Perang Dunia III dan Kisah Akhir Zaman (1)

Perang Dunia III dan Kisah Akhir Zaman

BIBLIOTIKA - Lahirnya ISIS atau Islamic State di Suriah memicu konflik pada pihak lain, dalam hal ini Amerika Serikat dan Rusia. Amerika Serikat, beserta para sekutu atau koalisinya, menggempur ISIS dengan dalih memerangi terorisme. Sementara Rusia ikut turun tangan ke dalam konflik Suriah, karena memiliki pangkalan militer di sana. Konflik di Suriah tersebut, diyakini banyak pihak, dapat memicu terjadinya Perang Dunia III.

Andrew Foxall, analis militer dari kelompok think thank Henry Jackson Society, memperingatkan bahwa serangan koalisi AS, yakni NATO, dan Rusia di Suriah bisa menjadi bencana tak terbayangkan jika suatu saat bersinggungan. Kedua kekuatan dunia itu bahkan bisa memicu Perang Dunia III di Suriah.

“Insiden diplomatik bisa berubah menjadi bencana,” ujar Andrew Foxall. Dia menggambarkan bahwa lalu lintas udara di Suriah semakin padat. Pesawat tempur, helikopter, drone, rudal, dan artileri—dari Rusia maupun koalisi AS—telah jadi pemandangan setiap saat di wilayah udara Suriah.

Karenanya, dia mengatakan, “Mengingat jumlah lalu lintas militer di udara (yang padat), ada kekhawatiran nyata bahwa pesawat akan ditembak jatuh karena kesalahpahaman yang jadi bencana. Itu berarti kita bisa menjadi saksi detik-detik eskalasi yang tiba-tiba membawa kita ke ambang perang.”

Letnan Jenderal Charles Brown, komandan serangan udara AS di Suriah, telah mengakui adanya ketegangan kedua pihak (Amerika dan Rusia). Dia mencontohkan, pesawat AS dan Rusia nyaris berhadapan dalam jarak 20 mil. Jika tidak dikendalikan, hal itu bisa menjadi bencana dalam hitungan detik.

Kepada Daily Mirror, Andrew Foxall menjelaskan, “Rusia memiliki tujuan yang sangat berbeda dengan koalisi NATO yang menginginkan perubahan rezim di Suriah. Kepentingan utama Kremlin (Rusia) adalah mempertahankan rezim pro-Rusia di Suriah.” Di luar itu, Andrew Foxall juga mengkhawatirkan jika Cina ikut ambil bagian dalam masalah yang rumit di Suriah tersebut.

Sementara itu, Jaap de Hoop Scheffer, mantan Sekjen NATO, mengatakan kepada Channel 4, bahwa Kremlin akan gagal. “Saya pikir, Putin akhirnya akan jatuh dengan pedangnya sendiri. Dia akan menjadi anti-juru selamat untuk setiap warga Sunni di Timur Tengah,” ujarnya, mengacu pada sentiman sektarian di Timur Tengah, antara kaum Sunni dan Syiah.

Situasi di Suriah semakin memanas dengan hadirnya Arab Saudi dan koalisinya. Mereka mengirimkan jet tempur ke pangkalan udara Turki di Incirlik, untuk memerangi ISIS. Brigadir Jenderal Ahmed al-Assiri, Menteri Pertahanan Arab Saudi, mengatakan bahwa negaranya akan berkomitmen meningkatkan pertempuran melawan mujahidin ISIS. Penempatan jet tempur tersebut menurutnya adalah bagian dari upaya persiapan perang melawan ISIS, dan sebagai bentuk komitmen Arab Saudi dalam koalisi internasional.

Kehadiran Arab Saudi dalam konflik di Suriah disambut baik oleh pihak AS. Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Ashton Carter, mengatakan bahwa ia menyambut baik komitmen Arab Saudi dalam memperluas dan memperkuat peran mereka untuk memerangi ISIS.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Turki, Mevlet Cavusoglu, mengatakan kepada koran Yeni Safak bahwa Arab Saudi telah melakukan pemeriksaan di pangkalan udara. Langkah tersebut dalam persiapan untuk mengirim pesawat tambahan ke pangkalan udara Turki. Kemudian, Riyadh juga mengatakan siap mengerahkan pasukan darat ke Suriah, guna melawan ISIS, jika pemimpin koalisi menyetujui tawaran mereka.

Baca lanjutannya: Perang Dunia III dan Kisah Akhir Zaman (2)