Pentingnya Meyakini Pertolongan Tuhan (1)

Pentingnya Meyakini Pertolongan Tuhan

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Memahami Berpikir Positif dan Bersikap Positif). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Kita sudah seringkali mendengar kata-kata ini, “Manusia hanya bisa berusaha, namun Tuhanlah yang menentukan.” Berapa kali kamu mendengar kata-kata itu diucapkan? Saya sudah tak bisa lagi menghitungnya karena sudah terlalu banyak telinga saya mendengar kata-kata itu. Nah, apa sebenarnya maksud dari kata-kata itu? Kepasrahan? Sikap menerima tanpa berbuat?

Itu sebenarnya adalah kata-kata yang penuh motivasi, namun seringkali disalahartikan sebagai kata-kata yang justru melemahkan semangat. Ada cukup banyak orang yang mengatakan, “Alah, buat apa sih kita terlalu repot bekerja keras? Kalau Tuhan sudah menentukan kamu kaya ya kaya, tapi kalau Tuhan sudah memutuskan kamu miskin ya bakalan tetap miskin!”

Manusia hanya bisa berusaha, benar! Tuhanlah yang menentukan, benar! Tetapi ingat, bahwa Tuhan adalah Dzat yang Maha Adil. Tuhan tidak akan menurun-kan emas dari langit kepada orang yang hanya ongkang-ongkang kaki, Tuhan juga tidak akan menjerumuskan orang yang sungguh-sungguh ingin mem-perbaiki hidupnya.

Manusia memang hanya bisa berusaha, karena memang itulah yang menjadi kewajiban manusia; berusaha! Tetapi Tuhanlah yang menentukan, karena memang itulah hak Tuhan, agar manusia selalu ingat kepada-Nya. Jadi pengertian bahwa ‘manusia hanya bisa berusaha sedang Tuhanlah yang menentukan’ itu jangan dipahami secara salah kaprah.

Pernah dengar tentang kisah bagaimana ditemukannya Penisilin? Kisah ini akan sedikit menunjukkan kepada kita bagaimana Tuhan ikut berperan dalam impian hidup manusia.

Pada tahun 1982, Alexander Fleming, seorang ahli bakteri berkebangsaan Inggris, tengah khusyuk bekerja di laboratorium St. Mary’s Hospital di London. Dia tengah begitu serius untuk menciptakan obat-obatan baru bagi penyakit-penyakit yang baru muncul pada saat itu yang belum ditemukan obatnya.

Nah, pada suatu hari, saat akan meninggalkan laboratorium untuk kembali ke rumah, Alexander Fleming lupa menutup salah satu tabung kecilnya yang berisi bakteri. Sebuah jamur yang sedang melayang kemudian mendarat tepat di tabung itu, dan mulai tumbuh, serta menghambat perkembangan bakteri yang tengah diteliti oleh Fleming.

Sampai saat itu, Fleming tak menyadari hal tersebut. Tapi dari situlah kemudian Alexander Fleming menemukan Penisilin, suatu obat yang sangat membantu dalam banyak pengobatan umat manusia.

Kalau bertolak dari kisah tersebut, rasanya kita bisa menganggap bahwa penemuan itu hanya berdasar nasib baik ketimbang upayanya sendiri. Tapi mungkinkah ‘nasib baik’ itu akan datang kalau Alexander Fleming tak pernah melakukan satu penelitian sama sekali? Nasib baik memang terkadang meng-hampiri, tetapi dia hanya datang bila kita memang telah bersiap menyongsong kehadirannya.

Tuhan terkadang ikut bermain dalam menentukan jalan yang akan di-tempuh oleh seseorang dalam upaya mewujudkan impiannya. Dan peran Tuhan itu kemudian lebih dikenal sebagai nasib baik. Namun sebagaimana Fleming yang tanpa sengaja menemukan Penisilin, nasib baik yang datang dari Tuhan hanya akan hadir ketika kita memang telah melakukan suatu usaha, ketika kita telah melakukan suatu upaya.

Kisah lain yang menunjukkan bagaimana Tuhan ikut bermain dalam mewujudkan impian seseorang adalah kisah penulis Theodor S. Geisel.

Theodor S. Geisel menulis sebuah buku anak-anak yang berjudul And to Think that I Saw it on Mulberry Street. Dia begitu yakin bahwa apa yang telah ditulisnya itu begitu hebat dan layak diterbitkan, tapi sebanyak 27 penerbit telah menolak karyanya. Dia tak putus asa. Dia terus keluar masuk kantor penerbit untuk menawarkan karyanya itu dan berharap ada satu yang mau menerbitkannya.

Sampai kemudian, saat dia telah kelelahan dan tengah berjalan menuju apartemennya, dia pun sudah nekat untuk membuang naskahnya itu ke keranjang sampah. Tetapi di tengah perjalanan dia kemudian bertemu dengan seorang teman lamanya, Mike McClintock. Mereka pun bersalaman dan saling melepas kangen.

Mike bertanya apa pekerjaan Geisel, dan Geisel pun men-ceritakan tentang keinginannya menjadi penulis dan tentang naskah cerita anak-anak yang telah ditulisnya yang tak juga memperoleh penerbit yang mau menerbitkannya.

Tanpa diduga Geisel sama sekali, ternyata Mike saat itu tengah bekerja menjadi seorang editor buku anak-anak. Maka Mike pun langsung mengajak-nya ke kantornya, dan dua puluh menit kemudian, Geisel telah menjadi pengarang yang sah melalui surat kontrak. Hari ini, jutaan anak-anak di dunia bisa menikmati cerita-cerita karangan Theodor S. Geisel, atau yang biasa dikenal dengan nama Dr. Seuss.

Apakah kesuksesan Theodor S. Geisel adalah karena takdir atau nasib baik? Barangkali iya. Tapi rasanya takdir atau nasib baik itu tak akan pernah menghampiri Geisel kalau dia hanya duduk santai, malas dan ongkang-ongkang kaki saja di rumahnya!

Baca lanjutannya: Pentingnya Meyakini Pertolongan Tuhan (2)