Pentingnya Meyakini Pertolongan Tuhan (2)

  Pentingnya Meyakini Pertolongan Tuhan

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Pentingnya Meyakini Pertolongan Tuhan 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

John Galbreath, seorang tokoh bisnis terkemuka dari Columbia, memulai hidupnya dari seorang anak yang sangat miskin. Ketika dia mencapai puncak kesuksesannya, dia pernah ditanyai oleh seorang wartawan, “Mr. Galbreath, apa yang harus dilakukan untuk bisa menjadi orang yang berhasil?”

Galbreath menjawab, “Jadilah orang beriman. Milikilah keinginan yang kuat untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan, lalu kerja keraslah. Kerja, kerja, kerja, dan selalu percayalah kepada Tuhan.”

Perjalanan menuju impian tentu bukan jalan yang selamanya indah ber-tabur bunga. Bahkan, perjalanan ini akan lebih sering menanjak, penuh kerikil tajam yang dapat membuat kaki kita berdarah, penuh onak dan duri yang sewaktu-waktu bisa menyakitkan telapak kaki kita.

Tetapi itu pulalah yang menjadikan setiap impian nampak begitu berharga setelah kita mencapainya. Bukankah sesuatu yang sulit didapat akan nampak semakin berharga ketika kita telah berhasil memperolehnya? Dan itu pulalah harga yang harus dibayar untuk setiap impian.

Tidak ada impian yang gampang diwujudkan, karenanya lebih banyak orang yang lebih memilih tidak punya impian sama sekali daripada memiliki impian dan kemudian menjadi kecewa karena tak mampu meraihnya. Tapi, apa sih yang paling menggairahkan dalam hidup ini selain upaya mewujud-kan impian, mengejar cita-cita? Impian menjadikan hidup kita terasa lebih bermakna, cita-cita membuat hidup yang kita jalani menjadi lebih bernilai.

Ketika hidup kita mengalami kesusahan dan kemunduran, impian yang menjadi harapan kita akan menolong jiwa kita untuk terus bertahan. Ketika kehidupan yang kita jalani terasa begitu berat dan menekan, cita-cita akan menyegarkan pikiran kita hingga kita kembali bergairah dalam hidup. Kebahagiaan dan penderitaan dalam hidup ini terus datang silih berganti, dan itu tepat berpusar di tengah-tengah impian hidup yang kita jalani.

Salah satu ayat favorit saya dalam al-Qur’an adalah surat al-Insyirah (94) ayat 5 dan 6. Di situ Tuhan berfirman, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan, dan sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan.” Sampai dua kali berturut-turut Tuhan menyatakan janji-Nya. Ini membuktikan bahwa benarlah kalau kehidupan tak akan berjalan secara statis.

Dunia terus berputar dan terus membawa manusia pada aneka bentuk rasa kehidupan. Kadang manis, kadang pahit, kadang getir. Kadang bahagia, kadang sedih. Kadang berhasil, kadang juga gagal. Tetapi yakinilah selalu bahwa kesedihan tak akan selamanya, kegagalan dan kekalahan tak akan melewatkan masanya.

Bukankah Tuhan telah menempatkan posisi yang aman kepada kita? Kita hanya wajib berusaha, namun hasilnya akan ditentukan oleh Tuhan. Dan ‘hasil’ ini memang terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki, namun Tuhan tahu betul bahwa itulah yang paling baik untuk hidup kita, hanya kita perlu berjiwa besar untuk menerimanya.

Bayangkan, bagaimana beratnya beban manusia jika setiap kita wajib berusaha sekaligus wajib menentukan hasilnya? Bahkan untuk hanya memiliki impian saja tidak setiap orang mampu, apalagi harus dibebani dengan kewajiban untuk menentukan hasil impiannya!

Tetaplah miliki impian dan teruslah berusaha untuk mengejarnya, dan setelah itu... serahkanlah kepada Tuhan bagaimana hasilnya.

Norman Vincent Peale mengatakannya dengan cukup baik, “Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita, jauh lebih banyak daripada yang kita ketahui...” Nah, apa yang menjadi intisarinya? Hanya ini; selalu berbaik sangka kepada Tuhan. Yakinilah dengan sepenuh hati bahwa apapun yang terjadi dalam hidup ini adalah bagian dari rencana Tuhan untuk memberi yang terbaik dalam hidup kita.

Tuhan Yang Maha Besar akan memberikan segala yang terbaik, segala yang terbesar dalam hidup ini menurut kesiapan mental kita. Kalau kita datang ke gudang karunia-Nya dengan membawa sebuah tas kecil, kita pun akan mendapatkan sebanyak tas kecil.

Kalau kita datang dengan membawa gerobak, kita akan memperoleh sebesar tempat yang kita bawa. Kalau kita datang dengan membawa truk muatan, kita pun akan menerima muatan sepenuh isi truk. Kita hanya bisa menerima menurut besar kecilnya keyakinan dalam pikiran kita, dalam hati kita. Karena itu, selalulah berpikir besar, berhati besar.