Panduan Mengubah Impian Menjadi Kenyataan (3)

 Panduan Mengubah Impian Menjadi Kenyataan

BIBLIOTIKA - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Panduan Mengubah Impian Menjadi Kenyataan 2). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Kalau kamu memang sudah terobsesi dengan impianmu dan kamu rela mengorbankan apapun dan melakukan apapun (yang positif) demi ter-wujudnya impianmu, dan apabila kamu menderita kegagalan kamu tidak putus asa dan kembali bangkit dari kejatuhanmu untuk terus memperjuangkan impianmu hingga berhasil, rasanya negeri ini perlu berterima kasih kepadamu. Karena seperti yang dikatakan Robert Reichi, “Aset utama sebuah negara adalah keahlian dan wawasan yang dimiliki oleh warga negaranya.”

Tetapkanlah impian pada tempatnya yang kamu yakini bisa kamu raih.

Impian harus bisa diukur

Dalam sebuah acara infotainment di televisi, saya pernah menyaksikan seorang artis pendatang baru diwawancarai oleh presenter acara itu dengan pertanyaan, “Dengan telah menjadi seorang artis seperti ini, apakah itu berarti impian kamu telah tercapai?” Dan artis pendatang pendatang baru itu menjawab, setelah sebelumnya tersenyum, “Wah, saya sendiri juga tidak tahu apakah impian saya telah tercapai ataukah belum.”

Tetapkanlah impian yang tidak membingungkan. Cita-cita atau impian memiliki nilai jika impian atau cita-cita itu menolongmu memperbaiki diri sendiri dan mengembangkan potensimu. Itulah sebabnya impianmu harus dapat diukur. Karenanya, ungkapkanlah seobyektif mungkin supaya kamu mampu menjawab dengan sederhana “Ya” atau “Tidak” ketika ditanya apakah kamu telah mencapai atau meraih impianmu.

Setiap orang memiliki target impiannya sendiri, yang tentunya berbeda dengan orang lain. Karenanya, kamu pun tentu memiliki ukuran impianmu sendiri, dan kamu tidak perlu terpengaruh oleh impian orang lain, atau merasa lebih kecil dari impian orang lain. Yang akan mengukur apakah impianmu telah tercapai ataukah belum bukanlah orang lain, tetapi dirimu sendiri.

Sebagaimana artis pendatang baru di atas, yang mengukur apakah impiannya telah tercapai ataukah belum bukanlah sang presenter acara televisi itu, juga bukan para penonton atau penggemar sinetronnya, tetapi si artis itu sendiri. Karenanya, benar sekali apa yang diucapkan oleh Og Mandino, “Hanya manusia, masing-masing dengan caranya sendiri, yang mempunyai keputusan akhir tentang bagaimana kehidupannya akan di-hayati.”

Karena itu, tetapkanlah impianmu sejelas mungkin, karena dengan itulah kamu akan menghayati hidupmu.

Impian harus sensitif terhadap waktu

Sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan, saya harus menghadapi tugas rutin setiap hari dalam setiap mata kuliah, yakni presentasi. Setiap kali mempresentasikan makalah berisi suatu bab mata kuliah, saya juga harus memfotokopi makalah itu untuk dibagikan kepada teman-teman sekelas agar mereka bisa menyimak dengan baik selama saya melakukan presentasi. Jadi pekerjaan memfotokopi makalah juga menjadi tugas rutin selain tugas presentasi di depan kelas.  

Nah, malam itu saya pergi ke sebuah tempat fotokopi langganan saya untuk memfotokopi makalah yang besok akan dipresentasikan. Saya tinggal-kan fotokopian itu karena pikir saya, besok akan saya ambil sekalian saya berangkat kuliah. Tapi saya melakukan kesalahan besar; saya tidak mengatakan kapan waktunya saya akan mengambil fotokopian itu!

Akibatnya, besok paginya, ketika saya datang ke tempat fotokopi tersebut, makalah saya belum disentuh sedikit pun. Saya dongkol bukan main, tapi petugas fotokopi itu cuma bilang, “Lho, Mas-nya kan nggak bilang ini mau diambil kapan? Saya pikir ini masih lama diambilnya.” Maka saya pun harus menunggu selama satu jam di tempat fotokopi itu, dan otomatis saya terlambat masuk kelas selama setengah jam!

Cita-cita bisa dikatakan sebagai impian dengan batas waktu. Karena tanpa batas waktu, banyak cita-cita yang tidak pernah beralih dari impian menjadi kenyataan. Saat kamu menentukan impian yang kamu inginkan, tentukan pula batas waktu yang kamu tetapkan. Ini penting, karena jika kamu tidak mau melakukannya, kamu justru akan menghadapi masalah. Karena jangan-kan untuk sebuah impian, bahkan untuk memfotokopi makalah pun kamu harus menentukan batas waktunya!

“Sukses itu,” kata Art Mortell, “diawali oleh harapan kita, dipengaruhi oleh pikiran kita, dan ditentukan oleh kerja keras kita.”

Tetapkan batas waktu bagi impianmu, lalu... kejarlah impian itu!