlu. Perjanjian itu berterusan selama tujuh tahun”. Ada seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah. Siapakah Imam orang ramai (orang Islam) pada hari itu?” Rasulullah SAW menjawab, “Al Mahdi dari anak cucuku. Dia berumur 40 tahun, mukanya bagai bintang yang bersinar, di pipi sebelah kanannya terdapat tahi lalat hitam, dia memakai dua jubah Qatwaniyyah bagai pemuda Bani Israel. Dia mengeluarkan gedung-gedung dan menaklukkan negeri-negeri syirik (Al-Hawi lil Fatawi)

Dalam hadist di atas disebutkan bahwa perjanjian perdamaian dengan Rum terjadi pada kali keempat di tangan keluarga atau keturunan Hiraqlu (Hiraklius), yang merupakan kaisar Byzantin masa lalu, yang berpusat di Konstantinopel atau disebut Romawi timur.

Karenanya, anggapan sebagian orang bahwa Rum adalah Romawi barat yang sekarang berpusat di Roma adalah anggapan keliru. Karena Islam tidak pernah mengenal Romawi barat, dan Romawi barat telah runtuh seratus tahun sebelum kelahiran Islam, lalu muncul kembali setelah seratus tahun wafatnya Rasulullah SAW.

Karenanya pula, Rum yang dimaksud dalam Al-Quran Surah Rum adalah Romawi timur yang terletak di Konstantinopel. Setelah Rum runtuh ditaklukkan oleh Muhammad Al-Fatih, pusat pemerintahan Rum berpindah ke Rusia.

Dari uraian di atas, muncul pertanyaan, apakah Perang Dunia III yang diprediksi akan terjadi adalah Al-Malhamah Al-Kubro yang merupakan pertanda akhir zaman? Bukan tidak mungkin, situasi Timur Tengah saat ini bisa saja memicu terjadinya Perang Dunia III. Dan bisa jadi pula, Perang Dunia III—jika benar-benar terjadi—merupakan Al-Malhamah Al-Kubro yang menjadi kisah akhir zaman.