Pentingnya Sikap Gigih dan Pantang Menyerah (2)

 Pentingnya Sikap Gigih dan Pantang Menyerah

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Pentingnya Sikap Gigih dan Pantang Menyerah 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Ia menjual sepedanya. Satu-satunya hartanya yang paling berharga, yang telah menemaninya selama ini mengantarkan koran dan mencari lowongan pekerjaan, kini harus dilepasnya. Hasil penjualan sepeda itu tidak mencukupi, namun ada seorang teman yang kemudian memberikan bantuan hutang untuknya. Yang pasti, Hasan bisa membayar uang kuliah semester ini.

Selesai? Tidak, karena bagaimanapun dia harus segera memperoleh pekerjaan untuk menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari, dan sekaligus membayar hutangnya pada kawannya, dan juga membantu ibu serta adik-adiknya. Maka Hasan pun kembali pergi kesana-kemari, keluar-masuk kantor demi kantor perusahaan untuk menawarkan surat lamarannya. Kali ini dia tidak lagi menggunakan sepeda, namun jalan kaki. Panas dan capek terus mengikutinya setiap selepas kuliah, namun pekerjaan yang dicari tak juga ditemui.

Siang menjelang sore hari itu, mahasiswa yang gigih dan pantang menyerah ini merasa begitu kecapekan. Tubuhnya berkeringat, dan perutnya lapar bukan main karena semenjak pagi belum terisi makanan. Baju yang dikenakannya seperti lengket di tubuhnya, dan Hasan pun kemudian me-mutuskan untuk beristirahat sejenak di masjid besar di kota kami, sekalian untuk menunaikan sholat ashar.

Begitu sampai di pintu luar masjid, Hasan segera menyandarkan tubuhnya pada tembok, dan ia duduk dengan napas ngos-ngosan. Dinginnya angin yang membelai dinding-dinding masjid sedikit menyejukkan wajahnya yang kepanasan, dan Hasan pun merasa sedikit tenang.

Hasan masih duduk beristirahat ketika dari dalam masjid seorang lelaki setengah baya datang menuju ke tempatnya. Ia sepertinya baru melaksanakan sholat ashar dan akan keluar dari masjid untuk pulang. Ketika melihat Hasan yang tengah duduk dengan tubuh penuh keringat dan kepanasan, lelaki itu pun menghentikan langkahnya dan kemudian duduk di samping Hasan.

Dengan heran ia bertanya tentang keadaan Hasan itu, dan Hasan pun dengan jujur menceritakan kalau dia baru saja berkeliling kesana-kemari untuk mencari pekerjaan. Mungkin karena merasa ada seseorang yang mau men-dengarkannya, Hasan pun kemudian dengan terbuka menceritakan keadaan-nya, dan juga beban hidup yang harus ditanggungnya.

“Apa pekerjaan yang kamu inginkan?” tanya lelaki itu.

Hasan menjawab, “Saya mau bekerja apa saja asal halal, agar saya bisa membantu ibu dan adik-adik saya, sekaligus dapat menyelesaikan kuliah saya.”

Lelaki itu nampak terkesan, namun ia hanya mengatakan bahwa di salah satu perusahaan di daerah selatan kota ada yang masih menerima lowongan. Saat lelaki itu menyebutkan nama perusahaannya, Hasan menjawab dengan tak bersemangat bahwa ia pun sudah datang kesana dan mendapati sebuah tulisan besar berbunyi “TIDAK ADA LOWONGAN”. Satpam di sana pun menepiskannya dengan tidak sopan saat ia datang.

Lelaki setengah baya itu tersenyum. Mungkin ia mencoba membesarkan hati Hasan dan menasihatinya untuk mencobanya kembali. Hasan hanya menjawab bahwa ia akan mencobanya, namun dalam hati ia tidak terlalu berharap.

Mereka pun kemudian berpisah. Hasan beranjak untuk mengambil air wudhu untuk sholat ashar, dan lelaki setengah baya itu pun pulang meninggalkan masjid.

Besoknya Hasan merasa bingung. Ia sudah merasa bahwa seluruh kantor perusahaan di kota ini telah didatanginya dan semuanya memberikan jawaban yang sama; tidak ada lowongan. Kemana lagi ia harus membawa surat lamarannya? Ketika ingat pada nasihat laki-laki setengah baya kemarin, Hasan hanya tersenyum kecut. Ia merasa bahwa lelaki itu hanya mencoba menghibur dan membesarkan hatinya. Tapi...apa salahnya kalau dicoba?

Maka Hasan pun kemudian memutuskan untuk kembali ke sana, ke kantor perusahaan yang pernah didatanginya, yang pernah dengan jelas menolak lamarannya. Ini adalah perjalanan yang cukup jauh, namun Hasan menempuhnya dengan berjalan kaki, karena tak ada uang untuk membayar angkot.

Baca lanjutannya: Pentingnya Sikap Gigih dan Pantang Menyerah (3)