Pentingnya Sikap Gigih dan Pantang Menyerah (1)

Pentingnya Sikap Gigih dan Pantang Menyerah

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Keajaiban Kerja Keras dan Ketekunan). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Winston Churchill dianggap sebagai salah satu Perdana Menteri Inggris yang terbesar. Ia memimpin Inggris dari jurang kehancuran Perang Dunia kedua, dan  karena perpecahan serta perang saudara.

Ketika Inggris mulai memasuki masa damai dan tenteram, sekolah dasar tempat dulu Churchill bersekolah mengundangnya untuk menyampaikan pidato kepada murid-murid di sekolah itu. Saat itu, kepala sekolah me-merintahkan kepada semua murid agar mempersiapkan kertas dan mencatat semua yang diucapkan oleh Perdana Menteri mereka karena sesaat lagi mereka akan mendengar ucapan dari salah satu orang Inggris yang terbesar yang masih hidup.

Winston Churchill melangkah ke atas panggung dan memandang ke wajah-wajah polos anak-anak yang tengah memandang ke arahnya. Ia tahu, bahwa kehidupan anak-anak itu akan berisi banyak kesempatan sekaligus tantangan yang akan menghadang jalan mereka. Karenanya, ketika ia mulai berpidato, seluruh orasinya hanya kata-kata, “Jangan pernah menyerah...! Jangan pernah menyerah...! Dan jangan sekali-kali menyerah...!!!”

Salah satu orang yang telah menikmati hasil dari apa yang diteriakkan oleh Winston Churchill bertahun-tahun yang lalu itu adalah Hasan Rumuzi, salah satu teman sekampus saya. Ia kuliah di kampus kami dengan membawa satu impian besar, ingin membangun hidup yang lebih baik dengan modal pendidikannya. Ayahnya sudah tiada, sementara ibunya hanya bekerja sebagai pembantu. Adik-adiknya putus sekolah, dan ia kuliah pun dengan uang hasil keringat sendiri yang ia dapatkan sebagai loper koran sore hari sepulang dari kuliah.

Ketika perekonomian negeri ini semakin memburuk, para pelanggan koran di kota kami pun satu persatu memutuskan langganannya karena mungkin terkena imbas dari terpuruknya ekonomi. Jumlah pelanggan koran yang biasa dilayani oleh Hasan menyusut drastis dari hari ke hari, dan ketika jumlahnya tidak memadai lagi, agen tempat Hasan bernaung pun memutuskan untuk memberhentikan Hasan dan melebur pelanggannya dengan loper yang lain.

Hasan Rumuzi kebingungan, bahkan mulai panik. Penghasilannya dari bekerja sebagai loper koran itu ia gunakan untuk membayar biaya semesteran sekaligus untuk makan dan menutupi kebutuhan kuliahnya. Kini pekerjaan satu-satunya yang dijadikan untuk menyambung hidup itu telah tak ada lagi, sementara kebutuhan hidup terus saja berjalan. Apa yang harus dilakukan-nya?

Nah, ia tidak menyerah! Ia tahu bahwa nasib hidupnya tidak tergantung kepada siapapun selain kepada dirinya sendiri, karenanya dia harus secepat mungkin melakukan tindakan. Hasan segera membuat surat lamaran, dan seusai mengikuti kuliah, ia pun mengayuh sepedanya, sepeda yang biasa ia gunakan untuk mengantarkan koran, untuk mendatangi perusahaan-perusahaan yang ia harapkan bisa menerimanya bekerja.

Satu persatu perusahaan itu didatanginya, dan satu persatu pula mereka menampiknya. “Kami belum membutuhkan karyawan baru”, “Wah, maaf sekali, kami belum bisa menerima lamaran Anda”, “Kami baru saja mem-berhentikan beberapa karyawan kami yang lama karena perusahaan kami tengah melakukan perampingan”, adalah jawaban-jawaban yang sudah kenyang didengar telinganya. Intinya, lamarannya ditolak dan Hasan masih harus mencari.

Sampai kemudian waktu pembayaran SPP pun tiba, dan Hasan belum juga memperoleh pekerjaan. Ia masih luntang-lantung kesana-kemari dengan map lusuh dan sepedanya untuk mencari lowongan kerja. Di kampus kami memberlakukan aturan; pembayaran SPP dibatasi pada suatu tanggal yang telah ditentukan, dan apabila lewat dari tanggal itu, maka mahasiswa yang bersangkutan dihitung cuti. Ini yang benar-benar ditakutkan oleh Hasan. Dia tidak bisa membayar SPP semester ini, dan dia pun tak ingin cuti karena itu hanya akan membuatnya semakin lama di kampus. Apa yang harus diperbuatnya?

Baca lanjutannya: Pentingnya Sikap Gigih dan Pantang Menyerah (2)