Panduan Mengubah Impian Menjadi Kenyataan (1)

Panduan Mengubah Impian Menjadi Kenyataan (2)

BIBLIOTIKA - Setelah kita menentukan apa tujuan yang kita inginkan dalam hidup, setelah kita menetapkan apa yang menjadi impian kita, maka, apa lagi yang harus kita lakukan? Kita harus mengidentifikasikan impian kita, karena inilah peta jalan menuju sukses! Tanpa identifikasi yang jelas, impian tetap hanya akan tinggal impian.

Gunakan petunjuk berikut ini untuk menetapkan cita-cita atau impianmu pada sasaran. Cita-cita atau impian haruslah seperti ini:

Impian harus ditulis

Saya sudah berulang-ulang kali mendengar orang yang mengatakan, “Oh, saya ingin melakukan itu nanti kalau saya sudah ada waktu...”, atau, “Itu sudah menjadi keinginan saya, hanya saja mungkin belum bisa dilaksanakan pada saat seperti sekarang ini...”

Biasanya, ucapan-ucapan keinginan semacam itu tidak pernah terealisasi. Memang terdengar hebat, bahkan terdengar logis, tetapi itu biasanya hanya akan tinggal sebagai keinginan. Mengapa? Karena orang-orang yang meng-ucapkannya pun biasanya tidak terlalu serius dan bersungguh-sungguh dengan apa yang diucapkan dan diinginkannya.

Jadi, kamu harus serius dan bersungguh-sungguh dengan impianmu. Dan salah satu perwujudan keseriusan serta kesungguhanmu dengan impian yang kamu tuju adalah dengan menuliskannya. Mengapa impian harus ditulis? Filsuf besar Confucius menyatakan jawabannya, “Karena tinta yang paling pudar akan bertahan lama daripada ingatan yang paling kuat.”

Ya, kamu harus menuliskan impianmu, karena dengan menuliskannya, kamu akan tahu dan mengenali impian macam apa yang tengah kamu tuju. Melalui tulisan itu, identifikasikan secara menyeluruh dari apa yang menjadi impianmu. Jangan hanya menuliskan “Saya ingin menjadi dokter”, tetapi tuliskan juga rencana dan langkah-langkah pasti yang harus kamu lalui untuk bisa menjadi seorang dokter.

Dengan menuliskan hal-hal tersebut, kamu akan memiliki sebuah pegangan yang kuat yang akan terus memandu langkahmu untuk sampai pada tujuan atau impian itu. Ini akan menjadi semacam peta atau kompas yang akan menunjukkan arah mana yang harus kamu tempuh agar kamu tidak tersesat menuju keinginanmu.

Herbert Spencer mengatakan hal ini dengan, “Kita tidak berpikir secara umum dan abstrak, melainkan dengan gambar-gambar.” Nah, impian yang ditulis beserta identifikasinya akan memberikan kita gambaran-gambaran mengenai apa yang kita inginkan, sekaligus menunjukkan bagaimana cara kita untuk memperolehnya.

Bayangkan kalau misalnya suatu hari pada jam pelajaran kamu diperintah oleh guru seni lukismu untuk melukis sebuah pemandangan. Apa yang kemudian muncul dalam pikiranmu? Abstrak! Tidak jelas!

‘Pemandangan’ bisa menjadi seperti apa saja, atau tentang apa saja, bukan? Pemandangan bisa menjadi pemandangan pantai, pemandangan laut, pemandangan gunung, pemandangan sawah, pemandangan hutan, bahkan pemandangan kota!  Untuk bisa memperoleh gambaran pasti dari apa yang disebut sebagai ‘pemandangan’, kamu harus membayangkan beberapa hal yang berkaitan dengan itu.

Bayangkanlah sebuah pemandangan, maka kamu akan bingung untuk melukiskannya. Tapi bayangkanlah sebuah gunung, matahari yang mulai muncul, pohon-pohonan, jalan yang berliku-liku, persawahan, dan kamu pun akan segera melukiskan pemandangan gunung.

Nah, itulah perlunya gambaran yang jelas mengenai sesuatu yang dituju, dan mengapa kamu harus menuliskannya. Dengan dituliskan, hal-hal yang pada mulanya abstrak dan tidak jelas akan menjadi jelas dan konkrit.

Selain itu, dengan menuliskannya, kamu akan lebih bertanggung jawab dengan impianmu. Tidak seperti orang-orang yang hanya mengatakan, “Saya ingin ini atau saya ingin itu”, impian yang dituliskan akan membuatmu terus diingat-kan bahwa kamu memiliki sebuah impian...yang harus diwujudkan. Karena itu, tuliskanlah impianmu.

Impian harus bersifat pribadi

Penerbang Amerika, Elinor Smith, pernah berkata, “Telah lama saya per-hatikan bahwa orang-orang berprestasi jarang duduk-duduk dan menantikan segalanya terjadi pada mereka. Mereka berbuat dan menjadikan segalanya terjadi.”

Bayangkan impian-impian atau keinginan-keinginan berikut ini: “Saya ingin menang lotere!”, “Saya ingin ditemukan oleh seorang pencari bakat!”, “Saya ingin seseorang datang untuk menawarkan pekerjaan kepada saya!”, “Saya ingin segera memperoleh warisan!”

Apa yang salah dengan impian-impian itu? Semua impian itu berada di luar kontrol atau kendali dari orang yang mengimpikannya! Inilah kesalahan umum yang sering dibuat orang, yakni dengan mengidentifikasikan sesuatu yang di luar kontrol atau di luar kendali sebagai cita-cita. Apakah mungkin kamu menggerakkan nasib agar undian yang kamu ikuti dapat kamu menangkan?

Apakah mungkin kamu dapat menggerakkan seorang pencari bakat untuk menemukanmu sekaligus melihat bakatmu dalam suatu talenta? Apakah wajar kalau hanya berdiam diri saja sambil berharap seseorang datang untuk menawarkan suatu pekerjaan kepadamu? Apakah wajar meng-harapkan suatu harta warisan dari orang yang tidak jelas kapan akan meninggalnya?

Baca lanjutannya: Panduan Mengubah Impian Menjadi Kenyataan (2)