Pentingnya Sikap Gigih dan Pantang Menyerah (3)

 Pentingnya Sikap Gigih dan Pantang Menyerah

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Pentingnya Sikap Gigih dan Pantang Menyerah 2). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Hari menjelang sore ketika Hasan sampai di pintu gerbang kantor itu, dan di pagarnya masih tertempel sebuah papan berisi tulisan tak ada lowongan. Hasan pun nekat. Ia merasa sudah terlanjur basah datang kembali ke kantor ini. Dengan hati dag-dig-dug ia kembali menuju ke pos satpam di dekat pintu gerbang dan menyampaikan maksudnya.

Ajaib, satpam yang beberapa hari yang lalu menghardiknya dengan kasar itu kali ini tersenyum dan mempersilakannya masuk untuk menemui direkturnya. Hasan masih ragu-ragu. Ia kembali menengok ke pagar besi di depan dan matanya masih melihat papan karton ‘tak ada lowongan’ itu masih tertera di sana.

“Ap... apakah ada lowongan?” tanya Hasan terbata-bata.

Satpam itu menjawab, “Itu bukan wewenang kami untuk menjawabnya, tapi Anda bisa menanyakannya sendiri pada direktur kami di kantornya.”

Maka Hasan pun melangkah memasuki kantor itu. Saat sampai di depan pintu kantor direktur, ia ragu-ragu. Tetapi sejenak kemudian, ia memberani-kan diri mengetuk pintunya. Suara dari dalam memerintahkannya untuk masuk, dan dengan tangan gemetar Hasan pun memutar handel pintu.

Saat pintu terbuka, Hasan mendapati lelaki setengah baya yang kemarin berbicara dengannya di masjid tengah duduk di kursi dan tengah tersenyum kepadanya. Dia direkturnya!

Lelaki setengah baya, sang direktur itu, berdiri menyambut Hasan, mengulurkan tangannya, dan mempersilakannya duduk. Katanya dengan tersenyum, “Ketika pertama kali mendengar ceritamu dan juga tekadmu, saya tahu bahwa orang seperti kamulah yang saya inginkan untuk bisa membantu saya di kantor ini.”

Dan sore itu juga, Hasan diterima bekerja di perusahaannya!

Sebagai awal, Hasan hanya dipekerjakan sebagai juru tulis yang mengetik dan merekap semua surat yang masuk dan keluar pada perusahaan itu. Itu pekerjaan yang bisa dikerjakannya karena dia juga harus membagi waktunya untuk kuliah. Namun kemudian, karena melihat ketekunan dan ketelitiannya, Hasan pun diberikan pekerjaan yang lebih besar, yakni mengurus pembukuan perusahaan itu, menggantikan tenaga pembukuan yang telah naik posisi. Itu pekerjaan yang lebih besar dan lebih menuntut banyak waktu.

Karena tidak bisa memberikan semua waktunya di siang hari, Hasan pun mengusulkan untuk memberikan waktunya saat malam hari agar jam kerjanya sama dengan karyawan yang lain. Usul itu diterima dengan lapang hati oleh sang direktur, dan semenjak itulah, Hasan bekerja sampai malam hari, bahkan terkadang sampai tertidur di kantornya.

Saat saya menuliskan kisah ini, Hasan Rumuzi telah diangkat menjadi asisten manajer, dan dia juga tengah menggarap skripsinya. Tidak lama lagi kuliahnya akan selesai dan ia telah mendapatkan pekerjaan yang cukup menjamin kehidupannya. Apa yang akan terjadi pada mahasiswa yang gigih dan pantang menyerah ini? Saya tahu bahwa di dunia ini ada nasib baik dan nasib buruk, tetapi saya juga tahu bahwa nasib baik selalu mengikuti kepada orang-orang yang memiliki niat baik dan impian yang baik.

Hari-hari kemarin, saat teman-temannya tengah asyik bercanda dengan pacar atau teman-temannya yang lain di kantin seusai jam kuliah, Hasan harus berjalan kesana-kemari untuk mencari pekerjaan demi hidup dan impiannya. Saat teman-temannya menonton sinetron, jalan-jalan ke swalayan atau kencan di pinggir pantai, Hasan masih bekerja hingga larut malam di tengah kantuk dan kelelahannya. Ketika teman-temannya asyik berkirim SMS dan main game di ponselnya, Hasan masih harus menabung demi membantu ibu dan adik-adiknya.

Tetapi besok, ketika ratusan mahasiswa itu diwisuda untuk memperoleh gelarnya, ketika kemudian mereka menghadapi kenyataan hidup yang sesungguhnya, ketika mereka harus kesana-kemari mencari pekerjaan karena terdesak oleh status akademisnya, ketika mereka melihat bahwa ternyata hidup tak seindah seperti yang dibayangkan di bangku kuliah, ketika teman-temannya baru mulai membangun hidupnya, Hasan telah memperoleh impiannya...

Karena itu, benar sekali apa yang dikatakan oleh Waite Phillips, “Tidak ada apapun yang berharga yang pernah dicapai tanpa kemauan untuk memulai, semangat untuk meneruskan, dan kegigihan untuk menyelesaikan.”

Untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan, diperlukan tidak saja pembelajaran, ketekunan dan kerja keras, namun juga kegigihan yang pantang menyerah!

Baca lanjutannya: Memahami Berpikir Positif dan Bersikap Positif