PBB Berusaha Meredam Pecahnya Perang Dunia III

PBB Berusaha Meredam Pecahnya Perang Dunia III

BIBLIOTIKA - Makin memanasnya konflik di Suriah, apalagi dengan keterlibatan banyak negara di dalamnya, menjadikan situasi politik dunia ikut memanas. Hal itu, dikhawatirkan banyak pihak, akan menjadi pemicu terjadinya perang besar-besaran secara global, akibat banyak negara yang memiliki kepentingan dalam konflik yang terjadi di Suriah. Menyadari hal itu, PBB pun berusaha mengajak pihak-pihak yang bertikai di Suriah untuk kembali ke meja perundingan.

Pada Februari 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumpulkan 17 negara di Kota Munich, Jerman, untuk membahas masa depan Suriah bersama-sama. Pertemuan itu menjadi landasan perundingan damai yang sempat terhenti beberapa waktu sebelumnya. Beberapa negara yang hadir di pertemuan Munich di antaranya AS, Rusia, Inggris, Arab Saudi, Cina, Mesir, Prancis, Jerman, Iran, Irak, Italia, Yordania, Lebanon, serta perwakilan dari Liga Arab dan PBB.

Laporan Channel News Asia menyebutkan dua poin utama dihasilkan dari pertemuan di Munich. Pertama, adalah perlunya seluruh komunitas internasional mengirim bantuan kemanusiaan ke Suriah secepatnya.

“Kedua,” kata Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, yang memimpin forum di Munich, menyatakan, “kami sepakat menghentikan kekerasan di seluruh wilayah Suriah dalam sepekan mendatang. Tentu ini ambisius, tapi forum tadi sepakat bergerak secepat mungkin untuk mencapai target.”

John Kerry menambahkan, yang dimaksud penghentian kekerasan hanya menyasar antara pasukan pemberontak dan loyalis Presiden Assad. Sedangkan gempuran AS dan Liga Arab terhadap basis Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) akan tetap dijalankan, karena ISIS terhitung organisasi teroris.

John Hammond, Menteri Luar Negeri Inggris, mendukung kesepakatan Munich. Menurutnya, ISIS akan terus kuat jika perang lain antara pemberontak Suriah dan pasukan pemerintah tetap terjadi.

Dmitry Medvedev, Perdana Menteri Rusia, yang juga hadir di Munich, mendukung sikap 17 negara dalam pertemuan tersebut. Namun, dia menyoroti langkah yang dilakukan negara Barat dan Liga Arab untuk mewujudkan penghentian kontak senjata. Selama setahun terakhir, menurutnya, Rusia melindungi Presiden Assad dari gempuran pemberontak.

Medvedev mengatakan, gencatan senjata hanya bisa terjadi bila pasukan pemberontak juga serius diminta tidak lagi menyerang loyalis Assad. Rusia khawatir, AS dan Liga Arab akan berat sebelah, dan hanya memaksa pemerintah Suriah yang berhenti menembak. Ketika konflik Suriah berkepanjangan, Moskow khawatir bibit Perang Dunia III sudah tersemai. Apalagi Rusia mendengar Arab Saudi akan mengirim beberapa batalion pasukan darat ke Suriah dalam waktu dekat, dengan alasan menyerang ISIS.

Karena itulah, Medvedev menyatakan, “Semua pihak harus duduk di meja perundingan, bukan melancarkan perang dunia yang baru.”

Sebenarnya, pada awal Februari 2016, pemberontak dan perwakilan Assad telah bertemu di Jenewa. Namun, perundingan hanya bertahan tiga hari. Pemberontak yang diwakili Komite Tinggi Negosiasi (HNC) menuding Rusia terus membantu pemerintah Suriah untuk membombardir basis oposisi. Dilaporkan, serangan udara jet Rusia telah menewaskan 500 warga di kota-kota yang anti-Assad.

Perang saudara di Suriah bermula pada 2011. Pada waktu itu, pemerintahan Assad—yang dikuasai faksi Syiah alawite—menindas aksi unjuk rasa para pemeluk Sunni di wilayah utara dan selatan negara itu, ketika terjadi resesi ekonomi. Kekerasan dan penculikan aktivis oleh Rezim Assad memaksa warga sipil mempersenjatai diri, lalu mengobarkan perang saudara.

Dalam catatan pemantau HAM Suriah (SOHR), jumlah korban tewas karena peperangan selama empat tahun terakhir mencapai 250.124 orang. Di antara jumlah tersebut, sebanyak 74.426 adalah warga sipil.